Tiongkok Dominasi Peringkat Global Perguruan Tinggi Dunia
- 08 Jun 2025 20:15 WIB
- Medan
KBRN, Beijing: Peta pendidikan tinggi global mengalami pergeseran signifikan. Tiongkok untuk pertama kalinya melampaui Amerika Serikat dalam jumlah universitas yang masuk dalam daftar peringkat Global 2000 yang dirilis oleh Center for World University Rankings (CWUR), Senin (3/6/2025).
Dalam laporan China Daily, Tahun ini, 346 universitas Tiongkok tercatat dalam daftar, naik dari 324 tahun sebelumnya. Sebaliknya, jumlah universitas AS turun dari 329 menjadi 319. Kini, lembaga pendidikan tinggi asal Tiongkok mewakili 17 persen dari total daftar.
CWUR mencatat, sebanyak 98 persen universitas di Tiongkok mengalami kenaikan peringkat. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan performa riset dan dukungan pendanaan pemerintah yang berkelanjutan. Tsinghua University naik enam peringkat ke posisi 37 berkat keunggulan dalam bidang ketenagakerjaan dan penelitian. Peking University naik ke posisi 44, dan University of Chinese Academy of Sciences melonjak ke peringkat 46, mengungguli Shanghai Jiao Tong University (61) dan Zhejiang University (68).
Presiden CWUR, Nadim Mahassen, menyatakan bahwa dukungan finansial yang besar dari pemerintah telah menjadikan universitas-universitas Tiongkok semakin kompetitif di kancah akademik global.
Meskipun delapan dari sepuluh universitas terbaik dunia masih berasal dari AS, termasuk Harvard, MIT, dan Stanford, Mahassen mengingatkan bahwa 83 persen universitas AS dalam daftar justru mengalami penurunan peringkat. Ia menyoroti bahwa penurunan ini berkaitan dengan pemotongan dana federal, serta polemik mengenai kebebasan akademik dan kebebasan berpendapat.
Kontroversi kebijakan visa, termasuk langkah pemerintahan Trump yang sempat mencabut izin tinggal mahasiswa asing , sebelum dibatalkan oleh pengadilan federal, menambah tekanan pada sistem pendidikan tinggi AS.
"Selama bertahun-tahun, universitas-universitas di AS menjadi tujuan utama mahasiswa internasional, terutama dari Tiongkok. Tapi kini situasinya bisa berubah," kata Mahassen.
Liu Wei, Wakil Presiden Senior New Channel International Education Group, menyebutkan bahwa universitas-universitas Tiongkok menunjukkan konsistensi dalam berbagai sistem peringkat global seperti QS, Times Higher Education, dan Academic Ranking of World Universities. Ia menambahkan bahwa kebijakan visa AS yang ketat, khususnya terhadap mahasiswa dari bidang studi tertentu, turut memengaruhi peta pendidikan tinggi global. "Ketidakpastian visa membuat banyak mahasiswa Tiongkok mempertimbangkan negara lain," ujar Liu.
Negara seperti Inggris, Kanada, Australia, Singapura, dan beberapa negara Eropa kini memperkuat upaya menarik mahasiswa internasional. Di saat yang sama, universitas di Hong Kong juga cepat merespons dengan menawarkan bantuan kepada calon mahasiswa internasional saat AS memperketat kebijakan masuk.
Menurut Chen Zhiwen, anggota Chinese Society of Educational Development Strategy, penurunan jumlah mahasiswa Tiongkok di kampus AS bisa berdampak langsung pada produktivitas akademik di sana, terutama di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.
“Sebaliknya, universitas di Tiongkok justru bisa mendapatkan keuntungan jangka panjang karena para calon mahasiswa kini lebih memilih institusi domestik berkualitas tinggi,” ucap Chen.
Ia menambahkan, sejak 2018, jumlah lulusan Tsinghua University yang memilih studi ke luar negeri terus menurun. Tren ini berpotensi menciptakan sistem pendidikan tinggi global yang lebih multipolar dan mengurangi dominasi historis AS.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....