Seporsi Mie Ayam sebelum Mati Tentang Eksistensial Pergulatan Batin dalam Hidup
- 31 Mar 2026 08:45 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna adalah sebuah novel yang lahir dari kegelisahan eksistensial dan pergulatan batin seseorang yang hampir menyerah pada hidup. Mengangkat isu kesehatan mental secara lugas tetapi tetap jenaka, novel ini memperkenalkan kita pada sosok Ale, seorang pria berusia 37 tahun yang merasa hidupnya tidak lagi relevan.
Ia memutuskan untuk mengakhiri segalanya, tetapi sebelum itu, ia ingin menikmati satu hal terakhir yang masih ia anggap berharga, seporsi mi ayam. Sebuah keinginan sederhana yang justru menjadi awal dari serangkaian peristiwa tak terduga, dan pada akhirnya, perjalanan hidup yang baru.
Brian Khrisna menulis novel ini dengan gaya yang khas: ringan, mengalir, dan penuh humor hitam. Ia menyampaikan tema yang sangat serius, depresi, rasa kehilangan, dan keputusasaan tanpa terdengar menggurui atau dramatik secara berlebihan.
Pembaca tidak dipaksa untuk merasa iba terhadap tokoh utama, melainkan diajak untuk ikut mengembara dalam pikirannya, melihat bagaimana satu keputusan kecil bisa memantik pertanyaan besar tentang arti hidup.
Gaya bertutur Brian yang sering menggunakan diksi-diksi kasual dan bahasa yang sangat dekat dengan keseharian membuat cerita ini terasa sangat hidup, seolah-olah sedang mendengarkan curhatan teman lama yang sedang lelah menjalani hidup. Ia menulis dengan liris sekaligus menyentil, puitis tetapi tetap membumi.
Kekuatan novel ini terletak pada kemampuannya menjadikan sesuatu yang banal, seporsi mi ayam sebagai metafora yang kuat tentang harapan dan kehendak untuk hidup. Simbolisme ini muncul nyaris tanpa pretensi, justru karena kesederhanaannya, ia menjadi begitu mengena.
Karakter Ale pun dibentuk dengan sangat manusiawi, ia bukan tokoh yang heroik, bukan pula korban yang pasrah, melainkan seseorang yang sangat mungkin kita temui di kehidupan nyata atau bahkan cerminan dari diri sendiri. Pergumulannya, keraguannya, sampai absurditas yang ia alami dalam perjalanannya mencari mi ayam terasa jujur dan dekat.
Meski demikian, novel ini tidak sepenuhnya sempurna. Beberapa adegan di pertengahan buku tampak repetitif, seolah memperpanjang durasi tanpa banyak mendalami konflik utama. Selain itu, karakter-karakter pendukung yang ditemui Ale dalam perjalanannya kurang diberi ruang untuk berkembang.
Mereka hadir sebagai pemicu peristiwa, bukan sebagai jiwa-jiwa yang turut membentuk pemahaman Ale terhadap hidup. Hal ini mungkin disengaja oleh penulis agar pembaca tetap fokus pada perjalanan batin tokoh utama, tetapi sedikit kedalaman pada tokoh-tokoh lain justru bisa memperkaya dinamika cerita.
Tetap saja, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati adalah bacaan yang patut diapresiasi. Brian Khrisna berhasil mengajak pembaca merenungi kehidupan tanpa menjadi depresif, menunjukkan luka tanpa menampilkan darah, dan mengangkat keputusasaan dengan sentuhan ringan namun menusuk.
Novel ini bukan tentang bagaimana seseorang mengakhiri hidup, melainkan tentang bagaimana, bahkan dalam titik terendah, selalu ada alasan untuk bertahan sesederhana seporsi mie ayam yang belum disantap. Sebuah perenungan yang pahit, manis, getir namun penuh kehangatan, dan bisa jadi untuk beberapa pembaca menjadi pengingat untuk tidak menyerah hari ini.
Mengangkat tema depresi dan keinginan bunuh diri bukan perkara mudah. Namun, Brian Khrisna berhasil membungkusnya dengan narasi yang tidak menghakimi, bahkan menghadirkan humor di sela-sela tragedi.
Hal ini membuat pembaca merasa dekat dan tidak terintimidasi oleh topik yang diangkat. Bahasa yang digunakan mengalir, santai, namun tetap tajam. Penulis memanfaatkan kalimat-kalimat pendek, gaya tutur seperti percakapan, dan diksi yang akrab dengan generasi muda urban.
Meski kisah ini berbasis kisah nyata dan diolah dengan pendekatan humor, di beberapa bagian narasi terasa terlalu dibuat-buat atau berlebihan, terutama saat tokoh mengalami peristiwa dramatis dalam rentang waktu singkat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....