Dua Jalur Utama Masuknya Islam ke Tiongkok
- 06 Agt 2025 18:18 WIB
- Medan
KBRN, Xi’an: Islam pertama kali masuk ke Tiongkok melalui dua jalur utama, yaitu jalur perdagangan dan jalur hubungan militer atau resmi kekaisaran. Jejak dari proses panjang ini dapat dilihat hingga kini, salah satunya melalui komunitas Muslim Hui di Kota Xi’an, Provinsi Shaanxi, yang telah menjadi bagian dari masyarakat Tiongkok selama lebih dari seribu tahun.
Jalur pertama adalah jalur perdagangan, yang dimulai sejak abad ke-7 Masehi saat para pedagang Muslim dari Arab, Persia, dan Asia Tengah datang ke Tiongkok melalui Jalur Sutra darat dan maritim. Mereka masuk melalui pelabuhan seperti Guangzhou dan kota-kota jalur dagang seperti Chang’an (kini Xi’an), Kaifeng, dan Quanzhou.
“Pedagang Muslim ini dikenal hidup berdampingan secara damai dengan masyarakat lokal dan mewariskan keterampilan berdagang, kuliner, serta arsitektur masjid yang khas,” ujar May, seorang pemandu wisata Xi’an kepada RRI, Selasa (31/7/2025).
Sementara itu, jalur kedua terjadi melalui hubungan resmi kekaisaran, termasuk migrasi militer dan penunjukan pejabat Muslim oleh penguasa. Puncaknya terjadi pada masa Dinasti Yuan dan Ming, ketika banyak tokoh Muslim diundang untuk mengisi posisi penting di bidang administrasi, ilmu pengetahuan, dan militer.
Komunitas Muslim Hui di Xi’an sendiri merupakan hasil dari proses panjang tersebut. Mereka merupakan keturunan pedagang, pejabat, dan pasukan Muslim dari Asia Tengah yang memutuskan untuk menetap di Tiongkok. Salah satu cerita yang hidup di tengah komunitas ini menyebutkan bahwa sebagian dari mereka tidak dapat kembali ke kampung halaman karena harus melewati Gurun Gobi yang luas dan berbahaya. Akhirnya, mereka meminta izin kepada Dinasti Qing untuk menetap secara permanen di Tiongkok dengan janji akan setia kepada negara dan membantu menjaga stabilitas.
“Dulu orang-orang kami adalah pendatang dari Asia Tengah. Mereka datang untuk berdagang dan membantu pemerintah. Karena sulit kembali melewati padang pasir, mereka memilih tinggal di sini dan berjanji membantu Dinasti Qing,” ucap May,
Warisan komunitas Hui di Xi’an masih bisa ditemukan hingga kini, seperti Masjid Raya Xi’an yang didirikan pertama kali pada tahun 742 M pada masa Dinasti Tang. Masjid ini menjadi simbol akulturasi budaya, dengan arsitektur khas Tiongkok namun tetap mempertahankan unsur Islam. Selain itu, kawasan Muslim Street (Huimin Jie) di Xi’an masih aktif sebagai pusat kuliner halal dan budaya Muslim yang menjadi daya tarik wisatawan.
Berdasarkan data sensus terakhir, populasi etnis Hui di Tiongkok berjumlah sekitar 10,5 juta jiwa, menjadikannya kelompok Muslim terbesar di negara tersebut. Komunitas Hui tersebar di berbagai wilayah seperti Ningxia, Gansu, Yunnan, dan Shaanxi, namun Xi’an tetap menjadi salah satu pusat sejarah dan kebudayaan mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....