Tiongkok Rilis Buku Putih Soal Hubungan Dagang AS

  • 12 Apr 2025 20:05 WIB
  •  Medan

KBRN, Beijing: Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) merilis buku putih berjudul “China’s Position on Some Issues Concerning China-US Economic and Trade Relations” pada Selasa (8/4/2025). Dokumen ini diterbitkan oleh Kantor Informasi Dewan Negara Tiongkok sebagai tanggapan terhadap dinamika hubungan ekonomi yang semakin kompleks antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Melalui buku putih ini, Beijing menyampaikan posisi resmi, data statistik, serta pandangan strategisnya terkait isu-isu utama dalam hubungan ekonomi dan perdagangan bilateral dengan Washington. Dalam pengantarnya, Tiongkok menyatakan bahwa sebagai dua ekonomi terbesar dunia, hubungan ekonomi Tiongkok-AS memiliki arti penting tidak hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi kestabilan dan pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan. Oleh karena itu, penyelesaian berbagai perbedaan harus dilakukan melalui prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan dialog yang konstruktif.

Buku putih ini terdiri dari enam bagian utama yang secara sistematis menjelaskan klaim Tiongkok bahwa hubungan ekonomi antara kedua negara bersifat saling menguntungkan dan memberikan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan, serta penguatan rantai pasok global.

Tiongkok menekankan bahwa selama beberapa dekade terakhir, volume perdagangan bilateral meningkat drastis, dan perusahaan serta konsumen di kedua negara telah memperoleh manfaat nyata.

Dalam kaitannya dengan Perjanjian Dagang Fase Satu yang ditandatangani pada Januari 2020, Tiongkok menyatakan telah memenuhi seluruh komitmennya. Hal ini mencakup perlindungan kekayaan intelektual, pelarangan transfer teknologi secara paksa, pembukaan akses pasar di sektor keuangan, serta peningkatan signifikan dalam impor produk-produk pertanian dan energi dari AS.

Sebagai negara besar yang memegang teguh tanggung jawab internasionalnya, China telah secara serius melaksanakan komitmen dalam perjanjian dagang fase satu, meski menghadapi tantangan berat seperti pandemi, disrupsi rantai pasok, dan tekanan ekonomi global,” tulis pernyataan dalam buku putih tersebut.

Namun demikian, dalam bagian lain dari buku putih, Tiongkok menyoroti bahwa Amerika Serikat gagal memenuhi kewajiban yang sama. Alih-alih menciptakan lingkungan yang kondusif untuk kerja sama ekonomi, pemerintah AS justru terus menerapkan langkah-langkah sepihak seperti peningkatan tarif, pembatasan ekspor, sanksi terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok, dan peluncuran investigasi perdagangan baru yang menggunakan isu seperti fentanyl dan keamanan nasional sebagai dasar. Tiongkok menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk proteksionisme dan unilateralisme yang tidak hanya melanggar semangat Perjanjian Dagang Fase Satu, tetapi juga bertentangan dengan prinsip-prinsip Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Buku putih ini juga menegaskan komitmen Tiongkok terhadap prinsip perdagangan bebas dan aturan multilateral. Sejak bergabung dengan WTO pada tahun 2001, Tiongkok mengklaim telah melakukan reformasi besar-besaran dalam sistem hukum dan kebijakan perdagangan domestik untuk memastikan kesesuaian dengan aturan internasional. Tingkat tarif rata-rata telah diturunkan secara bertahap, dan berbagai pembatasan terhadap investasi asing telah dilonggarkan. Bahkan, sejak 2024, Tiongkok telah memberlakukan tarif nol persen untuk semua negara kurang berkembang yang memiliki hubungan diplomatik dengan Beijing, sebagai bentuk kontribusi terhadap perdagangan global yang lebih adil.

Lebih lanjut, Tiongkok menanggapi secara tegas upaya pemerintah AS untuk mencabut status Most Favored Nation (MFN) atau PNTR (Permanent Normal Trade Relations) terhadap Beijing. Tindakan ini dinilai melanggar aturan WTO dan akan merusak fondasi hubungan dagang bilateral yang telah dibangun sejak aksesi Tiongkok ke WTO. Dalam dokumen itu, Tiongkok memperingatkan bahwa langkah semacam ini dapat memicu ketidakstabilan baru dalam sistem perdagangan global dan mengganggu rantai pasok internasional yang sudah terintegrasi.

Meskipun menghadapi berbagai tekanan, Tiongkok menyatakan tidak memiliki niat untuk memperburuk keadaan. Sebaliknya, Beijing menegaskan keinginannya untuk mempertahankan stabilitas hubungan bilateral dan menyelesaikan perselisihan melalui dialog setara. China juga menyoroti bahwa selama pelaksanaan perjanjian dagang, mereka tidak pernah mengaktifkan mekanisme penyelesaian sengketa dan tetap menjalin komunikasi teknis dengan AS secara rutin, sebagai bentuk niat baik. Di akhir dokumen, Tiongkok menyerukan agar kedua pihak kembali ke jalur kerja sama, menjauhi konfrontasi, dan membangun kembali kepercayaan melalui tindakan nyata yang mengedepankan kepentingan bersama.

Peluncuran buku putih ini menjadi strategi komunikasi Tiongkok dalam menyampaikan narasi resminya kepada dunia internasional. Melalui argumentasi data dan penjelasan kebijakan, Beijing berupaya menegaskan citranya sebagai negara yang menjunjung tinggi keterbukaan, perdagangan bebas, dan multilateralisme. Di tengah meningkatnya tensi ekonomi global, buku ini menjadi pernyataan politik-ekonomi penting yang mencerminkan arah kebijakan luar negeri dan ekonomi Tiongkok dalam menghadapi tantangan global serta sikap unilateral Amerika Serikat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....