Sisingamangaraja XII, Sosok Pejuang Tanah Batak yang Gigih Melawan Belanda
- 20 Agt 2026 17:13 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Sisingamangaraja XII lahir di Bakkara, Sumatera Utara, pada 18 Februari 1845. Nama aslinya adalah Patuan Bosar Sinambela dengan gelar adat Patuan Bosar Ompu Pulo Batu. Ia merupakan bagian dari dinasti Sisingamangaraja yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Batak dan kemudian dikenal sebagai Sisingamangaraja XII.
Dilansir dari kemendikdasmen.go.id, pada masa kepemimpinannya, pengaruh pemerintah kolonial Belanda semakin meluas ke wilayah Tapanuli. Perluasan tersebut menimbulkan penolakan dari Sisingamangaraja XII dan masyarakat yang berada di bawah pengaruhnya. Ia berusaha mempertahankan wilayah dan kemandirian masyarakat Batak dari campur tangan kolonial.
Perlawanan terbuka terhadap Belanda dimulai pada Februari 1878. Pasukan Sisingamangaraja XII menyerang kedudukan Belanda dan menjadikan Bakkara sebagai salah satu pusat pertahanan. Perang kemudian meluas ke sejumlah wilayah di Tapanuli. Perlawanan ini berlangsung sekitar 29 tahun, dari 1878 hingga 1907.
Menghadapi kekuatan militer Belanda yang lebih modern, Sisingamangaraja XII tidak hanya mengandalkan pertempuran terbuka. Ia dan para pengikutnya melakukan perlawanan secara berpindah-pindah atau gerilya. Wilayah Toba, Humbang dan kemudian Dairi menjadi bagian penting dari perjalanan panjang perjuangan tersebut. Strategi ini memungkinkan pasukannya terus memberikan perlawanan meskipun Belanda berusaha mempersempit ruang gerak mereka.
Dalam perjuangan tersebut, Sisingamangaraja XII tidak berjuang seorang diri. Sejumlah panglima dan pengikutnya ikut membantu mempertahankan wilayah dari serangan Belanda. Keluarganya juga berada dalam lingkaran perjuangan. Putrinya, Siboru Lopian, dikenal ikut mendampingi ayahnya dalam perang dan bergerilya hingga akhir hayatnya. Dilansir dari kajian tentang Opera Batak Sisingamangaraja XII menyebut Lopian berusia 17 tahun ketika ikut dalam perjuangan tersebut.
Semakin lama, tekanan Belanda terhadap pasukan Sisingamangaraja XII semakin kuat. Pertahanan pasukannya terus berpindah ke wilayah yang lebih sulit dijangkau. Pada tahap akhir perang, Dairi menjadi salah satu pusat pertahanan terakhir. Perlawanan yang telah berlangsung hampir tiga dekade itu akhirnya mencapai titik terakhir pada Juni 1907.
Pada 17 Juni 1907, Sisingamangaraja XII gugur dalam pertempuran di kawasan Dairi setelah pertahanan terakhirnya menghadapi serangan pasukan Belanda. Kematian Sisingamangaraja XII menandai berakhirnya Perang Tapanuli yang telah berlangsung sejak 1878. Dalam pertempuran terakhir tersebut, Siboru Lopian juga gugur bersama para pengikutnya. Kajian mengenai legenda Siboru Lopian mencatat bahwa ia terus mendampingi ayahnya dalam medan perang hingga akhir perjuangan.
Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan Sisingamangaraja XII sebagai Pahlawan Nasional pada 9 November 1961 melalui Keputusan Presiden Nomor 590 Tahun 1961. Peringatan seratus tahun wafatnya pada 2007 juga dipusatkan di Bakkara, yang dikenal sebagai tempat kelahirannya.
Hampir tiga puluh tahun perlawanan Sisingamangaraja XII menjadi salah satu catatan penting sejarah perjuangan rakyat di Sumatera Utara. Sosoknya dikenang bukan hanya karena lamanya perang yang dipimpinnya, tetapi juga karena keteguhannya mempertahankan tanah dan masyarakatnya hingga akhir hayat. Perjuangan tersebut menjadi bagian dari sejarah panjang perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....