Masjid Agung Xi’an, Warisan Akulturasi Islam dan Tiongkok
- 06 Agt 2025 13:31 WIB
- Medan
KBRN, Xi’an: Masjid Agung Xi’an (Great Mosque of Xi’an), yang terletak di Gang Huajue dekat Menara Gendang (Drum Tower), merupakan salah satu masjid tertua dan terbesar di Tiongkok yang masih aktif digunakan hingga kini. Didirikan pada masa Dinasti Tang tahun 742 Masehi, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi lebih dari 60.000 Muslim di Kota Xi’an dan juga menjadi salah satu situs warisan budaya penting di Provinsi Shaanxi.
Pendirian masjid ini pada masa pemerintahan Kaisar Xuan Zong mencerminkan kuatnya akulturasi budaya antara Islam dan Tiongkok. “Hubungan antara suku Hui dan dinasti kekaisaran dibangun sejak Dinasti Tang. Bahkan di masa Dinasti Ming, kerajaan memberi sumbangan sebagai bentuk terima kasih atas jasa komunitas Hui,” ujar Yusuf, imam masjid yang telah mengabdi selama 79 tahun.
Berbeda dengan masjid-masjid bergaya Timur Tengah yang memiliki kubah besar dan menara menjulang, Masjid Raya Xi’an mencerminkan gaya arsitektur tradisional Tiongkok. Bangunannya menyerupai kompleks paviliun dengan atap bertingkat, balok kayu yang dilukis indah, serta tiang-tiang ukiran khas Dinasti Ming dan Qing. “Masjid ini tidak memiliki menara tinggi atau kubah seperti di Arab. Tapi ada lengkungan atap, ukiran naga, dan ubin keramik khas Tiongkok. Semua dirancang untuk menghormati budaya lokal tanpa menghilangkan identitas Islam,” ucap Yusuf kepada RRI.
Masjid ini terbagi dalam empat halaman utama yang membentang seluas lebih dari 12.000 meter persegi, dengan bangunan ibadah utama seluas sekitar 4.000 meter persegi. Salah satu elemen arsitektur paling mencolok adalah gerbang kayu berukir setinggi 9 meter yang dibangun pada awal abad ke-17, dihiasi dua lempengan batu bergambar naga dan masih berdiri kokoh hingga kini.
Masjid Raya Xi’an bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga situs budaya yang dilindungi oleh pemerintah Provinsi Shaanxi. Ribuan wisatawan lokal dan mancanegara mengunjungi kompleks ini setiap tahun, menjadikannya bagian penting dari rute sejarah Jalur Sutra.

Interior ruang salat Masjid Raya Xi’an (Foto: ist)
Sejak dibuka untuk umum pada tahun 1978, Masjid Raya Xi’an telah menarik jutaan wisatawan dari lebih dari 100 negara dan wilayah, termasuk umat Muslim dari Hong Kong, Makau, dan Taiwan. Masjid ini juga telah menerima banyak kunjungan dari kepala negara, pejabat senior, serta tamu kehormatan dari seluruh dunia.
Yusuf menjelaskan bahwa umat Muslim di Tiongkok berasal dari berbagai suku. “Ada 27 juta Muslim di Tiongkok. Mereka berasal dari 10 kelompok etnis, termasuk Hui dan Uighur. Suku Hui menonjol karena asimilasi dengan warga Han, termasuk penggunaan bahasa Mandarin sejak Dinasti Yuan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pada masa Dinasti Yuan, bahasa resmi kekaisaran mencakup Mandarin, Han, Persia, dan Arab, mencerminkan besarnya interaksi antar budaya pada masa itu. “Suku Hui bahkan diizinkan menikah dengan suku Han, yang memperkuat hubungan sosial dan budaya,” tambahnya.
Kompleks Masjid Raya Xi’an terdiri dari beberapa bagian penting yang mencerminkan perpaduan antara fungsi religius dan nilai-nilai budaya Tiongkok. Di bagian depan terdapat gerbang utama bergaya arsitektur kuno dengan ukiran naga, menandai pintu masuk kompleks. Empat halaman utamanya dilengkapi taman, kolam, dan tempat duduk yang menghadirkan suasana damai.
Di tengah kompleks berdiri Paviliun Utama atau ruang salat (Prayer Hall), berupa bangunan kayu luas yang mampu menampung ratusan jamaah, dengan mihrab yang menghadap ke arah Mekkah. Terdapat pula menara pengumuman (minaret) bergaya pagoda yang dulunya digunakan untuk menyerukan waktu salat. Selain itu, tersedia ruang belajar dan perpustakaan yang menyimpan berbagai manuskrip kuno, serta ruang peringatan Kaisar dan aula sejarah yang menyimpan prasasti dan peninggalan dari berbagai dinasti.
Meskipun pernah mengalami masa-masa sulit, termasuk saat gerakan anti-agama berlangsung pada abad ke-20, kompleks ini berhasil dipertahankan dan kini dirawat dengan baik oleh komunitas Muslim serta pemerintah setempat. “Dulu sempat ada yang mencoba merusak artefak-artefak agama, tapi sekarang pejabat pun datang meninjau dan menjaga situs ini sebagai warisan sejarah nasional,” ungkap Yusuf.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....