Menelusuri Pesona Zhujiajiao, Kota Air di Shanghai
- 08 Agt 2025 15:15 WIB
- Medan
KBRN, Shanghai: Kota Kuno Zhujiajiao, yang dijuluki Venice of Shanghai di tepi Danau Dianshan, menjadi salah satu kota air paling terkenal di Shanghai, Tiongkok. Meski modernisasi transportasi dan infrastruktur telah menggantikan banyak kanal kuno, desa-desa dan kota tua di kawasan ini tetap mempertahankan sistem perairan yang telah digunakan selama ratusan tahun.
Saat berkunjung, RRI menemukan berbagai taman menarik sebelum memasuki kawasan kota air. Di sini, pengunjung dapat menikmati lanskap taman khas selatan Tiongkok yang tertata indah, lengkap dengan jembatan kecil, kolam, dan bangunan berarsitektur klasik.
Salah satu ikon utama di Zhujiajiao adalah Taman Kezhi, yang terdiri dari tiga bagian yaitu area hunian, area batuan, dan area taman. Di dalamnya terdapat paviliun, menara, kolam, koridor batu berukir, serta pepohonan kuno yang menambah kesan historis.
“Ke artinya belajar dan zhi artinya berkebun. Jadi makna taman ini adalah ‘belajar dan berkebun’,” ucap Lily, pemandu wisata setempat, kepada RRI, Minggu (3/8/2025) lalu.

Paviliun tradisional dan jembatan batu di Taman Kezhi. (Foto: RRI/Mario Pascal)
Beberapa bangunan unik di dalam taman ini antara lain perpustakaan, Moon-Watching Tower, Lion Hall, dan Nine-Bend Bridge. Taman Kezhi memadukan seni dan teknik taman tradisional khas Tiongkok selatan dengan sentuhan arsitektur Barat, menjadikannya salah satu destinasi favorit bagi wisatawan yang menyukai sejarah dan estetika taman klasik.
Selain Taman Kezhi, terdapat pula Taman Zhenyuan yang dulunya merupakan taman pribadi milik Ma Wenqin, seorang tokoh berpengaruh di kawasan ini. “Taman tersebut menjadi tempat peristirahatan keluarga pada masanya,” kata Lily.
Usai menikmati taman-taman bersejarah, wisatawan dapat menyusuri kanal menggunakan perahu, aktivitas yang menjadi daya tarik utama Zhujiajiao. Perahu kayu tradisional berkapasitas maksimal enam orang ini dilengkapi pelampung demi keamanan penumpang.
Perjalanan dimulai dari sungai utama, melewati Fangsheng Bridge atau Jembatan Pembebasan Ikan, jembatan utama yang menghubungkan dua sisi kanal. “Nama Fangsheng berarti melepaskan makhluk hidup ke alam bebas. Dahulu, jembatan ini digunakan untuk ritual pelepasan ikan sebagai bentuk perbuatan baik,” ucap Lily.
Selama perjalanan, wisatawan akan melintasi deretan bangunan bersejarah, toko suvenir, hingga pasar tradisional yang menjajakan aneka kuliner khas setempat. Suasana kanal yang tenang berpadu dengan arsitektur kuno, menciptakan pengalaman wisata yang memadukan pesona sejarah, budaya, dan kehidupan lokal yang masih terjaga hingga kini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....