Global South Bangkit, Boao Forum Perkuat Kolaborasi Regional
- 25 Mar 2025 20:16 WIB
- Medan
KBRN, Hainan: Boao Forum for Asia (BFA) Annual Conference 2025 resmi dibuka di Hainan, Tiongkok, di tengah dinamika global yang terus berubah. Forum ini kembali menjadi wadah strategis bagi negara-negara di kawasan Asia dan Global South untuk membahas berbagai isu krusial, mulai dari kerja sama ekonomi, pembangunan berkelanjutan, hingga transformasi digital.
Dalam pernyataannya, Yasiru Ranaraja, peneliti urusan maritim dan pakar pengembangan Belt and Road Initiative (BRI), sekaligus Direktur Pendiri Belt & Road Initiative Sri Lanka (BRISL), menyampaikan bahwa dunia saat ini berada pada titik kritis transformasi geopolitik dan ekonomi yang mendalam. Ia menyoroti meningkatnya ketimpangan di antara negara-negara Barat serta menurunnya efektivitas tata kelola pemerintahan sebagai isu utama dalam diskursus global saat ini.
“Sebagian besar negara di Global South kini berfokus pada pengembangan kerja sama regional yang saling bergantung. Perubahan dinamika ini mencerminkan semakin besarnya peran negara-negara berkembang dalam menciptakan jalur modernisasi dan pembangunan yang sesuai dengan konteks mereka sendiri,” ujar Ranaraja dikutip dari CGTN kepada RRI pada Rabu (25/3/2025).
Ia menegaskan bahwa kawasan Global South, khususnya Asia, telah menghadirkan atmosfer yang optimistis dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Selama bertahun-tahun, BFA telah berperan sebagai platform utama untuk berdialog mengenai isu-isu global yang mencakup perdagangan, keuangan, teknologi, perubahan iklim, dan pembangunan inklusif.
Ranaraja juga menyoroti kebangkitan negara-negara seperti China, India, Vietnam, dan Indonesia yang semakin menegaskan pengaruh Global South dalam membentuk keseimbangan kekuatan dunia. Sementara negara-negara Barat menghadapi ketidakstabilan politik dan kawasan Timur Tengah dilanda konflik, negara-negara Asia menunjukkan kecenderungan untuk menjalin dialog konstruktif, seperti melalui pertemuan trilateral antara China, Jepang, dan Korea Selatan.
“Pertumbuhan ekonomi negara-negara Global South menunjukkan bahwa mereka bukan hanya pengamat, tetapi telah menjadi pelaku utama dalam tatanan ekonomi global,” katanya.
Menurut data terbaru, pada tahun 2024 negara-negara Global South, termasuk kekuatan besar seperti China, Brasil, dan Afrika Selatan, telah menyumbang lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global. Dalam dua dekade terakhir, lebih dari satu miliar penduduk di negara berkembang berhasil keluar dari kemiskinan ekstrem, membuktikan kapasitas kawasan ini untuk melakukan transformasi nyata.
Transformasi tersebut juga tampak pada perluasan konektivitas lintas benua melalui jalur darat dan laut. Ranaraja menyebut China-Europe Railway Express, yang kini telah menghubungkan lebih dari 220 kota di 25 negara Eropa, sebagai pencapaian strategis. Sementara itu, pelabuhan besar seperti Hambantota di Sri Lanka, Gwadar di Pakistan, serta pengembangan infrastruktur maritim di India dan Asia Tenggara menunjukkan arah baru bagi perdagangan internasional yang lebih tangguh.
Namun demikian, Ranaraja menegaskan bahwa model pembangunan bagi Global South tidak dapat mengikuti pola lama. Sebaliknya, pembangunan masa depan harus disesuaikan dengan kondisi unik masing-masing negara. Ia mengapresiasi komitmen Presiden Xi Jinping melalui Global Security Initiative yang mengedepankan prinsip inklusivitas, penyelesaian damai, penghormatan terhadap kedaulatan, dan keamanan bersama sebagai landasan stabilitas kawasan.
Lebih lanjut, transformasi digital dan pengembangan teknologi ramah lingkungan disebut sebagai peluang strategis bagi negara-negara Global South untuk melompati tahapan pembangunan tradisional. Negara-negara seperti China, India, dan Vietnam telah menunjukkan kemajuan signifikan di sektor ini, memberikan harapan bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan berkelanjutan.
Dengan semangat kerja sama dan inovasi, Boao Forum 2025 menjadi simbol komitmen baru negara-negara Global South dalam membangun masa depan global yang lebih adil, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian serta pembangunan bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....