Mengulik Desa Buluh Duri di Medan Sebagai Traveling Anti Mainstream

  • 26 Agt 2026 16:57 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Ketika wisatawan kebanyakan berbondong-bondong ke Danau Toba atau Bukit Lawang, sejumlah pelancong mulai melirik destinasi-destinasi tersembunyi di Sumatera Utara, khususnya di sekitar Medan. Desa Buluh Duri menjadi salah satu destinasi gaya traveling anti-mainstream yang kian digemari, terutama oleh generasi muda yang ingin merasakan langsung kekayaan budaya dan kehidupan lokal.

Desa Buluh Duri, yang terletak sekitar dua jam dari pusat kota Medan, menawarkan pengalaman wisata berbasis budaya, mulai dari menyusuri kebun kopi rakyat, mencicipi makanan khas Batak yang dimasak langsung oleh ibu-ibu desa, hingga menyaksikan pertunjukan musik gondang tradisional.

“Dulu saya pikir jalan-jalan harus jauh dan mahal. Tapi setelah ke Buluh Duri, saya merasa lebih dekat dengan budaya sendiri. Warga ramah, makanannya enak, dan suasananya sangat tenang,” ucap Riko, mahasiswa asal Medan.

Dilansir dari wikipedia.org, Buluduri merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Lae Parira Kabupaten Dairi, provinsi Sumatera Utara, Indonesia Desa ini didirikan oleh marga Sihombing (Ompu Raja Konrad) pada masa kolonial Belanda di Indonesia.

Selain itu, dilansir dari mediacenter.serdangbedagaikab.go.id, Desa Buluh Duri memiliki destinasi wisata unggulan berupa arung jeram (rafting), tepatnya di dusun IV yang dialiri Sungai Bah Bolon. Selain pengunjung juga dapat menikmati keindahan alam berupa Bahgula Waterfall, Green Canyon, Magic Wall, Batu Boru Manjile, dan Batu Katak, sepanjang perjalan.

Traveling anti-mainstream bukan sekadar mencari tempat sepi, tapi juga menggali makna perjalanan. Di Medan, dengan segala keragaman budaya dan sejarahnya, gaya traveling ini membuka jalan untuk pengalaman yang lebih autentik, sekaligus ikut menjaga dan menghidupkan kembali potensi lokal yang selama ini tersembunyi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....