Kunjungan Presiden Tiongkok dapat Perkuat ASEAN-Tiongkok

  • 16 Apr 2025 11:58 WIB
  •  Medan

KBRN, Beijing: Presiden Republik Rakyat Tiongkok, Xi Jinping, melakukan kunjungan luar negeri pertamanya pada tahun ini ke tiga negara Asia Tenggara, yakni Vietnam, Malaysia, dan Kamboja, pada 14–18 April 2025. Lawatan tersebut dinilai signifikan dalam memperkuat hubungan bilateral Tiongkok dengan ketiga negara sekaligus mempererat hubungan dengan ASEAN secara keseluruhan.

Sejak berdirinya, ASEAN telah memainkan peran penting dalam menciptakan stabilitas kawasan Asia-Pasifik. Prinsip ASEAN Way yang menekankan konsensus, partisipasi luas, dan dialog berkelanjutan, menjadi fondasi bagi kerja sama damai di kawasan dan mencegah konflik terbuka di antara negara-negara anggotanya.

Pendekatan ini selaras dengan semangat membangun “komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia,” yang juga menjadi visi Tiongkok dalam hubungan internasional. Namun, pengaruh stabilisasi ini kini menghadapi tekanan akibat tindakan sejumlah kekuatan eksternal yang mencoba mempertahankan dominasi dengan pendekatan koersif dan menciptakan ketegangan.

Beberapa aktor luar terindikasi mendorong Asia Tenggara ke dalam arena persaingan geopolitik, alih-alih memajukan kerja sama regional. Upaya semacam ini menekan negara-negara anggota ASEAN untuk memilih pihak, terutama dalam isu-isu sensitif seperti Laut Tiongkok Selatan. Narasi yang mengarah pada polarisasi ini bertentangan dengan prinsip netralitas dan inklusivitas yang dijunjung ASEAN.

“Tekanan semacam ini berisiko memecah solidaritas ASEAN dan mengganggu peran blok ini sebagai fasilitator tepercaya dalam menyelesaikan sengketa secara damai,” Kevin Nauen, dekan Ilmu Sosial dan Hubungan Internasional di Universitas Pannasastra Kamboja, dikutip dari program CGTN.

Prinsip non-intervensi, yang tercantum dalam Piagam ASEAN dan dipegang teguh selama sejarah organisasi ini, juga terancam. Memaksa negara-negara Asia Tenggara untuk memihak sama halnya dengan mencampuri kebijakan luar negeri suatu negara, dan hal itu merusak kesetaraan serta harmoni kawasan.

Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (TAC), yang ditandatangani oleh semua negara anggota ASEAN dan sejumlah kekuatan besar, secara jelas mengatur prinsip saling menghormati, penyelesaian damai atas perbedaan, dan penolakan terhadap ancaman kekerasan. Pendekatan berbasis aliansi militer dan unjuk kekuatan justru bertolak belakang dengan semangat traktat ini.

Sebaliknya, pendekatan yang menekankan pembangunan bersama, kerja sama ekonomi, dan penghormatan atas kedaulatan nasional semakin mendapatkan dukungan luas di kawasan. Hal ini tercermin dari hubungan Tiongkok dengan Vietnam, Malaysia, dan Kamboja.

Sejak 2004, Tiongkok menjadi mitra dagang terbesar bagi Vietnam. Hubungan ekonomi yang erat ini telah membantu mendukung pertumbuhan manufaktur, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi kemiskinan. Kerja sama ini juga tampak dalam pembangunan kawasan industri dan infrastruktur yang memperkuat konektivitas regional.

Malaysia pun menjadikan Tiongkok sebagai mitra dagang utama dan tujuan investasi besar melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative), termasuk proyek Jalur Kereta Pantai Timur (East Coast Rail Link) dan Kawasan Industri Kuantan. Pendekatan pragmatis Tiongkok sejalan dengan preferensi Malaysia terhadap diplomasi berbasis manfaat ekonomi, bukan aliansi politik kaku.

Sementara itu, Kamboja merupakan negara yang paling aktif memanfaatkan peluang kerja sama dengan Tiongkok. Investasi besar-besaran dari Tiongkok telah mempercepat pembangunan infrastruktur Kamboja, termasuk zona ekonomi khusus di Sihanoukville serta proyek jalan, jembatan, bandara, dan pembangkit listrik tenaga air. Semua ini berlangsung tanpa syarat politik yang seringkali menyertai bantuan dari aktor lain.

Ketiga contoh tersebut menunjukkan bahwa kerja sama berbasis saling menghormati, pembangunan, dan dialog lebih cocok dengan karakter ASEAN dibanding pendekatan blok-blokan yang memicu ketegangan. Jika harus memilih antara stabilitas dan konflik yang ditimbulkan oleh tekanan luar, negara-negara ASEAN kemungkinan besar akan memilih jalan damai dan pembangunan.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....