Niger Jadi Negara Afrika Pertama Eliminasi Onchocerciasis
- 02 Feb 2025 21:48 WIB
- Medan
KBRN, Medan: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengakui Nigeria sebagai negara pertama di Afrika yang berhasil mengeliminasi onchocerciasis atau penyakit kebutaan sungai. Keberhasilan ini menjadikan Nigeria sebagai negara kelima di dunia yang memperoleh verifikasi dari WHO atas penghentian transmisi parasit Onchocerca volvulus.
Dalam siaran pers WHO yang dikutip pada Kamis (30/1/2025), Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan apresiasinya atas pencapaian Nigeria dalam memberantas penyakit yang menyebabkan kebutaan dan penderitaan bagi masyarakat miskin.
"Mengeliminasi suatu penyakit adalah pencapaian besar yang membutuhkan dedikasi luar biasa. Saya mengucapkan selamat kepada Nigeria atas komitmennya dalam membebaskan penduduknya dari penyakit ini. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa eliminasi penyakit menular yang terabaikan bukanlah hal mustahil dan memberikan harapan bagi negara lain yang masih berjuang melawan onchocerciasis," ujarnya.
Onchocerciasis, yang juga dikenal sebagai kebutaan sungai, merupakan penyakit parasit yang menjadi penyebab utama kebutaan menular kedua di dunia setelah trachoma. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan lalat hitam yang banyak ditemukan di daerah aliran sungai. Onchocerciasis terutama menyerang populasi pedesaan di Afrika sub-Sahara dan Yaman, dengan wilayah endemik yang lebih kecil di Amerika Latin.
Sejak 1976 hingga 1989, Nigeria menjalankan program pengendalian vektor di bawah inisiatif WHO Onchocerciasis Control Programme in West Africa (OCP). Penyemprotan insektisida dilakukan untuk menekan transmisi penyakit. Langkah ini diperkuat dengan program pemberian obat massal (mass drug administration/MDA) menggunakan ivermectin dan albendazole sejak 2008 hingga 2019, setelah Merck, Sharpe & Dohme (MSD) mendonasikan obat tersebut. Ivermectin tidak hanya efektif melawan onchocerciasis tetapi juga penyakit filariasis limfatik, sehingga program ini berkontribusi besar dalam mengeliminasi parasit Onchocerca volvulus.
Setelah penghentian MDA untuk filariasis limfatik pada 2014, Nigeria mulai melakukan evaluasi awal terhadap transmisi onchocerciasis. Survei entomologi dan epidemiologi yang dilakukan menunjukkan keberhasilan kombinasi pengobatan dan pengendalian vektor, dengan prevalensi penyakit turun drastis dari sekitar 60% menjadi hanya 0,02%.
Menurut WHO, keberhasilan ini tidak terlepas dari kolaborasi erat antara pemerintah Nigeria, WHO, serta berbagai organisasi non-pemerintah. Kemitraan ini berperan penting dalam mobilisasi sumber daya dan dukungan teknis yang memastikan efektivitas intervensi.
Keberhasilan Nigeria bukan hanya membebaskan masyarakat dari beban penyakit yang telah lama menghambat kesejahteraan sosial dan ekonomi, tetapi juga menjadi contoh bagi negara-negara lain di Afrika.
"Onchocerciasis telah menyebabkan penderitaan besar dan menghambat pembangunan ekonomi masyarakat terdampak. Nigeria kini telah menutup lembaran kelam ini. Keberhasilan ini juga menjadikan Nigeria sebagai model dalam eliminasi penyakit tropis terabaikan di Afrika," kata Dr. Matshidiso Moeti, Direktur Regional WHO untuk Afrika.
Nigeria sebelumnya juga mencatatkan prestasi dalam kesehatan masyarakat dengan mengeliminasi penyakit cacing Guinea pada 2013. Dengan capaian terbaru ini, Nigeria kembali menunjukkan kepemimpinan dalam upaya pemberantasan penyakit menular.
Hingga saat ini, 54 negara di dunia telah berhasil mengeliminasi setidaknya satu penyakit tropis terabaikan. Nigeria bergabung dengan empat negara lain yang telah mendapatkan verifikasi WHO dalam eliminasi onchocerciasis, yakni Kolombia (2013), Ekuador (2014), Guatemala (2016), dan Meksiko (2015).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....