Lake Toba Traditional Music Festival Tutup Rangkaian Acara The Kaldera Fest

  • 14 Sep 2026 09:36 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, - Permainan musik perkusi, alunan musik tradisi, suara instrumen etnik, hingga hentakan rap bernuansa Batak bergema di kawasan The Kaldera Toba Nomadic Escape, Kabupaten Toba, Minggu, 6 September 2026. Lake Toba Traditional Music Festival (LTTMF) 6.0 menjadi penutup rangkaian The Kaldera Festival yang dimulai sejak akhir Agustus lalu.

Sejumlah 3.000 lebih wisatawan yang memadati kawasan Kaldera menikmati perjumpaan beragam warna musik dari berbagai daerah di Sumatera hingga mancanegara. Panggung LTTMF 6.0 seolah menjadi ruang pertemuan berbagai identitas musikal, dari musik tradisi yang diwariskan lintas generasi hingga eksplorasi musik kontemporer yang berakar pada kebudayaan lokal.

Sejak siang hari, suasana di Kaldera sudah dipenuhi pengunjung yang datang untuk menyaksikan penampilan para musisi. Hentakan Komunal Primitif Percussion dari Sumatera Utara menjadi salah satu pembuka energi pada hari terakhir festival. Eksplorasi ritme perkusi yang kuat dan dinamis berhasil membangun atmosfer panggung serta menarik perhatian penonton.

Warna musikal kemudian berganti melalui penampilan Dambus Aek Beguruh dari Bangka Belitung. Alunan musik tradisi yang dibawakan menghadirkan suasana berbeda di tengah bentang alam Danau Toba.

Tidak hanya dua kelompok tersebut, hari terakhir LTTMF 6.0 juga menghadirkan deretan penampil dari berbagai daerah dan negara. Dipamkara dari Jambi, Shaziva dari Kepulauan Riau, Mara Swara dan Eta Margondang dari Sumatera Utara, Spice of Svara x Putra Gonk dari Bangka Belitung, Gaung Merawa dari Sumatera Barat, serta BanyakBunyiRepublik dari Malaysia turut memberikan warna dalam perayaan musik tersebut.

Pada rangkaian festival selama dua hari, panggung LTTMF 6.0 juga diramaikan oleh Kaganga dari Bengkulu, Tanjack Kultur dari Sumatera Selatan, Tengku Zaqierra dari Sumatera Utara, Nadi dari Singapura. Kemudian Sako Serikat dari Lampung, AldoLings dari Sumatera Utara, Tangke Group dari Aceh, hingga Korean Creative Gugak Group FLOW dari Korea Selatan.

Sejumlah penampilan spesial juga melengkapi kemeriahan festival, termasuk musisi Viky Sianipar dan Novia Situmeang. Kehadiran musisi dari berbagai latar belakang tersebut memperlihatkan luasnya spektrum musikal yang dipertemukan dalam satu panggung di kawasan Danau Toba.

LTTMF 6.0 menjadi salah satu rangkaian penting dalam The Kaldera Festival karena mempertemukan musisi, seniman, komunitas, dan pelaku budaya dari berbagai wilayah.

Festival ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang pertukaran gagasan dan pengalaman antarmusisi. Para penampil datang membawa karakter musikal serta identitas budaya dari daerah dan negara masing-masing untuk kemudian bertemu dalam satu ruang di Danau Toba.

Pelaksana tugas Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Arditama Nusantara Putra menyebutkan keberagaman tersebut sebagai kekuatan utama festival. "Pertemuan para seniman dari berbagai daerah dan negara diharapkan dapat melahirkan pertukaran pengetahuan sekaligus membuka peluang kolaborasi baru bagi perkembangan musik tradisi. Hal ini menjadi suasana baru bagi wisatawan Danau Toba, Kehadiran musisi dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Korea Selatan juga memperkuat posisi LTTMF sebagai ruang perjumpaan lintas budaya," ujarnya.

Antusiasme pengunjung menjadi bagian penting dalam keberhasilan penyelenggaraan festival. Ada pengunjung yang datang secara khusus untuk menyaksikan penampilan musisi-musisi dari berbagai daerah, sementara sebagian lainnya menemukan festival tersebut saat berkunjung ke kawasan Kaldera bersama keluarga.

Bagi pengunjung, LTTMF 6.0 tidak hanya menawarkan tontonan musik. Beragam instrumen, bunyi, dan ekspresi budaya yang tampil memberikan pengalaman untuk melihat kekayaan musikal Nusantara dan mancanegara dalam satu panggung.

Berakhirnya LTTMF 6.0 sekaligus menandai penutupan rangkaian The Kaldera Festival. Setelah menghadirkan berbagai kegiatan seni, pameran, kompetisi talenta muda, ruang kolaborasi ekonomi kreatif, hingga program kebudayaan, festival ditutup dengan sebuah perayaan musik yang mempertemukan tradisi dan kreativitas.

Di tengah keindahan lanskap Danau Toba, Kementerian Pariwisata melalui BPODT melihay bahwa musik dapat menjadi bahasa yang menyatukan berbagai daerah, generasi, dan budaya.

Dan ketika dentuman perkusi, alunan musik tradisi, hingga hentakan rap Siantar Rap Foundation bergema dari panggung Kaldera, penutupan The Kaldera Festival pun menjadi sebuah perayaan yang menunjukkan bahwa tradisi akan terus hidup selama ada ruang bagi para seniman untuk merawat, memainkan, dan mengembangkannya.

Di antara beragam penampilan musik tradisi yang hadir, Siantar Rap Foundation menjadi salah satu penampil yang sukses mencuri perhatian pengunjung.

Ketika grup tersebut naik ke atas panggung, atmosfer Kaldera berubah semakin hidup. Hentakan musik dan energi khas rap langsung mengundang respons meriah dari para penonton.

Kehadiran Siantar Rap Foundation di panggung LTTMF 6.0 sekaligus memperluas pemaknaan tentang musik tradisi. Tradisi tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang sama dari masa ke masa. Ia dapat tumbuh, beradaptasi, dan menemukan bahasa baru untuk berkomunikasi dengan generasi yang berbeda.

Penampilan tersebut pun menjadi salah satu momen yang menghidupkan malam penutupan The Kaldera Festival. Perpaduan antara kekayaan tradisi dan semangat musik kontemporer membuat panggung Kaldera menjadi ruang perayaan yang dinamis.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....