Tugu Juang Medan sebagai Medium Komunikasi Sejarah

  • 23 Jul 2026 11:53 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Di tengah lalu lintas dan modernisasi tata Kota Medan, Tugu Juang sebagai penjaga memori kolektif masyarakat Sumatera Utara. Monumen ini mungkin hanya terlihat sebagai marka kota (landmark), namun jika dibedah secara mendalam, rancang bangun dan tata letak monumen perjuangan di Kota Medan menyimpan pesan semiotika yang sangat kuat mengenai perlawanan dan harga diri bangsa.

Desain monumen perjuangan khususnya yang merepresentasikan epik Pertempuran Medan Area (1945-1946) umumnya menggunakan pendekatan arsitektur ekspresionis. Bentuk tugu yang menjulang vertikal ke atas bukanlah tanpa alasan.

Dalam kajian komunikasi visual dan tata ruang, garis vertikal menyimbolkan kekuatan, maskulinitas, dan keteguhan hati para pejuang yang tidak tunduk pada tekanan sekutu. Puncak tugu menjadi titik fokus yang seolah meneriakkan deklarasi kemerdekaan ke udara bebas.

Selain struktur utama, elemen relief pada bagian dasar monumen berfungsi sebagai ruang storytelling atau penceritaan visual. Ukiran-ukiran yang mengelilingi fondasi tugu merekam kronologi keterlibatan masyarakat sipil bersama laskar pejuang muda.

Penggambaran figur-figur rakyat biasa dengan senjata seadanya berdampingan dengan tentara merupakan representasi data historis yang valid, menegaskan bahwa kemerdekaan di Medan direbut melalui perlawanan semesta, bukan sekadar perjuangan kaum elite militer.

Sayangnya, pesan-pesan visual ini seringkali luput dari perhatian generasi muda. Monumen perlahan mengalami pergeseran makna, dari ruang refleksi sejarah menjadi sekadar titik kumpul komersial atau area pelintasan belaka. Di sinilah letak tantangan terbesarnya.

Arsitektur sejarah akan kehilangan suaranya jika tidak ada upaya penyampaian ulang (re-telling) melalui medium komunikasi modern.

Seorang dosen salah satu Universitas di Kota Medan, Rini, mengatakan mengembalikan fungsi edukasi Tugu Juang bukan berarti merombak fisiknya, melainkan memperkuat narasi di sekitarnya.

“Integrasi antara pelestarian desain fisik dengan literasi digital dan penyiaran sejarah yang masif menjadi kunci, agar tugu ini tidak berdiri sebagai monumen bisu di tengah kemajuan zaman,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....