Keharmonisan Umat Muslim di Kota Xi’an Tiongkok

  • 06 Agt 2025 13:15 WIB
  •  Medan

KBRN, Xi’an: Komunitas Muslim di Kota Xi’an, Provinsi Shaanxi, telah menjadi bagian integral dari peradaban kota kuno ini selama lebih dari seribu tahun. Etnis Hui kelompok Muslim terbesar di Tiongkok mendominasi populasi Muslim di Xi’an, dan merupakan keturunan pedagang, tentara, serta pejabat dari Asia Tengah dan Timur Tengah yang datang melalui Jalur Sutra sejak abad ke-7 Masehi, masa Dinasti Tang.

“Xi’an, atau dulu dikenal sebagai Chang’an, adalah kota awal Jalur Sutra yang menghubungkan Tiongkok dengan dunia Barat,” jelas May, seorang pemandu wisata lokal kepada RRI.

Para Muslim asing yang dikenal sebagai Fanke (tamu negeri) memiliki keahlian berdagang yang sangat dihargai, memperdagangkan barang-barang mewah seperti sutra, rempah, dan batu permata.

Kemampuan berdagang ini menjadi warisan turun-temurun yang memperkuat posisi ekonomi komunitas Hui. Mereka telah terintegrasi dalam struktur sosial kota tanpa kehilangan identitas budaya dan agama. Salah satu pusat kehidupan mereka adalah kawasan Huimin Jie atau Jalan Muslim, sebuah area padat budaya di jantung kota tua Xi’an, yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun internasional.

“Lebih dari 100 ribu warga Muslim tinggal di kota ini. Ratusan restoran halal berjajar di gang-gang sempit, dari warung kecil hingga rumah makan besar tempat pesta pernikahan,” kata May.

Jalan Muslim terdiri atas gang-gang seperti Beiyuanmen dan Huajue Lane, di mana arsitektur kuno bergaya Dinasti Ming dan Qing masih berdiri kokoh.

Di tengah kawasan tersebut berdiri Masjid Agung Xi’an, dibangun pada abad ke-8, yang menjadi simbol kuat integrasi Islam dan budaya Tiongkok. Tidak seperti masjid-masjid di dunia Arab, masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur Tiongkok, halaman-halaman bertingkat, paviliun kayu, dan ukiran kaligrafi Arab di atas gerbang-gerbang tradisional.

Meski kehidupan modern telah merambah Xi’an, komunitas Muslim tetap mempertahankan tradisi keagamaan mereka.

“Biasanya umat Muslim ke masjid hanya seminggu sekali, terutama saat salat Jumat. Di luar itu, mereka fokus bekerja dan berdagang,” ujar May.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....