Dibalik Bilik Sekolah Rakyat, Bukan Sekadar Memutus Kemiskinan Ekstrem
- 26 Jun 2026 22:12 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Ada harapan baru, ada semangat baru, ada pula keluarga baru di balik bilik Sekolah Rakyat. Bukan Sekadar memutus kemiskinan ekstrem, kehadiran program Sekolah Rakyat, justru menjadi jembatan bagi anak-anak yang selama ini hak pendidikannya terabaikan.
Sabtu, 6 Juni 2026, tim rri.co.id berkesempatan berbincang dengan para siswa didik dari Sekolah Rakyat Terintegrasi 30, yang beralamat di Jalan Amal, kota Medan.
Seorang siswi SMA kelas 10 A, Anindya Putri R Lubis tampak bersemangat menceritakan kepada kami, setelah 8 bulan menjalani Pendidikan di sekolah rakyat tersebut.
“Awalnya saya penasaran, gimana sih suasana sekolah yang memiliki lingkungan asrama. Ternyata banyak teman-teman yang baik dan banyak guru-guru yang mengajar kami. Awalnya deg-degan karena dikira kakak-kakaknya jahat-jahat, ternyata enggak,” ujar siswi berusia 16 tahun ini.
Sambil malu tersipu-sipu, siswa yang masuk dalam Program Keluarga Harapan (PKH) ini merasa ada kehangatan dalam belajar dan harapan untuk mengubah nasib keluarganya. Meski berasal dari latar belakang sosial bawah, di sekolah rakyatlah, ia mendapatkan perlakuan layaknya anak Indonesia sesungguhnya.
“Kalau di sekolah biasa itu, kita selesai belajar langsung pulang ke rumah. Tapi, ini kalau di sekolah rakyat masih bisa jumpa teman-teman lagi dan bermain-main dengan teman di asrama,” ujar siswa yang memiliki cita-cita sebagai dokter ini.
Selain Pendidikan formal, Anindya mengaku selama di asrama seluruh siswa juga mendapat pemenuhan pelayanan fasilitas sangat baik. Mereka juga berkesempatan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, mulai dari tari, olahraga karate, dan pramuka. “Selasa biasa ikut pramuka, kamis ikut karate dan sabtu itu karya ilmiah serta minggu itu tari,” katanya.
Meski berada di asrama, mereka juga diberi waktu untuk bertemu dengan orang tua mereka, minimal setiap akhir pekan. Peraih medali emas olimpiade matematika ini mengaku sekolah rakyat telah membentuk kepribadian mandiri dalam dirinya, termasuk yang tadinya pemalu menjadi percaya diri saat tampil di depan umum
“Untuk pak presiden Prabowo, terima kasih sudah menciptakan sekolah rakyat untuk anak-anak yang telah berhenti sekolah sebelumnya seperti saya, dan membangun kami memiliki cita-cita dan mimpi masing-masing,” ujarnya sambil matanya berkaca-kaca.

Sama halnya dengan Tri Yanna Althafunnisa, siswi SMA Kelas 10 B ini mengatakan sekolah rakyat seakan menjadi cahaya baru baginya untuk bisa mewujudkan impiannya mengangkat derajat ia dan keluarga kecilnya.
“Terima kasih kepada pak prabowo telah ciptakan sekolah rakyat untuk orang-orang yang kurang mampu. Mungkin dari sekolah rakyat ini orang-orang yang kurang mampu bisa mewujudkan mimpi dan cita-citanya,” kata siswa yang akrab disapa Yanna ini.
Siswi yang bercita-cita menjadi pengusaha sukses ini bercerita tidak muda awal masuk ke asrama. Selain harus jauh dari orang tua, kebiasaan baru harus mereka Jalani dari biasanya.
“Pertimbangannya kenapa ingin sekolah di sini, ya ekonomi keluarga sih kak. Kemudian dukungan dari orang tua juga. Karena di SR ini cita-citanya bakal terang gitu. Awalnya jauh dari keluarga yang berat, tapi lama-lama dijalani, Alhamdulillah bisa mandiri,” ujarnya.
Kemandirian yang mereka jalani pun beragam. Subuh hari sudah melakukan salat berjamaah, kemudian dilanjutkan sarapan bersama, dan berangkat menuju kelas. Kemudian, sesekali mengikuti jadwal ekstrakurikuler, salat maghrib dan isya berjamaah, serta diakhiri dengan mengaji dan apel malam.
“Mungkin untuk Sabtu malam minggu habis Isya sempetin nelpon keluarga sebelum apel jam 9 malam. Sudah itu, tidur di asrama karena setiap hari ada pengawasan dari guru. Rasa kangen keluarga pasti ada, bahkan ada rasa pingin pulang. Tapi, di sini sudah ada keluarga baru, jadinya gak kesepian,” katanya.
Yanna terbilang siswi yang sangat aktif. Selain belajar, Yanna juga aktif di berbagai ekstrakurikuler seperti latihan menari, pramuka, latihan karate, serta karya ilmiah. “Yanna ikut semua ekstrakulikuler. Paling suka itu tari, ada seperti tor-tor, tari zapin, dan sekarang yang kami latih dendang 8 etnis,” ucapnya.
Sementara, bagi Abid Ramadan, siswa SMA kelas 10 B juga bercerita dirinya akhirnya bisa melanjutkan Pendidikan di Sekolah rakyat. Semata-mata, ia punya harapan baru bahwa sekolah rakyat bisa mengubah masa depan keluarganya yang hanya berstatus sebagai pekerja serabutan.
“Terima kasih kepada pak Prabowo sudah menciptakan sekolah rakyat untuk membantu warga Indonesia untuk lebih maju. Terima kasih kepada keluarga yang sudah mendukung dan memberikan semangat saat Abid jatuh. Termasuk guru-guru yang membimbing kami dengan baik dan mengartahkan kami ke jalan yang benar,” ujar siswa yang hobi memasak ini.
Sama halnya dengan Yanna dan Anindya, memang ada kerinduan yang datang kala jauh dari keluarga. Tapi, bagi Abid, sekolah rakyat justru mendekatkan dirinya dengan keluarga baru sekaligus harapan baru. “Pernah dihukum karena terlambat masuk kelas dan makannya terlalu lama. Jadi, setelah hukuman itu, di hari berikutnya saya lebih disiplin waktu dan cepat bangun. Awalnya kaget sih, karena belum terbiasa hidup jauh dari orang tua, harus hidup mandiri,” ucap siswa berusia 15 tahun ini.
“Fasilitas di sekolah rakyat sangat mewah. Kita dapat laptop, smartboard, fasilitas lain juga mendukung. Kita biasa kalau ketemu keluarga tiap minggu, juga cerita ke mereka kalau kami juga berkesempatan studi tour ke pabrik produksi mie, minyak, pabrik es krim. seru sih. Cita-cita saya ingin jadi pengusaha kak. Jadi pengusaha restoran. Makanya saya juga pernah ikut olimpiade kewirausahaan tingkat nasional,” katanya.

FASILITAS MAKSIMAL
Sementara, Kepala Sekolah Sekolah Rakyat Terintegrasi 30 Medan, Syahripal Putra, S.Pd., M.Hum, mengungkapkan sekolah rakyat merupakan turunan dari program asta cita presiden Prabowo Subianto untuk meretas angka kemiskinan ekstrem di Indonesia. Dengan terpenuhi hak pendidikan bagi anak yang masuk dalam kelompok keluarga dengan kemiskinan desil 1 dan 2, diharapkan bisa menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia.
“Bagaimana seorang pemulung, jangan sampai anaknya jadi pemulung. Begitu juga seorang tukang becak, jangan sempat anaknya jadi tukang becak juga. Sehingga rantai kemiskinan itu harus diputuskan melalui sekolah rayat ini, apalagi anak-anak dengan rentan miskin sangat sulit mendapat akses pendidikan,” katanya.
Selama di sekolah rakyat, anak -anak juga memperoleh fasilitas dari pemerintah secara penuh. Pemenuhan seperti mendapatkan sajian snack 2 kali sehari, makan 3 kali sehari, 8 jenis seragam, tas, sepatu, dan peralatan buku melalui leading sektor Kementerian Sosial.
“Anak-anak tadi yang datang dari keluarga miskin ekstrim anak-anak yang direkrut dari tenaga PKH melalui sensus ekonomi. Merek ini dari desil 1 dan 2 atau murni dari anak-anak diambil dari lapangan dengan melihat langsung ke rumahnya dan diwawancarai ke rumahnya,” ujar Syahripal.
“Orang tua mereka kita berdayakan melalui bantuan bedah rumah, JKN, dan anak-anak setiap hari dilakukan cek kesehatannya gratis. Dulunya anak-anak pada sakit asam lambung, alhamdulillah sudah pada naik berat badannya,”
Sementara, saat ini total ada 98 siswa yang dididik untuk tingkat SD dan SMA. Mereka merupakan anak-anak dengan latar belakang berbeda, mulai dari anak pemulung, pengemis dan pengamen, hingga tinggal di kolong jembatan.
“Mulai dari Medan Belawan sampai ke Medan Tuntungan. Ada juga anak-anak mantan begal dan balap motor. Rumah mereka sempat-sempit, dan kadang untuk makan mereka harus minta ke luar,” ujar Syahripal.
Syahripal bercerita, lulusan sekolah rakyat terintegrasi 30 Medan juga memiliki Ijazah yang diakui oleh negara melalui Kementerian Pendidikan sekolah dasar hingga menengah. Bedanya, anak-anak yang ada di SR adalah anak-anak yang direkrut dari kemiskinan ekstrem.
“Kita juga sudah kerja sama dengan Kementerian perguruan tinggi, jadi akan diprioritaskan sehingga jelas. Bahkan, anak-anak dari SR dari jenjang SMP, akan diikutsertakan dari seleksi masuk sekolah Garuda. Kalau cerdas meski miskin, kita masukkan seleksi ke Sekolah Garuda,” katanya.
Salah satu pengalaman selama di sekolah rakyat,ada sejumlah snak-anak yang tadinya tidak bisa membaca, perlahan sudah mengenal huruf.
“Setiap bulan kita evaluasi kebersihan anak-anak. Kita juga melaksanakan program praktikum komunitas yaitu program kunjungan edukasi ke tempat tempat yang punya nilai Pendidikan. Termasuk di Lokasi pabrik di Sei Mangkei, disana diberikan Pendidikan dengan mengenal pabrik kelapa sawit dan pengolahan es krim,” ujar Syahripal.
Dengan program sekolah rakyat, diharapkan bisa menjangkau yang tidak bisa dijangkau, memungkinkan tadinya yang tidak mungkin, membiasakan yang awalnya tidak bisa. Anak-anak bisa bersekolah dan mendapatkan fasilitas yang luar biasa. Semua anak pantas mendapatkan hak untuk menjadi orang sukses.

MENSOS APRESIASI
Berselang dua pekan kemudian, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengunjungi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan dalam kegiatan open house yang digelar di Aula Sentra Bahagia Medan, Senin, 15 Juni 2026. Kegiatan tersebut diikuti ratusan calon siswa dan orang tua untuk mengenal lebih dekat konsep pendidikan Sekolah Rakyat sebelum tahun ajaran baru dimulai.
Suasana kegiatan berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Para peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai sistem pembelajaran, tetapi juga melihat langsung fasilitas serta proses pendidikan yang diterapkan di Sekolah Rakyat.
“Ini adalah gagasan Presiden Prabowo yang dikhususkan bagi keluarga-keluarga yang paling tidak mampu agar anak-anak mereka mendapatkan kesempatan pendidikan dengan lingkungan yang berkualitas. Boleh orang tuanya belum berhasil, tetapi anak-anaknya harus memperoleh pendidikan yang baik agar menjadi Generasi Emas Indonesia 2045,” ujarnya.
Saifullah juga memaparkan Sekolah Rakyat menerapkan konsep boarding school atau sekolah berasrama. Selain mendapatkan pendidikan formal di kelas, para siswa juga memperoleh pendidikan karakter melalui pendampingan wali asrama dan wali asuh setelah kegiatan belajar mengajar selesai.
“Sekolah Rakyat itu bukan hanya sekolah biasa. Ada pendidikan akademik di kelas bersama guru, tetapi juga ada pendidikan karakter di asrama yang didampingi wali asrama dan wali asuh. Tujuannya agar anak-anak tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Mensos turut menunjukkan perkembangan siswa yang telah mengikuti program Sekolah Rakyat selama hampir satu tahun. Menurutnya, banyak perubahan positif yang terlihat, mulai dari meningkatnya kedisiplinan, rasa percaya diri, hingga kemampuan belajar para siswa.
“Dulu mereka sulit fokus dan kurang percaya diri. Alhamdulillah, dengan guru-guru yang hebat dan sistem pendidikan yang baik, sekarang anak-anak kita jauh lebih percaya diri, lebih disiplin, dan lebih optimistis menghadapi masa depan,” ujarnya.
Selain itu, Saifullah menegaskan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran. Ia menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat telah menggunakan perangkat digital seperti smart board dan laptop untuk membiasakan siswa beradaptasi dengan perkembangan teknologi sejak dini.
“Anak-anak kita adalah generasi digital. Mereka harus mampu memanfaatkan teknologi untuk kebutuhan dan masa depannya, bukan justru menjadi korban teknologi,” ujarnya.
DUKUNGAN PEMERINTAH DAERAH
Sementara, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, mengapresiasi atas progres pembangunan Sekolah Rakyat yang dinilai berjalan sangat cepat. Menurutnya, pembangunan sekolah yang berdiri di atas lahan sekitar enam hektar tersebut, dilakukan dengan perencanaan yang matang dan kualitas konstruksi yang baik.
"Ketika saya meninjau sekitar dua bulan lalu progresnya masih 73 persen. Hari ini sudah mencapai 87 persen. Ini termasuk pembangunan yang sangat cepat dan kualitas pekerjaannya juga sangat baik," katanya.
Pada tahun ajaran 2026/2027, Sekolah Rakyat Medan direncanakan menampung sekitar 270 siswa yang terdiri dari 90 siswa jenjang SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA. Seluruh peserta didik dipilih melalui proses verifikasi yang melibatkan pendamping sosial, dinas sosial, Badan Pusat Statistik (BPS), hingga pemerintah daerah.
Saat ini Sekolah Rakyat telah beroperasi di lebih 100 titik di seluruh Indonesia dengan menampung lebih dari 15 ribu siswa pada jenjang SD, SMP, dan SMA. Pada tahun ajaran 2026, pemerintah menargetkan jumlah peserta didik meningkat menjadi lebih dari 32 ribu siswa di berbagai daerah, termasuk di Medan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....