Tiongkok-Kamboja Maksimalkan Komite Koordinasi Antarpemerintah Bilateral

  • 20 Apr 2025 01:53 WIB
  •  Medan

KBRN, Phnom Penh: Tiongkok dan Kamboja sepakat untuk memperkuat koordinasi strategis bilateral melalui optimalisasi mekanisme Komite Koordinasi Antarpemerintah dan peluncuran dialog strategis “2+2” antara menteri luar negeri dan pertahanan kedua negara. Komitmen ini ditegaskan dalam pertemuan antara Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, di Peace Palace, Phnom Penh, Kamis malam (17/4/2025).

Presiden Xi menekankan bahwa pemanfaatan Komite Koordinasi Antarpemerintah Tiongkok-Kamboja sangat penting untuk menjamin kesinambungan, efisiensi, dan efektivitas kerja sama lintas sektor antara kedua negara. Komite ini menjadi kanal utama dalam mengelola proyek-proyek prioritas dan merespons tantangan bersama secara terkoordinasi.

“Kita perlu memaksimalkan peran Komite Koordinasi Antarpemerintah serta mempercepat pelaksanaan dialog strategis tingkat tinggi antara menteri luar negeri dan pertahanan, agar kerja sama keamanan dan diplomasi kedua negara berjalan lebih solid,” ujar Presiden Xi.

Sebagai pelengkap koordinasi tersebut, kedua negara juga akan mengaktifkan format dialog strategis “2+2” yang melibatkan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan. Langkah ini dinilai krusial untuk menghadapi dinamika kawasan dan merespons risiko geopolitik secara kompak.

Tidak hanya memperkuat pilar diplomasi dan keamanan, Presiden Xi juga menyoroti pentingnya pengembangan kerangka kerja sama yang disebut sebagai “Diamond Hexagon Cooperation Framework”. Kerangka ini merupakan peta jalan baru dalam hubungan bilateral yang mencakup enam sektor utama: politik, kapasitas produksi, pertanian, energi, keamanan, dan pertukaran antar masyarakat.

“Diamond Hexagon menjadi model kerja sama strategis yang tidak hanya simbolik, tetapi juga substantif, mencerminkan kedalaman dan keluasan hubungan kedua negara,” tambah Xi.

Kerja sama ini akan disinergikan pula dengan Belt and Road Initiative (BRI), sehingga proyek-proyek infrastruktur dan industri di Kamboja dapat terintegrasi dalam jalur konektivitas regional Tiongkok. Tiongkok mendorong lebih banyak investornya untuk masuk ke Kamboja dan memperkuat pembangunan rantai pasok bersama.

Perdana Menteri Hun Manet menyambut baik pembentukan dialog strategis “2+2” dan penguatan koordinasi antarpemerintah. Ia menyebut bahwa langkah ini akan memperkuat transparansi, komunikasi, dan efisiensi kerja sama bilateral dalam menghadapi dinamika regional maupun global.

“Kamboja siap menyambut perluasan kerja sama strategis ini demi kesejahteraan dan stabilitas bersama,” ungkap Hun Manet.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....