Daya Tarik Kopi Artisan Menjaga Kualitas Biji Lokal

  • 24 Nov 2025 14:43 WIB
  •  Medan

KBRN, Medan: Tren kopi artisan, kini kian berkembang di berbagai kota besar Indonesia. Tak hanya menyajikan cita rasa khas, para peracik kopi lokal juga menunjukkan komitmen tinggi dalam menjaga kualitas melalui pemanfaatan biji kopi lokal dari berbagai daerah nusantara. Langkah ini bukan sekadar strategi bisnis, melainkan bentuk penghargaan terhadap kekayaan alam dan kerja keras para petani kopi di tanah air.

Kopi artisan dikenal, karena prosesnya yang detail dan penuh ketelitian. Setiap cangkir diseduh dengan standar tinggi, mulai dari pemilihan biji, proses sangrai, hingga penyajian. Menurut barista muda asal Medan, Ardiansyah Lubis, yang juga pengelola kedai kopi “Sahaja Brew”, penggunaan biji lokal menjadi kunci utama dalam menjaga keaslian rasa.

“Kami percaya bahwa karakter kopi terbaik datang dari tanah sendiri, bahkan biji kopi dari Sumatera, seperti Gayo, Sidikalang, dan Lintong, punya identitas rasa yang kuat”, ujarnya.

Biji kopi lokal Indonesia telah diakui dunia, karena keunikannya. Berdasarkan data International Coffee Organization (ICO) tahun 2024, Indonesia termasuk dalam tiga besar produsen kopi arabika berkualitas tinggi di dunia, dengan potensi ekspor mencapai lebih dari 400 ribu ton per tahun.

Khusus di Sumatera, kopi Gayo, Lintong, dan Sidikalang dikenal memiliki aroma rempah dan tingkat keasaman yang seimbang, sehingga disukai oleh pasar Eropa dan Jepang. Tidak heran, jika banyak pelaku kopi artisan, memilih biji-biji tersebut sebagai bahan utama untuk menu andalan mereka.

Berbeda dengan kopi komersial, yang diproduksi massal, kopi artisan menekankan proses manual dan presisi tinggi. Para roaster (penyangrai) lokal, kini semakin memahami bahwa menjaga kualitas berarti menghormati proses.

Menurut Rizky Pratama, salah satu roaster dari komunitas Sumatra Coffee Collective, setiap tahap sangrai dilakukan berdasarkan karakter alami biji kopi.

“Kami tidak menyamaratakan semua biji. Setiap daerah punya suhu ideal dan waktu sangrai berbeda. Itulah yang membuat rasa kopi artisan tidak pernah sama”, katanya.

Pendekatan ini sejalan dengan tren third wave coffee sebuah gerakan global yang menempatkan kopi sebagai produk seni dan budaya, bukan sekadar minuman penghilang kantuk. Para penikmatnya tidak hanya mengejar kafein, tetapi juga pengalaman sensorik dan narasi di balik secangkir kopi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....