Kota Terlarang, Warisan Kekaisaran Dinasti Tiongkok Kuno

  • 27 Jul 2025 22:14 WIB
  •  Medan

KBRN, Beijing: Kota Terlarang (Forbidden City) atau dikenal juga dengan Istana Kekaisaran Dinasti Ming dan Qing di Beijing, Tiongkok, merupakan salah satu kompleks istana terbesar dan terpenting dalam sejarah dunia. Dikenal sebagai pusat kekuasaan kekaisaran selama lebih dari 500 tahun, situs ini kini menjadi daya tarik utama wisata budaya dan sejarah di Tiongkok. Kota Terlarang dibangun pada tahun 1406 hingga 1420 oleh Kaisar Yongle dari Dinasti Ming dan difungsikan sebagai istana kekaisaran hingga akhir Dinasti Qing.

Kota Terlarang membentang seluas 72 hektare dan terdiri dari 9.999 ruangan, sebuah angka yang diyakini istimewa dalam tradisi Tiongkok karena melambangkan keabadian dan supremasi. Sejak dibuka untuk umum pada tahun 1925, istana ini terus memikat perhatian pengunjung sebagai warisan budaya Tiongkok yang mendunia.

“Sebenarnya masa pemerintahan Dinasti Qing berakhir pada tahun 1912, tetapi pemerintah Tiongkok masih mengizinkan keluarga kekaisaran tinggal di Kota Terlarang hingga tahun 1925,” ungkap William, seorang pemandu tur kepada RRI, Sabtu (26/7/2025).

Kota Terlarang dibangun tepat di garis sumbu utama utara–selatan kota lama Beijing, yang dikenal sebagai Axis Tengah Beijing. Sumbu lurus sepanjang 7,8 kilometer ini menjadi tulang punggung tata kota tradisional Beijing, mencerminkan keseimbangan dan keharmonisan semesta menurut filsafat kosmologi Tiongkok.

“Peletakan Kota Terlarang di tengah-tengah sumbu utama mencerminkan keyakinan bahwa kaisar adalah ‘Putra Langit’ dan menjadi penghubung spiritual antara manusia dan langit,” ujar William.

Seluruh bangunan di kompleks ini didesain secara simetris, mewujudkan harmoni antara dunia spiritual dan fisik. Arah bangunan, jumlah ruang, hingga warna dan bentuk atap memiliki makna simbolis.

Kompleks Kota Terlarang secara struktural terbagi menjadi dua bagian utama yang merepresentasikan fungsi publik dan privat dalam kehidupan kekaisaran, yaitu Outer Court dan Inner Court. Bagian depan atau Outer Court berfungsi sebagai pusat kegiatan politik dan tempat diselenggarakannya upacara-upacara kenegaraan penting.

Hall of Supreme Harmony, bangunan paling ikonik di Kota Terlarang (Foto: RRI/Mario Pascal).

Di area ini terdapat tiga bangunan utama yang mencerminkan hierarki dan kemegahan kekuasaan kekaisaran. Pertama adalah Hall of Supreme Harmony, tempat berlangsungnya upacara-upacara besar seperti penobatan kaisar.

“Area ini merupakan bagian aktivitas politik kerajaan,” kata William.

Selanjutnya, terdapat Hall of Central Harmony yang berfungsi sebagai ruang istirahat kaisar sebelum memimpin upacara resmi. Lalu, Hall of Preserving Harmony digunakan sebagai tempat pelaksanaan ujian kekaisaran serta perjamuan-perjamuan besar.

Sementara itu, bagian belakang atau Inner Court menjadi ranah pribadi bagi kehidupan keluarga kekaisaran. Di kawasan ini berdiri Palace of Heavenly Purity sebagai kediaman resmi kaisar, dan Hall of Union yang melambangkan keharmonisan antara kaisar dan permaisuri. Adapun permaisuri tinggal di Palace of Earthly Tranquility. Tidak jauh dari kediaman utama, terdapat Imperial Garden, sebuah taman kekaisaran yang indah dengan paviliun, batu hias, dan pohon-pohon tua, yang menjadi tempat istirahat dan relaksasi bagi keluarga istana.

Setiap elemen arsitektur di Kota Terlarang tidak hanya dirancang untuk memenuhi fungsi struktural, tetapi juga sarat dengan makna simbolis yang mencerminkan kekuasaan kekaisaran, tatanan kosmis, serta nilai-nilai budaya Tiongkok kuno. Warna menjadi salah satu unsur paling mencolok yang digunakan secara strategis di seluruh kompleks istana.

Warna kuning mendominasi bagian atap bangunan utama. Dalam budaya Tiongkok, kuning adalah warna eksklusif bagi kaisar, melambangkan kekuasaan mutlak dan kemakmuran.

Sementara itu, merah digunakan secara luas pada dinding dan tiang-tiang istana, mewakili keberuntungan, semangat, dan vitalitas. Warna ini dipercaya membawa keberkahan dan memperkuat kesan keagungan istana.

Salah satu elemen arsitektur paling ikonik dan kaya makna di Kota Terlarang adalah keberadaan deretan figur mitologis berbentuk keramik yang ditempatkan di punggungan atap. Figur-figur ini bukan sekadar ornamen dekoratif, melainkan simbol perlindungan dan kekuasaan spiritual.

“Semakin penting bangunan, semakin banyak jumlah binatang mitologis yang menghiasinya,” ucap William.

Memasuki Kota Terlarang berarti melintasi simbol-simbol kekuasaan yang tertanam dalam arsitektur gerbang-gerbangnya. Setiap gerbang memiliki fungsi dan makna yang mencerminkan tatanan sosial di masa kekaisaran. William menjelaskan bahwa gerbang utama istana tidak dapat dilewati sembarang orang.

“Pintu di tengah adalah untuk kaisar. Di sebelah kanan digunakan oleh para bangsawan, sebelah kiri untuk para pejabat, dan pintu-pintu lainnya untuk pegawai kerajaan,” katanya.

Pengaturan ini mencerminkan struktur hierarki yang ketat dalam sistem pemerintahan kekaisaran Tiongkok, di mana setiap orang memiliki tempat dan jalur yang sesuai dengan statusnya. Gerbang menjadi pembatas antara rakyat biasa dan pusat kekuasaan, serta lambang kehormatan bagi mereka yang diberi akses melaluinya.

Namun, meski Kota Terlarang dinamakan “terlarang”, bukan berarti tertutup sepenuhnya bagi rakyat biasa. Ada satu jalan terhormat untuk dapat masuk dan bahkan bekerja di dalam lingkungan istana, yaitu melalui sistem ujian kekaisaran. Sistem ini menjadi instrumen utama dalam memilih pejabat negara berdasarkan kemampuan intelektual, bukan garis keturunan.

“Kaisar mengadakan lima tahap ujian untuk mencari orang yang terpintar. Mulai dari tingkat kabupaten, tingkat provinsi, tingkat nasional, dan ujian istana yang langsung diawasi oleh kaisar. Dari ribuan peserta, hanya yang terbaik yang diterima, berkisar 200–300 peserta,” jelas William.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....