Komunikasi Itu Ada Seni nya

  • 31 Jul 2026 23:30 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Buku Komunikasi Itu Ada Seninya karya Oh Su-hyang merupakan karya pengembangan diri yang berfokus pada keterampilan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini menekankan bahwa komunikasi bukan hanya persoalan teknis menyampaikan pesan, melainkan keterampilan emosional dan sosial yang melibatkan empati, kepekaan, serta keinginan untuk memahami orang lain secara tulus. Oh Su-hyang, seorang konselor dan pelatih komunikasi asal Korea Selatan, mengajak pembaca untuk merenungkan kembali cara mereka berkomunikasi, baik dalam hubungan pribadi, pekerjaan, maupun interaksi sosial lainnya.

Dilansir dari Gramedia Com. Sejak diterbitkan dalam versi terjemahan Bahasa Indonesia, Komunikasi Itu Ada Seninya telah menarik perhatian ribuan pembaca. Hingga saat ini, lebih dari 100.000 eksemplar telah terjual di berbagai platform daring dan toko buku fisik di Indonesia. Tak hanya itu, buku ini juga masuk dalam daftar bestseller kategori pengembangan diri di beberapa toko buku ternama seperti Gramedia dan Periplus.

Dalam bagian awal buku, Oh Su-hyang mengajak pembaca untuk memahami pentingnya mendengarkan secara aktif sebagai inti dari komunikasi. Ia menekankan bahwa mendengarkan bukanlah tindakan pasif, melainkan bagian penting dari membangun hubungan yang sehat. Banyak konflik, kata penulis, terjadi bukan karena orang tidak tahu apa yang harus dikatakan, tetapi karena mereka gagal untuk benar-benar mendengarkan. Melalui contoh-contoh situasi sehari-hari, ia menunjukkan betapa pentingnya memberi perhatian penuh, kontak mata, dan respons yang menunjukkan bahwa kita hadir secara emosional dalam percakapan.

Bab-bab berikutnya menjelaskan bagaimana cara berbicara yang membangun, termasuk teknik menyampaikan kritik tanpa menyakiti perasaan, serta cara menyampaikan ketidaksetujuan secara konstruktif. Penulis menunjukkan bahwa sering kali, orang merasa tersinggung bukan karena isi pesan yang disampaikan, melainkan karena cara penyampaiannya yang tidak empatik. Oleh karena itu, memilih kata-kata dengan bijak, memperhatikan intonasi suara, dan membaca suasana hati lawan bicara adalah bagian dari seni komunikasi yang harus dipelajari. Selanjutnya, buku ini juga membahas tentang bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan sinyal non-verbal lain yang sering kali lebih “berbicara” daripada kata-kata itu sendiri. Oh Su-hyang menekankan bahwa komunikasi yang baik tidak bisa dilepaskan dari keselarasan antara kata dan tindakan. Bila seseorang berkata "Saya baik-baik saja" dengan nada dingin dan ekspresi muram, maka pesan yang diterima bisa berlawanan dari yang dimaksudkan. Di sinilah pentingnya kesadaran diri dalam berkomunikasi.

Salah satu kekuatan buku ini terletak pada bab-bab yang membahas tentang mengelola konflik dan komunikasi dalam situasi sulit. Oh Su-hyang menunjukkan bahwa dalam setiap hubungan—baik dengan pasangan, rekan kerja, maupun keluarga—akan selalu ada perbedaan dan gesekan. Namun, dengan pendekatan komunikasi yang lembut, terbuka, dan tidak menghakimi, konflik dapat diubah menjadi momen untuk saling memahami lebih dalam. Ia juga mengingatkan bahwa kadang-kadang, diam atau jeda dalam percakapan justru merupakan bentuk komunikasi yang paling bijak. Selain itu, penulis menyampaikan pentingnya komunikasi empatik, yaitu kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain tanpa menghakimi. Buku ini menekankan bahwa komunikasi bukan hanya tentang apa yang ingin kita sampaikan, tetapi juga tentang bagaimana pesan kita diterima dan dirasakan oleh orang lain. Empati menjadi jembatan penting dalam membangun hubungan yang sehat dan harmonis, terutama di era digital saat komunikasi makin banyak dilakukan secara tidak langsung.

Secara keseluruhan, buku ini menonjol karena gaya penulisannya yang ringan, personal, dan reflektif. Oh Su-hyang tidak menggurui pembaca, melainkan berbagi kisah dan pengalaman yang membuat pesan-pesannya terasa relevan dan menyentuh. Ia mengajak pembaca untuk bercermin, bukan sekadar membaca. Setiap bab disertai contoh situasi konkret dan solusi yang bisa langsung diterapkan, sehingga buku ini sangat cocok bagi siapa pun yang ingin memperbaiki cara mereka berinteraksi dengan orang lain. Namun, dari sisi kekurangan, buku ini cenderung mengulang beberapa konsep penting di beberapa bab, seperti pentingnya empati dan mendengarkan. Bagi sebagian pembaca yang lebih menyukai pendekatan akademik atau teknis, isi buku ini mungkin terasa terlalu sederhana. Selain itu, beberapa contoh kasus yang digunakan cukup lekat dengan konteks budaya Korea, sehingga tidak sepenuhnya mencerminkan dinamika komunikasi di budaya lain, termasuk Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....