Dialog Luar Studio RRI PRO 2 Medan Bahas Kedekatan Fiksi dengan Kehidupan Nyata

  • 29 Sep 2026 00:32 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Suasana santai namun penuh makna mewarnai kegiatan Dialog Luar Studio “Santai Siang” yang digelar RRI PRO 2 Medan bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU), Senin (28/9/2026). Mengangkat tema “Fiksi, Tapi Kok Nyata? Ngulik Novel yang Relate dengan Kehidupan Kita”, kegiatan ini mengajak mahasiswa dan peserta untuk melihat lebih jauh hubungan antara karya fiksi dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Serbaguna FIB USU tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Emma Marsella, Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Muhammad Nashi Huddin Ubaidillah, Dosen Program Studi Sastra Arab, serta Citra Gandhini Putri, seorang novelis muda. Diskusi dipandu oleh Windy Wen dengan suasana yang dikemas ringan, interaktif, dan dekat dengan keseharian mahasiswa.

Dalam diskusi, Emma Marsella menjelaskan bahwa karya fiksi pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari kehidupan nyata. Menurutnya, pengalaman, lingkungan sosial, hingga keresahan yang dirasakan penulis kerap menjadi sumber inspirasi dalam melahirkan sebuah cerita.

“Novel bukan sekadar imajinasi, tapi refleksi pengalaman dan keresahan masyarakat. Itulah sebabnya pembaca merasa dekat dengan cerita,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa kedekatan pembaca dengan sebuah karya dapat muncul ketika cerita yang disajikan menggambarkan persoalan yang sebenarnya mereka temui dalam kehidupan. Konflik keluarga, persahabatan, percintaan, pendidikan, hingga persoalan sosial dapat dikemas menjadi cerita fiksi yang tetap memiliki keterkaitan dengan realitas.

Menurut Emma, pembaca tidak hanya menikmati alur cerita, tetapi juga dapat menemukan pengalaman atau perasaan yang pernah mereka alami melalui karakter dan konflik dalam novel.

Sementara itu, Muhammad Nashi Huddin Ubaidillah menyoroti fungsi fiksi sebagai media untuk mengenal kehidupan dan budaya yang berbeda. Menurutnya, membaca karya sastra dari latar budaya tertentu dapat membuka kesempatan bagi pembaca untuk memahami cara pandang masyarakat lain.

“Ketika kita membaca kisah dari latar budaya berbeda, kita belajar memahami nilai dan cara pandang orang lain. Fiksi menjadi ruang dialog yang universal,” katanya.

Ia menambahkan, karya sastra dapat menjadi jembatan yang mempertemukan pembaca dengan berbagai pengalaman manusia. Meskipun latar tempat, budaya, maupun karakter dalam cerita berbeda, persoalan yang diangkat terkadang memiliki kesamaan dengan kehidupan pembaca.

Hal tersebut membuat karya fiksi tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana pembelajaran dan refleksi. Pembaca dapat melihat suatu persoalan dari sudut pandang karakter lain tanpa harus mengalami peristiwa tersebut secara langsung.

Berbeda dengan perspektif akademisi, novelis Citra Gandhini Putri membagikan pengalamannya dalam menemukan ide dan membangun cerita. Ia mengungkapkan bahwa inspirasi menulis tidak selalu datang dari peristiwa besar. Hal-hal sederhana yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari justru dapat berkembang menjadi sebuah cerita.

“Cerita yang relatable biasanya lahir dari keseharian. Justru detail kecil yang membuat pembaca merasa ‘ini aku banget’,” tuturnya.

Citra menjelaskan bahwa seorang penulis perlu peka terhadap lingkungan di sekitarnya. Percakapan sederhana, kebiasaan seseorang, pengalaman pribadi, maupun kejadian yang terlihat sepele dapat menjadi bahan untuk membangun karakter dan konflik dalam sebuah novel.

Sesi diskusi kemudian semakin menarik ketika mahasiswa yang hadir diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada para narasumber.

Sejumlah mahasiswa terlihat antusias mengikuti sesi tanya jawab. Pertanyaan yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan proses menulis novel, tetapi juga mengenai bagaimana menentukan ide cerita, membangun karakter yang terasa hidup, serta membuat sebuah karya fiksi tetap memiliki hubungan dengan realitas kehidupan pembaca.

Salah seorang mahasiswa juga menanyakan bagaimana cara seorang penulis membedakan antara pengalaman pribadi dengan cerita fiksi, terutama ketika pengalaman tersebut menjadi sumber inspirasi utama dalam menulis.

Pertanyaan tersebut mendapat tanggapan dari Citra Gandhini Putri. Ia menjelaskan bahwa pengalaman pribadi memang dapat menjadi titik awal sebuah cerita, namun dalam proses penulisan, pengalaman tersebut dapat dikembangkan dan diolah menjadi cerita baru. Penulis memiliki ruang untuk mengubah karakter, latar, konflik, maupun alur sehingga cerita dapat berdiri sebagai sebuah karya fiksi.

Pertanyaan lain dari mahasiswa membahas mengenai alasan pembaca bisa merasa sangat dekat dengan karakter dalam sebuah novel. Para narasumber kemudian menjelaskan bahwa kedekatan tersebut dapat muncul karena adanya kesamaan emosi, pengalaman, maupun persoalan yang dialami pembaca dan karakter dalam cerita.

Sesi tanya jawab berlangsung cukup hidup. Mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi ikut terlibat dalam pembahasan dengan menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka ketika membaca novel.

Interaksi tersebut membuat pembahasan mengenai fiksi terasa semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Beberapa peserta juga mengaitkan pengalaman mereka dalam membaca novel dengan kehidupan perkuliahan, pertemanan, keluarga, hingga proses menemukan jati diri.

Selain diskusi, kegiatan juga dimeriahkan dengan penampilan musik dari Yasmine Hauraa Kamilla dan El-Farabi Beat. Penampilan tersebut membuat suasana acara semakin hangat dan akrab, sekaligus menjadi selingan di tengah rangkaian diskusi.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Mahasiswa yang memenuhi Ruang Serbaguna FIB USU tampak mengikuti pembahasan dan sesi tanya jawab dengan aktif. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pembahasan mengenai sastra dan karya fiksi masih memiliki ruang yang luas untuk didiskusikan, khususnya ketika dikaitkan dengan persoalan kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan tersebut, RRI PRO 2 Medan bersama FIB USU tidak hanya menghadirkan diskusi mengenai novel, tetapi juga membuka ruang pertemuan antara akademisi, penulis, dan mahasiswa untuk membicarakan bagaimana karya sastra dapat merekam realitas kehidupan.

Tema “Fiksi, Tapi Kok Nyata?” pada akhirnya mengajak peserta melihat bahwa sebuah cerita yang bersifat imajinatif tidak selalu jauh dari kenyataan. Di balik karakter, konflik, dan alur cerita, terdapat pengalaman manusia yang dapat menjadi cermin bagi pembacanya.

Diskusi ini juga memperlihatkan bahwa membaca dan menulis fiksi dapat menjadi salah satu cara untuk memahami diri sendiri maupun lingkungan sosial. Melalui cerita, seseorang dapat menemukan pengalaman yang terasa familiar, memahami perspektif orang lain, sekaligus merefleksikan berbagai persoalan yang hadir dalam kehidupan.

Dengan suasana diskusi yang interaktif dan melibatkan mahasiswa secara langsung, kegiatan Dialog Luar Studio “Santai Siang” RRI PRO 2 Medan tersebut menjadi ruang yang tidak hanya membahas sastra, tetapi juga mempertemukan karya, pengalaman, dan kehidupan nyata dalam satu percakapan yang hangat.

Tayangan ulang acara ini juga bisa di saksikan di channel youtube rri medan @rrinet_medan dengan judul DIALOG LUAR STUDIO SANTAI SIANG PRO 2 MEDAN : FIKSI, TAPI KOK NYATA?

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....