Teruslah Bodoh Jangan Pintar, Karya Bernuansa Kritik Modern

  • 27 Mar 2026 09:58 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Novel Tere Liye yang berjudul “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” kembali menarik perhatian pembaca Indonesia sejak dirilis pada tahun 2024. Karya ini memiliki kurang lebih sekitar 370 halaman dan menyajikan kritik sosial yang tajam terhadap berbagai masalah sosial, seperti ketidakadilan hukum, kerusakan alam, serta dominasi perusahaan besar terhadap masyarakat kecil.

Dalam novel ini, Tere Liye menggambarkan bagaimana kecerdasan, kekuasaan, dan pendidikan bisa menjadi alat untuk menekan orang lain jika tidak disertai dengan hati nurani. Melalui tokoh-tokoh berlatar beragam mulai dari aktivis lingkungan, warga desa, aparat hukum, hingga pengusaha kaya, pembaca diajak memahami bahwa “kepintaran” kadang berubah menjadi jebakan yang merusak tatanan sosial.

Melalui cara berceritanya yang khas, Tere Liye memberikan alur yang dinamis tetapi penuh dengan pesan moral. Dia menggambarkan bagaimana konflik antara masyarakat dan perusahaan tambang besar dapat menyebabkan kekerasan struktural yang kerap tersembunyi di balik aturan hukum yang ada.

Novel ini tidak hanya menyoroti persoalan eksploitasi alam, tetapi juga memperlihatkan betapa lemahnya integritas aparat ketika menghadapi uang dan kekuasaan.

Minat pembaca terhadap buku ini cukup tinggi. Di sejumlah toko buku, novel ini terdaftar sebagai salah satu yang terlaris dalam kategori fiksi sosial. Readers menilai bahwa “Teruslah Bodoh Jangan Pinta” relevan dengan berbagai isu saat ini seperti, krisis lingkungan, manipulasi hukum, dan ketimpangan sosial yang semakin nyata di masyarakat.

Novel ini dipandang berpotensi menjadi salah satu karya penting Tere Liye dalam ranah kritik sosial modern. Selain menawarkan cerita yang emosional, buku ini juga menghadirkan refleksi mendalam tentang keberanian, integritas, dan pilihan moral dalam menghadapi ketidakadilan.

Sebagai bacaan, “Teruslah Bodoh Jangan Pintar menjadi” menjadi referensi yang memotivasi bagi pembaca yang ingin memahami dinamika kekuasaan, fenomena korupsi, dan masalah lingkungan di Indonesia melalui karya sastra.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....