Gelar SLG dan SLI di Deli Serdang, BBMKG Wilayah I Dorong Masyarakat Tanggap Bencana
- 26 Agt 2026 14:17 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Memperkuat koordinasi antara BMKG, para pemangku kepentingan di daerah, dan masyarakat, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I menggelar Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) dan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Deli Serdang 2026.
Kegiatan yang mengusung tema “Sinergi SLG & SLI: Kenali Gempabumi, Pahami Iklim, Sejuta Manfaat, Bangun Masyarakat Tangguh Menuju Indonesia Emas 2045” tersebut berlangsung di Wing Hotel Kualanamu, Deli Serdang, Senin, 24 Agustus 2026.

Kepala BBMKG Wilayah I, Hendro Nugroho, mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat dan para pemangku kepentingan mengenai mitigasi bencana, khususnya dalam menghadapi ancaman gempabumi serta memahami kondisi iklim.
Menurutnya, kawasan Kualanamu dipilih sebagai lokasi kegiatan karena keberadaan Bandara Internasional Kualanamu yang merupakan salah satu objek vital. Melalui kegiatan tersebut, BBMKG juga ingin mengukur kesiapan para pemangku kepentingan, termasuk petugas dan pengguna jasa bandara, dalam merespons apabila terjadi gempabumi.
“Bandara adalah objek vital yang kalau terjadi gempa bumi, respons dari penumpang atau respons dari stakeholder Kualanamu bagaimana, itu belum kita ukur. Dengan kegiatan ini kita dapat mengukur bagaimana kesiapan mereka dalam merespons adanya kejadian gempa bumi,” ujar Hendro.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya di kawasan Kualanamu, karena gempabumi merupakan peristiwa yang tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi.
Anggota Komisi V DPR RI, Musa Rajekshah, mengapresiasi pelaksanaan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Sekolah Lapang Iklim yang digelar BBMKG Wilayah I. Menurutnya, edukasi dan pemahaman mengenai mitigasi bencana menjadi hal penting agar masyarakat mengetahui langkah yang harus dilakukan saat menghadapi bencana, termasuk gempabumi.
Ia menilai penanganan dan mitigasi bencana tidak dapat hanya mengandalkan teknologi. Mengingat luasnya wilayah Indonesia, pemahaman masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko dan dampak bencana.
“Dengan Indonesia yang begitu luas, kita tidak bisa semata-mata hanya mengandalkan peralatan. Tidak bisa hanya mengandalkan balai besar BMKG yang ada di daerah-daerah, karena luas wilayah kita ini begitu besar,” kata Musa.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi terkait pembangunan rumah yang aman terhadap bencana. Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa pembangunan rumah tidak hanya sekadar menggunakan tembok dan bata, tetapi juga harus memperhatikan konstruksi bangunan, termasuk penggunaan balok dan tiang penyangga beton, terutama di wilayah yang memiliki potensi rawan bencana.
“Bukan hanya paham tentang bagaimana penyelamatan saat gempa atau bencana, tapi juga persiapan dalam membangun rumah. Jangan semata-mata hanya karena rumah tembok beton,” katanya.
Selain itu, Musa berharap edukasi dan pemahaman mengenai mitigasi bencana dapat terus diperluas agar semakin banyak masyarakat yang mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menghadapi bencana. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko korban jiwa maupun kerugian material.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Sekolah Lapang Iklim dapat diteruskan kepada masyarakat lainnya sehingga pemahaman mitigasi bencana tidak hanya berhenti pada peserta kegiatan.
“Harapan kami, Sekolah Iklim dan Sekolah Gempa ini mengedukasi tidak hanya sebatas lingkup peserta yang ikut, tapi bisa nanti secara masif dipahami seluruh masyarakat,” ujar Musa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....