China Tegaskan Peran AI untuk Masa Depan Bersama

  • 24 Jan 2025 16:01 WIB
  •  Medan

KBRN, Davos: Wakil Perdana Menteri Dewan Negara China, Ding Xuexiang, menyoroti pentingnya memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan inovasi teknologi lainnya untuk kesejahteraan seluruh umat manusia dalam pidatonya di Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2025 pada Selasa (21/1/2025).

Dalam siaran pers yang diterima RRI dari China News Agency, Ding menyampaikan bahwa kehadiran AI dan teknologi baru lainnya bukan sekadar perkembangan progresif, melainkan transformasi revolusioner. Berkat kerja sama yang terbuka, China telah mencapai kemajuan luar biasa dalam perkembangan ekonomi serta ilmu pengetahuan dan teknologi selama beberapa tahun terakhir, yang juga membantu mempersempit perbedaan dan memperkuat solidaritas dunia.

"Dengan filosofi bahwa 'ilmu pengetahuan tidak mengenal batas dan seharusnya bermanfaat bagi seluruh umat manusia,' China terus mempromosikan kerja sama internasional dalam inovasi dan memastikan hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dinikmati oleh semua," ujar Ding.

Ding juga menjelaskan bahwa China telah menjalin hubungan kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dengan lebih dari 160 negara dan wilayah. Secara khusus, China meningkatkan berbagi hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi dengan negara-negara Global South untuk menjembatani kesenjangan teknologi dan mencegah inovasi sains dan teknologi menjadi "permainan yang hanya diperuntukkan bagi negara kaya dan orang kaya."

Ia mencatat bahwa AI dan teknologi baru lainnya dapat menjadi kekuatan pendorong yang kuat untuk pembangunan, tetapi juga memiliki potensi menjadi sumber risiko. China sangat menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keamanan, mengikuti pendekatan mencari kemajuan sambil memastikan stabilitas, serta berupaya agar inovasi tetap berada di jalur yang benar.

China mengembangkan AI terutama untuk mendorong transisi ekonomi, mewujudkan modernisasi ala China, dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi lebih dari 1,4 miliar rakyatnya. "China tidak akan secara buta mengikuti praktik negara lain atau terlibat dalam persaingan internasional yang berlebihan. Kami telah menerapkan sistem regulasi yang kuat, institusi, dan langkah-langkah, dan yakin dapat memastikan pengelolaan dan pemanfaatan teknologi AI yang baik," jelas Ding.

Ding juga menekankan bahwa tata kelola AI secara global adalah tantangan bersama bagi seluruh dunia. Jika negara-negara terjerumus dalam kompetisi yang tidak teratur, hal ini dapat menjadi ancaman besar seperti "badak abu-abu" di depan mata kita. Ia mencontohkan peran efektif PBB dalam mengelola keamanan nuklir dan biosekuriti selama beberapa dekade sebagai pengalaman berharga. "Penting untuk mendukung PBB dalam memainkan peran sentral, serta merumuskan aturan yang kuat dan efektif berdasarkan partisipasi dan konsultasi bersama oleh semua negara, sehingga AI dan teknologi baru lainnya menjadi 'gudang harta Ali Baba,' bukan 'kotak Pandora,'" ujar Ding.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....