From Theory to Action, Pesan Rektor USU untuk 1.843 Wisudawan
- 16 Feb 2026 09:13 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Kesenjangan antara teori dan praktik masih sering terjadi dalam dunia pendidikan, kondisi ini membuat persoalan di tengah masyarakat kurang teratasi karena minimnya peran para akademisi dalam memecahkan persoalan-persoalan yang nyata di sekitarnya.
Karenanya, Rektor USU Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si, berpesan kepada para wisudawan setelah lulus untuk terus belajar tanpa henti dalam memahami banyak hal. Lulusan harus berani mengambil keputusan dan secara berkelanjutan meningkatkan potensi konstruksi berpikir sistematis tentang
pengetahuan teori yang diselaraskan dengan keterampilan teknis untuk menjawab permasalahan yang ada.
“Seorang yang terdidik dan lulusan dari perguruan tinggi selalu diharapkan memiliki dua kemampuan itu yang tidak terpisahkan. Atas dasar itulah, tema wisuda hari ini yang disampaikan adalah From Theory to Action: Mengatasi Kesenjangan dan Membentuk Nilai Baru dalam Transformasi Peradaban,” ujar Prof Mury di hadapan 1.843 wisudawan yang mengikuti prosesi pelantikan, Jumat, 14 Februari 2026, di Auditorium USU.
Rektor USU menjelaskan, perubahan dunia kerja saat ini tidak hanya terlihat dari munculnya teknologi baru, tetapi juga dari perubahan keterampilan apa yang paling dibutuhkan. Keterampilan inti yang paling dibutuhkan di masa depan bukan semata-mata kemampuan teknis, melainkan kemampuan manusia dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
“Dunia kerja tidak hanya mencari individu yang cerdas secara akademik, tetapi mereka yang mampu berpikir jernih, beradaptasi dalam tekanan, memimpin, bekerja dengan orang lain, serta memahami diri dan lingkungannya,” katanya.
Dunia kerja membutuhkan lulusan yang tidak hanya tahu, tetapi mampu mengambil keputusan dan bertindak secara nyata agar tidak ada lagi kesenjangan antara teori dan praktik. Prof. Muryanto mencontohkan penerapannya kepada perusahaan Starbucks, sebuah perusahaan global dengan ribuan gerai yang tersebar di seluruh dunia dan setiap hari menetapkan jutaan keputusan kecil yang menentukan keberlangsungan bisnisnya.
“Ketika Starbucks menghadapi tekanan besar, pertumbuhan yang melambat dan tantangan operasional yang semakin kompleks, mereka mengambil langkah yang pada saat itu, terasa masuk akal. Perusahaan menunjuk seorang CEO dengan latar belakang konsultan strategi global yang sangat kuat dalam analisis dan perumusan arah bisnis,” katanya.
Setiap berada di ruang rapat selalu terlihat arah perusahaan yang jelas, strategi yang tersusun rapi, dan indikator ideal, serta lini masa yang teratur. Namun persoalan Starbucks tidak berada di ruang rapat. Persoalannya ada di gerai, di antrean pelanggan, dan di ritme kerja sehari-hari. Proses layanan melambat dan pelanggan menurun di seluruh gerainya.
“Keputusan yang sangat logis di tingkat strategi ternyata tidak sepenuhnya menjawab masalah yang langsung dialami oleh setiap gerai. Bukan karena strateginya salah, tetapi karena jarak antara pengambil keputusan dan realitas lapangan terlalu jauh,” katanya.
Prof. Muryanto mengatakan, nilai perusahaan mengalami penurunan yang signifikan dalam waktu yang singkat. Peristiwa itu, membuat Starbucks belajar bahwa pada fase tertentu, organisasi tidak hanya membutuhkan pemikir yang cerdas, tetapi pemimpin yang memahami lapangan. Starbucks kemudian menyadari bahwa kepintaran saja tidak cukup, organisasi membutuhkan pemimpin yang tidak hanya berpikir, tetapi juga berani mengeksekusi keputusan, dan bertanggung jawab atas dampak yang terjadi.
“Perubahan arah pun diambil, Starbucks menunjuk seorang pemimpin yang dikenal sebagai operator lapangan. Seorang profesional yang terbiasa mengelola bisnis dengan jutaan pelanggan per hari, memahami frontline team, rantai pasok, dan realitas operasional secara langsung. Penunjukan ini dibaca sebagai sinyal kuat bahwa Starbucks ingin kembali mengaitkan strategi bisnis yang relevan dan mudah dieksekusi mengatasi masalah nyata. Konsumen setianya merespons positif perubahan arah tersebut karena perbaikan layanan yang paling mendasar di level gerai Starbucks,” katanya.
Menurut Prof. Mury, cerita itu mengajarkan bahwa banyak kegagalan bukan terjadi karena kurangnya teori, melainkan karena kesalahan mengubah dari teori menjadi tindakan. Strategi yang baik membutuhkan keberanian untuk dijalankan, dan kepemimpinan yang kuat diuji bukan di ruang presentasi, tetapi di lapangan.
Teori tanpa pengalaman lapangan, imbuhnya, akan kehilangan daya geraknya. Sebaliknya, pengalaman tanpa keberanian mengambil keputusan juga tidak akan membawa perubahan. Bagi para wisudawan, pesan ini sangat relevan.
“Dunia kerja tidak selalu menunggu kita siap dengan jawaban yang sempurna. Seringkali, kita dituntut untuk berani mengambil keputusan dalam keterbatasan, dan bertanggung jawab penuh untuk melaksanakannya. Inilah makna sesungguhnya dari From Theory to Action, mengubah pengetahuan menjadi tindakan, dan tindakan memberi nilai yang bermanfaat untuk kesejahteraan,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Rektor USU juga turut menyampaikan capaian program internasionalisasi yang dilakukan Universitas Sumatera Utara. Internasionalisasi bukan proses membuat mahasiswa Indonesia menjadi asing di kotanya, tetapi membuka cakrawala berpikir tentang dunia global yang beragam dan terkoneksi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Saat ini Universitas Sumatera Utara menempati posisi di 1001 QS WUR, 268 di QS AUR, 851 di QS Sustainability, 1501+ THE WUR, dan 601 THE Impact. Memiliki 28 program studi terakreditasi internasional, 87 program studi akreditasi unggul dan telah membuka 28 prodi kelas internasional (International Undergraduate Program) 2026 bekerjasama dengan kampus di Inggris, Eropa, dan Australia melalui program joint/double degree.
Mobility student dan mobility staff adalah program yang dilakukan di Universitas Sumatera Utara yang ditujukan untuk mahasiswa dan dosen sebagai cara agar mereka dapat lebih dekat merasakan sense of perfect detail, yang dilakukan kampus top dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....