Mentan Dorong Kolaborasi Akademisi Wujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan

  • 16 Jul 2026 13:18 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan kalangan akademisi dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan kuliah umum bertajuk 'Inovasi dan Kolaborasi Generasi Muda Menuju Swasembada Pangan' di Auditorium Universitas Sumatera Utara (USU), Rabu, 15 Juli 2026.

Dalam pemaparannya, Amran menjelaskan pemerintah berhasil mempercepat target swasembada pangan dari semula ditargetkan tercapai dalam empat tahun menjadi satu tahun. Menurutnya, percepatan tersebut bertujuan menciptakan kemandirian pangan sehingga Indonesia tidak bergantung pada negara lain dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Ia mengatakan, Indonesia yang sebelumnya menjadi salah satu importir beras kini tidak lagi mengimpor beras medium. Bahkan, sejumlah komoditas pangan telah mampu menembus pasar ekspor.

"Ternyata masih banyak yang belum tahu bahwa kita sudah swasembada, bahkan kita ekspor. Beras medium tidak impor lagi, bahkan kita ekspor. Delapan komoditas sudah swasembada dan ekspor," kata Amran.

Amran menilai keberhasilan tersebut perlu didukung melalui inovasi dan riset dari perguruan tinggi. Karena itu, ia mengajak mahasiswa dan akademisi berkolaborasi dengan pemerintah untuk menghasilkan berbagai inovasi yang dapat memperkuat swasembada pangan secara berkelanjutan.

Pada kesempatan itu, Kementerian Pertanian juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas Sumatera Utara sebagai langkah memperkuat kerja sama di bidang penelitian dan pengembangan pertanian salah satunya riset komoditas kedelai.

"kita kolaborasi ke depan, USU tadi sudah tanda tangan MoU, khususnya kedelai dan produk lainnya nanti Pak Rektor kita tindak lanjuti," kata Amran

Sementara itu, Rektor Universitas Sumatera Utara Muryanto Amin menilai kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi menjadi kunci dalam mempercepat lahirnya inovasi di sektor pertanian. Ia mencontohkan riset kedelai yang tengah dikembangkan peneliti USU sebagai salah satu bentuk kontribusi kampus dalam meningkatkan produktivitas pertanian nasional.

Muryanto mengatakan penandatanganan MoU dengan Kementerian Pertanian membuka peluang percepatan hilirisasi hasil riset kampus agar dapat segera diterapkan di lapangan tanpa birokrasiyang panjang.

"Yang menjadi penting adalah Pak Menteri langsung membuka pintu antara perguruan tinggi dengan pemerintah untuk bisa tanda tangan MoU. Mudah-mudahan apa yang kita tanda tangani tadi bisa terealisasi dengan cepat," katanya.

Muryanto menjelaskan salah satu penelitian yang didorong melalui kerja sama tersebut adalah pengembangan komoditas kedelai. Saat ini, riset yang dilakukan peneliti USU masih dalam tahap uji coba di empat lokasi berbeda untuk meningkatkan produktivitas kedelai hingga mencapai 2,5 sampai 3 ton per hektare pada lahan seluas 500 hingga 1.000 hektare.

"Tadi ada peneliti dari USU, Prof. Diana yang itu yang kita dorong dari awal. Risetnya sudah tiga tahun tentang kedelai, sekarang lagi uji coba di empat wilayah. Diminta agar satu hektare bisa menghasilkan 2,5 sampai 3 ton untuk luasan 500 sampai 1.000 hektare," ujar Muryanto.

Ia berharap kerja sama tersebut dapat memperkuat sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang mampu mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....