Menelusuri Bahasa Perlawanan Lukisan Penyerbuan Pension Wilhelmina

  • 29 Jun 2026 18:56 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Sebuah lukisan bersejarah karya M.Y. Soekarno tersimpan di Museum Perjuangan Pers Medan. Lukisan menggambarkan peristiwa penyerbuan spontan terhadap Pension Wilhelmina di Jalan Bali (kini Jalan Veteran) pada 13 Oktober 1945.

Peristiwa tersebut merupakan titik awal perang kemerdekaan di Sumatera Utara, dipicu oleh tindakan seorang serdadu NICA Belanda yang menginjak-injak lencana Merah Putih.

Mufti TWH, cucu pendiri Museum Perjuangan Pers sekaligus Sekretaris Museum Perjuangan Pers Medan, menjelaskan saat – saat yang menegangkan ketika penyerbuan Belanda kepada Indonesia.

"Waktu itu pasukan Belanda datang dengan senjata yang luar biasa lengkap, sedangkan kita hanya pakai bambu runcing, golok, dan segala macam, kita tidak punya apa-apa diwaktu itu,” ujarnya.

Sebagai karya seni, lukisan ini tidak sekadar merekam peristiwa, tetapi juga menyampaikan narasi perlawanan melalui elemen warna sebagai bagian dari komunikasi visual. Bagian bawah lukisan didominasi warna coklat dan krem yang termasuk palet warna bumi yang identik dengan kenyamanan dan pondasi yang kuat, sekaligus menggambarkan rakyat biasa yang turun berjuang dengan senjata seadanya.

Sementara, aksen merah yang muncul pada pakaian beberapa pejuang menjadi pengingat akan keberanian dan pengorbanan, merah sendiri merupakan warna yang dalam konteks Indonesia tidak bisa dilepaskan dari makna bendera merah putih itu sendiri.

Kontras paling mencolok dalam lukisan ini hadir pada bangunan Pension Wilhelmina di belakang, sebuah balai berwarna hijau gelap yang tersambung dengan bangunan putih gading beratap coklat bata.

Di atas balai itu, tentara Belanda digambarkan menembaki rakyat dengan senjata api, menciptakan visual yang tegas antara kekuatan kolonial yang modern dengan rakyat yang berjuang dengan senjata seadanya. Di bagian paling atas lukisan, langit biru cerah menjadi simbol harapan dan keluasan cita-cita perjuangan rakyat Indonesia untuk merdeka dalam peristiwa bersejarah itu.

Peristiwa 13 Oktober 1945 tersebut kini diabadikan dalam Tugu Juang 45 di kawasan Jalan Veteran, yang bersama Stasiun Kereta Api Medan dan Lapangan Merdeka menjadi bagian dari kawasan bersejarah Kota Medan. Melalui elemen warna yang kuat, lukisan ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi sejarah, tetapi juga sebagai media komunikasi visual yang mampu menyampaikan nilai perjuangan kepada generasi masa kini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....