Mogao Grottoes, Warisan Gua Seribu Buddha Tiongkok
- 22 Mar 2025 16:24 WIB
- Medan
KBRN, Dunhuang: Mogao Grottoes, atau Mogao Ku (莫高窟), adalah kompleks gua kuno di Dunhuang, Provinsi Gansu, Tiongkok barat laut, yang menyimpan lebih dari 45.000 meter persegi lukisan dinding dan lebih dari 2.000 patung Buddha. Dikenal sebagai Gua Seribu Buddha, situs ini dibangun sejak tahun 366 M dan berkembang selama lebih dari seribu tahun, menjadikannya salah satu peninggalan budaya Buddha paling penting di dunia. Karena letaknya di persimpangan Jalur Sutra, Mogao Grottoes juga menjadi titik temu berbagai peradaban besar dari Timur hingga Barat, yang tercermin dalam gaya seni, arsitektur, dan naskah-naskah kuno yang ditemukan di dalamnya. Pada tahun 1987, UNESCO menetapkan Mogao Grottoes sebagai Situs Warisan Dunia.
Pembangunan gua pertama dimulai oleh seorang biksu bernama Yuezun, yang mengaku melihat cahaya keemasan memancar dari tebing pasir dan merasa terpanggil untuk bermeditasi di tempat itu. Sejak saat itu, pembangunan gua terus berlanjut di bawah patronase para penguasa, pedagang, serta dermawan dari berbagai bangsa.
“Mereka sedang menyampaikan semangat kuno dari Jalur Sutra yang telah ada selama ribuan tahun, serta kesinambungan peradaban kepada dunia,” kata Li Yaping, pemandu wisata Mogao Grottoes kepada RRI dan jurnalis internasional yang tergabung dalam China International Press Communication Center (CIPCC) pada Jumat (14/3/2025) lalu.
Kini, kompleks ini terdiri dari 492 gua utama dengan beragam ornamen, mulai dari lukisan kehidupan Sang Buddha, cerita rakyat, musik, tarian, hingga potret para penyumbang dari India, Asia Tengah, Persia, Tibet, dan Tiongkok.
Salah satu gua yang paling dikagumi adalah gua nomor 45, peninggalan masa Dinasti Tang. Gua ini berisi kelompok patung yang sepenuhnya asli—tidak dicat ulang dan tidak pernah diperbaiki.
“Gua ini telah bertahan selama lebih dari 1.200 tahun. Semuanya asli dari Dinasti Tang,” ujar Li Yaping.
Ia juga menjelaskan bahwa semua patung di Mogao tidak diukir dari batu, melainkan dibangun dengan rangka kayu, dilapisi stucco (campuran tanah liat dan jerami), lalu dicat menggunakan pigmen mineral alami.
“Iklim Dunhuang yang kering sangat membantu pelestarian lukisan dan patung ini,” kata Li Yaping.
Tokoh utama dalam gua tersebut adalah Buddha Shakyamuni, digambarkan dengan alis panjang, hidung tinggi, dan tiga lipatan di lehernya—tanda keberuntungan menurut kepercayaan Buddha. Di samping Buddha, terdapat dua muridnya, Kashyapa, yang digambarkan tua dan kurus, serta Ananda, yang lebih muda dan berwajah lembut.
Dua Bodhisattva berdiri di kanan dan kiri Buddha, mengenakan jubah menyerupai wanita istana Dinasti Tang. Salah satunya adalah Guan Yin, sang penyelamat, yang digambarkan dalam berbagai adegan penolong, termasuk ketika ia membantu pedagang dari wilayah barat yang dirampok di tengah perjalanan. Lukisan tersebut menunjukkan pakaian tradisional, termasuk milik anak-anak, yang menjadi rujukan penting dalam penelitian sejarah kostum kuno.
Di gua-gua lain, pengunjung bisa menemukan lukisan-lukisan pedagang dari Asia Tengah yang membawa alat musik seperti pipa dan genderang—bukti pengaruh budaya asing yang masuk melalui Jalur Sutra. Dalam beberapa lukisan, bahkan tampak pertunjukan musik dan tarian dari “surga barat”, bangunan-bangunan bergaya paviliun Tiongkok kuno, serta gambaran alat musik yang melayang di langit.
Salah satu ikon visual yang paling menarik di Mogao Grottoes adalah sosok Feitian atau Apsara Terbang, makhluk surgawi penari yang menghiasi langit-langit gua.
“Setiap gua punya gaya Feitian yang berbeda. Di masa Dinasti Tang, mereka digambarkan anggun dan elegan. Mereka tidak punya sayap, tetapi pita panjang di tubuh mereka membuat mereka tampak melayang,” ujar Li Yaping. Warna kulit mereka yang kini tampak kecokelatan, menurutnya, adalah hasil oksidasi dari warna asli yang dulunya merah muda atau warna kulit alami.
Keindahan arsitektur Mogao tidak hanya terdapat di dalam gua, tetapi juga di bagian luar. Banyak gua memiliki fasad kayu yang masih asli sejak abad ke-10.
“Terdapat empat fasad kayu yang semuanya asli, dibangun pada abad ke-10, pada masa Dinasti Song. Sekarang, di Gua Mogao, hanya tersisa lima struktur kayu seperti ini,” jelas Li Yaping.
Untuk melindungi warisan berharga ini, sejak tahun 1987, setiap gua telah dilengkapi pintu pelindung. “Setiap gua memiliki pintunya masing-masing. Semua pintu ini disumbangkan oleh seseorang pada tahun 1987 untuk melindungi lukisan dan patung dari pasir serta sinar matahari. Struktur kayunya pun masih utuh,” katanya.
Hari ini, Mogao Grottoes tidak hanya menjadi destinasi wisata budaya dan spiritual, tetapi juga pusat riset dan konservasi internasional. Digitalisasi mural, pembatasan pengunjung, serta pelatihan konservator dilakukan secara ketat untuk menjaga kelestarian situs ini bagi generasi mendatang.
“Tempat ini dulunya adalah pusat aktivitas yang sangat sibuk. Kelompok yang berbeda akan mengunjungi gua-gua yang berbeda, tergantung musim dan waktu,” ungkap Li Yaping.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....