Inggris Tolak Turunkan Standar Pangan dalam Negoisasi AS
- 24 Apr 2025 15:29 WIB
- Medan
KBRN, Washington: Menteri Keuangan Inggris, Rachel Reeves, menyatakan bahwa pemerintahnya tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dagang dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Dalam kunjungannya ke Washington, ia menegaskan bahwa Inggris tidak akan mengorbankan standar pangan nasional dalam proses negosiasi.
"Kami tidak akan terburu-buru dalam mencapai kesepakatan. Kami ingin mendapatkan perjanjian yang tepat dan sesuai dengan kepentingan nasional kami, dan pembicaraan itu masih berlangsung," ujar Reeves dikutip dari Reuters, Rabu (24/4/2025), .
Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat juga menunjukkan minat untuk menyepakati perjanjian dagang, sehingga diskusi masih terus berlanjut.
Selama menghadiri pertemuan musim semi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di ibu kota AS, Reeves, bersama sejumlah pejabat keuangan global lainnya, berharap dapat mendorong penurunan tarif impor yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump.
Menurut laporan Wall Street Journal pada Selasa lalu, pemerintah AS disebut meminta Inggris melonggarkan tarif dan hambatan non-tarif terhadap sejumlah produk, termasuk pelonggaran aturan terhadap impor produk pertanian AS seperti daging sapi. "Kami tidak akan melonggarkan standar pangan kami. Kami telah menyampaikan hal itu dengan jelas kepada pihak AS, dan mereka menghormati serta memahaminya," tegas Reeves.
Di samping upaya menjalin kesepakatan dengan AS, Inggris juga ingin menurunkan hambatan perdagangan pasca-Brexit dengan Uni Eropa. Namun, langkah ini bisa menjadi lebih rumit apabila Inggris menyetujui permintaan Washington terkait standar pangan.
Masih mengutip laporan WSJ, AS juga mendorong agar Inggris menurunkan tarif impor otomotif dari 10% menjadi 2,5%. Meski begitu, Reeves enggan mengomentari rincian tersebut, namun menegaskan bahwa Inggris tidak berada di bawah tekanan untuk mengubah standar nasional atas desakan negara lain.
"Kami tidak akan mengubah standar kami hanya karena permintaan dari pemerintah asing. Jadi, keputusan mengenai standar pangan, layanan digital, maupun standar otomotif, tetap menjadi kewenangan pemerintah Inggris," kata Reeves.
Ia dijadwalkan bertemu dengan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pekan ini dan berharap dapat mendorong kesepakatan dagang yang juga memperkuat hubungan pertahanan dan keamanan antara kedua negara.
"Saya yakin bahwa ada peluang kesepakatan, baik dalam hal tarif maupun kerja sama yang lebih luas di luar isu tarif, seperti kemitraan teknologi yang memperkuat hubungan keamanan dan pertahanan nasional kita," ungkapnya.
Terkait data resmi yang dirilis pada hari yang sama, yang menunjukkan peningkatan utang pemerintah Inggris melebihi perkiraan, Reeves menyatakan kesiapannya untuk mengambil langkah-langkah tegas dalam tinjauan belanja dua tahunan pada bulan Juni mendatang. "Angka-angka hari ini justru menegaskan pentingnya fokus pemerintah ini dalam menjaga stabilitas keuangan publik," ujarnya. "
Ia yakin meningkatkan produktivitas layanan publik secara signifikan, dan itulah yang akan menjadi fokus tinjauan belanja tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....