Menjajaki Museum Sejarah Al-Qur’an di Sumatera Utara
- 10 Apr 2026 10:58 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Museum Sejarah Al-Qur’an Sumatera Utara terletak di Jalan William Iskandar Pasar V, Percut Sei Tuan. Museum ini berdiri pada tahun 2019 dan menjadi satu-satunya museum bertema Al-Qur’an di Sumatera Utara. Koleksi awalnya berawal dari pameran mushaf kuno yang ditampilkan saat Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXVII pada 2018 di Medan.
Dari luar, terlihat arsitekturnya cukup sederhana, namun di dalamnya tersimpan kekayaan spiritual dan intelektual, lembar-lembar mushaf tua, manuskrip beraksara Arab Melayu, dan artefak peninggalan sejarah Islam di Sumatra Utara. Jura, staf museum yang sudah bekerja sejak awal berdirinya museum ini, mengatakan antusiasme masyarakat saat itu membuat pemerintah daerah berinisiatif menjadikannya museum permanen.
“Awalnya yang ada hanya mushaf-mushaf ini, belum ada artefak lain. Setelah itu, baru dikumpulkan naskah dan benda sejarah dari pesantren serta masjid tua di berbagai daerah,” ujarnya.
Koleksi yang dimiliki museum kini mencapai lebih dari 200 artefak, mulai dari mushaf tulisan tangan berusia ratusan tahun, pecahan batu nisan bertuliskan ayat suci, hingga miniatur masjid kuno di wilayah pesisir timur Sumatra. Beberapa mushaf bahkan ditulis di atas kertas daluang, bahan khas yang terbuat dari kulit kayu.
Melansir sumutprov.go.id selain menjadi ruang edukasi, museum ini juga berfungsi sebagai pusat konservasi. Proses perawatan dilakukan secara sederhana, namun dengan prinsip menjaga orisinalitas naskah. Pemerintah provinsi melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip Sumatra Utara turut mendorong program digitalisasi manuskrip agar tidak punah dimakan usia.
Namun, di balik prestasinya, museum ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Fasilitas yang terbatas dan dukungan dana yang minim membuat beberapa ruang pamer belum tertata sempurna. Jura, juga mengungkapkan sebagian koleksi masih disimpan di ruang penyimpanan karena belum ada vitrin khusus.
Meski demikian, semangat untuk menjaga warisan Al-Qur’an tak pernah padam. Setiap pekan, puluhan siswa sekolah dasar dan madrasah datang berkunjung. Mereka mendengarkan kisah tentang bagaimana mushaf kuno ditulis tangan, satu huruf demi satu huruf, tanpa bantuan mesin. Beberapa bahkan ikut menyalin kaligrafi di atas kertas daluang sebagai pengalaman langsung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....