Peringati HAN, Pemko Pematangsiantar dan Tanoto Foundation Gelar Hurdou-Hordou

  • 29 Jul 2026 19:58 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan: Pemerintah Kota Pematangsiantar bersama Tanoto Foundation menggelar lomba Hurdou-Hurdou di Lapangan Adam Malik Pematangsiantar, Senin, 27 Juli 2026. Kegiatan yang diikuti lebih dari 54 peserta ibu dan anak ini dalam rangka peringati Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026.

Hurdou-Hurdou merupakan senandung dan ayunan tradisional penuh makna dari etnis Simalungun yang dilantunkan seorang ibu maupun ayah dalam proses pengasuhan terhadap anak. Kegiatan yang mengusung tema “ Menjalin Hubungan emosional antara anak dan orang tua melalui Hurdou-Hurdou” ini merupakan bentuk komitmen terhadap tumbuh kembang anak melalui pendekatan berbasis kearifan lokal.

Hurdou-Hurdou merupakan metode pengasuhan intuitif yang kaya akan aspek stimulasi motorik, bahasa, auditori, serta emosi antara orang tua dan buah hati.

Regional Lead Tanoto Foundation, Medi Yusva mengatakan, di tengah perkembangan digitalisasi, penguatan ekosistem pengasuhan dan stimulasi anak usia dini menjadi salah satu langkah strategis untuk menyiapkan generasi yang sehat, tangguh, dan berkualitas. Pengasuhan anak usia dini dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan.

“Tingginya keterpaparan terhadap layar pada anak acapkali mengurangi interaksi orang tua dan anak. Oleh karena itu, tema Hari Anak Nasional kali ini hadir sebagai panggilan kesadaran bersama. Kita diingatkan untuk mengembalikan pengasuhan kepada landasan utamanya, yaitu kehadiran keluarga,” ujar Medi Yusva saat memberikan sambutan.

Dikatakan Medi Yusva, pengasuhan bukan hanya sekadar memastikan kebutuhan fisik terpenuhi, melainkan bagaimana orang tua hadir secara utuh mendampingi, mendengar, ngobrol langsung dengan anak. Kehadiran fisik dan emosional ini lebih menjadi kunci utama pembentukan mental yang kuat, rasa aman, serta kesehatan psikologis anak sejak usia dini.

“Melalui peringatan Hari Anak Nasional tahun ini, kita mendorong tiga langkah nyata bersama. Yang pertama, sinergi pengasuhan setara dan tanggung jawab kolektif. Pengasuhan anak bukanlah tugas tunggal seorang ibu, melainkan tanggung jawab setara antara ayah dan ibu,” ucapnya.

Sementara, Sekda Kota Pematangsiantar, Junaedi Antonius Sitanggang mengatakan tema kegiatan diangkat dalam rangka meningkatkan pola asuh anak, meningkatkan hubungan emosional antara orang tua dengan anak, sehingga anak dapat lebih berkarakter, jujur, berintegritas sejak dini.

“Sesuai dengan motto kita "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung", kita tingkatkan kearifan lokal melalui pola asuh anak antara orang tua dan anak. Mungkin itu, itulah latar belakang kenapa kegiatan hari ini kami laksanakan bersama dengan Tanoto Foundation,” ucapnya.

Sementara, penggiat budaya Simalungun, Jayamin Sipayung, mengatakan dalam Hurdou-Hurdou memiliki filosofi bahwa orang tua mengharapkan jika kelak seorang anak naik drajat dan status di lingkungan sosial, jangan pernah melupakan budaya.

“Nah, itulah filosofi lagu Hurdou-Hurdou ini dari orang tua kepada anaknya. Itulah ikatan batin dari bayi. Jadi kalau sudah tumbuh kembang dia besar, sukses, tetap rendah diri. Jangan sombong. Nah, itulah filosofinya lagu Urdou-urdou ini dinyanyikan,” ujarnya.

Perwakilan dewan juri, Hotman Damanik, mengatakan Hurdou-Hurdou merupakan teknik menyanyi untuk menimang dan menidurkan seorang anak dengan adanya kemunculan sensasi emosional antara orang tua dan anak. Tujuannya adalah bagaimana anak ini sebetulnya, orang tua berpengharapan sangat besar untuk anak.

“Karena kita inginkan kedepannya generasi muda kita tidak kehilangan arah, tidak kehilangan identitas, bahwa kita tetap menjaga bahwa kita bangsa yang kaya akan budaya. Bangsa kaya akan keberagaman di bawah satu panji Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.

Lomba ini diikuti ratusan ibu-ibu dan anak usia dini. Tiap peserta menampilkan senandung Urdo-urdo dengan narasi yang dikreasikan masing-masing peserta. Dewan juri kegiatan yaitu: Hotman Damanik, ST (budayawan yang juga arsitek Monumen Sangnaualuh Damanik); Pdt. Mannes Purba, S.Th, MA, M.Th, LM (komposer Simalungun), Jayamin Sipayung S.Pd, M.Si (budayawan) dan maestro seni tradisi Simalungun, Lina Damanik.

Hadir juga dalam kegiatan ini, Akademisi Prof. Dr. Hisarma Saragih, M.Hum dan Ketua Tumpuan Damanik boru Panogolan Kota Pematangsiantar dan Kab. Simalungun Rico Damanik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....