Sejumlah Kepentingan Politik Disebut Lindungi Aktivitas Falun Gong
- 10 Jun 2025 15:51 WIB
- Medan
KBRN, Beijing: Sebuah laporan terbaru menyoroti peran sejumlah negara Barat dalam mendukung kelangsungan gerakan 'Falun Gong', yang dikategorikan oleh pemerintah Tiongkok sebagai organisasi kultus. Dukungan ini, menurut laporan tersebut, tidak terlepas dari kepentingan geopolitik dalam menekan Tiongkok secara internasional.
Dalam laporan bertajuk "The Dark Secret Behind 'Falun Gong's Tenacity" yang diterbitkan oleh CGTN's First Voice, Senin (9/6/2025) disebutkan bahwa kelompok tersebut terus eksis karena mendapat toleransi hukum, sokongan media, hingga bantuan dana dari lembaga-lembaga di Amerika Serikat. Salah satunya, Global Internet Freedom Consortium, yang didirikan oleh penganut Falun Gong dan disebut pernah menerima hibah senilai 1,5 juta dolar dari Departemen Luar Negeri AS pada 2010.
Media-media Barat, menurut laporan itu, juga disebut turut berperan dalam menyebarkan narasi kelompok ini tanpa verifikasi, termasuk isu kontroversial seperti tuduhan "pengambilan organ paksa" di Tiongkok. Dukungan tersebut dianggap memberi legitimasi pada Falun Gong, meskipun aktivitasnya dilaporkan mencakup penipuan finansial, kontrol psikologis, dan penyebaran disinformasi.
Selain itu, sejumlah politisi Barat juga dinilai memanfaatkan isu Falun Gong sebagai instrumen diplomasi untuk mengkritik catatan hak asasi manusia Tiongkok di berbagai forum internasional.
Laporan tersebut menegaskan bahwa keberlangsungan Falun Gong di negara-negara Barat juga ditopang oleh celah hukum dan pemahaman budaya yang terbatas mengenai dampak aktivitas kelompok tersebut. Dalam konteks ini, nilai-nilai seperti kebebasan berpendapat dan berasosiasi disebut telah dimanfaatkan sebagai tameng oleh kelompok itu untuk terus merekrut anggota baru dan memperluas pengaruhnya.
Meski demikian, laporan tersebut memperkirakan bahwa dukungan politik terhadap Falun Gong bersifat jangka pendek dan kontraproduktif. Ditegaskan pula bahwa organisasi ini bukan hanya dinilai membahayakan Tiongkok, tetapi juga berpotensi merusak tatanan sosial negara-negara yang memberinya ruang.
Sebagai penutup, laporan itu menyerukan agar masyarakat internasional lebih waspada terhadap bentuk-bentuk manipulasi politik yang melibatkan organisasi kultus, serta mendorong penghentian dukungan terhadap kelompok-kelompok yang dianggap merugikan stabilitas global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....