Dunhuang, Pusat Perkembangan Buddha di Jalur Sutra Tiongkok

  • 23 Mar 2025 00:08 WIB
  •  Medan

KBRN, Dunhuang: Dunhuang di Provinsi Gansu, Tiongkok, menjadi salah satu titik awal masuknya agama Buddha ke wilayah Tiongkok tengah, sekaligus simpul penting Jalur Sutra sejak masa Dinasti Han. Jalur perdagangan legendaris ini dibuka oleh Kaisar Wu dan menjadikan Dunhuang sebagai pusat lalu lintas para pedagang serta penyebaran budaya dari berbagai penjuru dunia.

“Semua benda bersejarah ini berasal dari Dinasti Han. Pada masa itu, Jalur Sutra yang terkenal telah dibuka oleh Kaisar Wu,” ujar Kang Jinxin, pemandu wisata di Museum Dunhuang, kepada RRI dan para jurnalis internasional yang tergabung dalam China International Press Communication Center (CIPCC), Jumat (14/3/2025) lalu.

Seiring berkembangnya aktivitas perdagangan dan pertukaran budaya di Jalur Sutra, ajaran Buddha mulai diperkenalkan dan menyebar ke wilayah Tiongkok tengah.

“Pada periode ini, Buddha mulai berkembang. Ajaran itu diperkenalkan ke wilayah Tiongkok tengah,” jelas Kang Jinxin.

Peninggalan-peninggalan arkeologis di Dunhuang menggambarkan proses percampuran budaya dan kepercayaan, seperti ditemukannya bantal dari batu giok yang berasal dari makam lokal.

“Bantal giok ini berasal dari pegunungan salju,” tambahnya sambil menunjukkan artefak tersebut.

Beberapa simbol spiritual juga ditemukan dalam makam kuno, seperti patung kura-kura yang melambangkan umur panjang dalam budaya tradisional Tiongkok.

“Dalam budaya tradisional Tiongkok, kura-kura berarti panjang umur,” jelasnya.

Selain itu, empat buah totem biasanya digunakan untuk menyangga tutup peti mati dari kayu. “Awalnya ada empat totem di dalam makam, dan keempatnya menyangga tutup peti dari kayu,” ujar Kang.

Semua benda tersebut ditemukan di daerah Douma, yang dulunya dihuni oleh keluarga-keluarga kaya pada abad ke-1 hingga ke-3 Masehi dan dikenal dengan makam-makam mewahnya.

Rombongan jurnalis juga diajak melihat replika makam lengkap dengan batu bata bergambar yang menggambarkan kehidupan masyarakat masa lalu, mulai dari beternak, memasak, hingga bermain musik.

“Lihat lukisan replika ini, 1.700 tahun lalu, para pelukis hanya menggunakan garis sederhana untuk melukis di atas batu bata,” kata Kang sambil menunjuk bagian dinding pameran. Di sisi kanan ruangan, batu bata asli menampilkan gambar hewan-hewan suci seperti burung dan ikan.

Pada abad ke-4, banyak warga dari wilayah selatan Tiongkok bermigrasi ke wilayah utara, termasuk ke Dunhuang, membawa serta pengaruh budaya dan kepercayaan dari daerah asal mereka.

“Saat itu, budaya dari Tiongkok tengah dan negara-negara Barat bertemu di Dunhuang. Budaya Buddha juga berkembang pesat di tempat ini,” jelas Kang.

Salah satu peninggalan penting dari masa itu adalah stupa asli dari abad ke-4 Masehi yang kini telah berusia sekitar 1.600 tahun. “Ini stupa asli dari abad ke-4 Masehi. Usianya sekitar 1.600 tahun,” ujarnya.

Dunhuang menjadi salah satu tempat pertama di wilayah Tiongkok tengah yang membangun stupa sebagai simbol masuknya ajaran Buddha. Meskipun pada awalnya dianggap sebagai budaya asing, ajaran Buddha lambat laun diterima dan menyatu dengan kehidupan masyarakat lokal.

“Tempat ini bukan hanya pusat penting di Jalur Sutra kuno Tiongkok, tetapi juga merupakan harta karun warisan budaya dunia,” ucap Kang Jinxin, menegaskan pentingnya Dunhuang sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah peradaban Tiongkok dan dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....