Transgo Medan Suarakan Transportasi Publik Inklusif
- 02 Jul 2026 17:31 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan- Keresahan masyarakat terhadap fasilitas angkutan umum di Kota Medan terus menjadi sorotan, terutama bagi kalangan generasi muda. Menjawab tantangan tersebut, komunitas Transgo Medan hadir mendorong perubahan nyata agar transportasi publik di ibu kota Sumatra Utara ini kembali dipercaya oleh warganya.
Hal itu mengemuka dalam program siaran Sore Bercerita bertajuk "Transportasi Berkelanjutan: Gaya Hidup Keren Anak Muda Masa Kini" di Pro 2 RRI Korwil XVI, Rabu (1/7/2026). Acara tersebut menghadirkan dua Future Leaders in Sustainable Transport sekaligus inisiator Transgo Medan, Zaky Atila Cafriano Hutabarat dan Amanda Wibowo.
Dalam sesi dialog tersebut, Founder Transgo Medan, Zaky Atila Cafriano Hutabarat mengungkapkan bahwa gerakan ini lahir dari keresahan bersama mengenai kendala transportasi umum, seperti ketidakpastian waktu, kenyamanan yang belum merata, serta minimnya informasi layanan.
"Kami melihat perubahan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi anak muda. Transgo Medan hadir mendorong masyarakat percaya kembali bahwa transportasi publik bisa nyaman, aman, dan membanggakan," ujar Zaky.
Bukan sekadar asumsi, Transgo Medan memperkuat gerakan mereka lewat basis data riil. Zaky membeberkan hasil mini-research mandiri yang melibatkan 117 responden warga Kota Medan. Berdasarkan data tersebut, mayoritas masyarakat sebenarnya tidak menolak keberadaan transportasi umum.
"Mereka hanya menginginkan layanan yang lebih nyaman, tepat waktu, aman, dan mudah diakses. Banyak responden memilih kendaraan pribadi karena dianggap lebih praktis. Tantangan utamanya adalah membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pelayanan," tambahnya.
| Baca juga: LJF Rilis Lagu Sejenak untuk Pejuang LDR |
Menurut Zaky, cara paling efektif menarik minat generasi muda saat ini adalah dengan mengemas penggunaan transportasi publik sebagai bagian dari gaya hidup modern dan berkelanjutan yang didukung oleh sentuhan teknologi digital dan publikasi komunitas yang masif.
Sementara itu, Delegasi Kota Medan, Amanda Wibowo menyoroti pentingnya aspek inklusivitas sosial di dalam ekosistem transportasi. Berdasarkan hasil diskusi lapangan tim Transgo bersama HWDI, YPAC, dan Rumah Difabel Sharaswaty, fasilitas publik di Medan dinilai masih memiliki pekerjaan rumah (PR) yang sangat besar dalam memfasilitasi kelompok disabilitas.
"Hak bergerak teman-teman disabilitas sering terhambat bukan karena mereka tidak mau mandiri, melainkan karena infrastruktur fisik seperti trotoar tidak rata, ketiadaan guiding block, hingga desain angkutan umum yang tidak ramah kursi roda belum memberikan aksesibilitas setara," tegas Amanda.
Selain isu disabilitas, Amanda juga menggarisbawahi jaminan rasa aman bagi penumpang perempuan yang masih menjadi kekhawatiran nyata akibat maraknya isu pelecehan seksual di ruang publik dan angkot. Kendati demikian, ia melihat tren peningkatan pelaporan belakangan ini sebagai sinyal positif tumbuhnya keberanian masyarakat untuk bersuara.
"Sistem yang aman tidak hanya dibangun dari fasilitas fisik seperti lampu penerangan yang terang, tetapi juga dari perubahan perilaku masyarakat melalui kesadaran kolektif untuk saling menjaga dan berani mengambil tindakan jika melihat pelecehan di depan mata," jelasnya.
Melalui pilot project di bawah naungan program FIRST WRI Indonesia dan UK PACT, Transgo Medan berkomitmen membawa rekomendasi konkret dari bawah (bottom-up), yang dimulai dari penyediaan navigasi informasi rute angkot yang jelas dan inklusif bagi warga Medan.
"Kami sadar Transgo saat ini adalah gerakan kecil, namun kami berharap membawa dampak. Perubahan sejati di Kota Medan harus tumbuh dari kesadaran dan keinginan kuat masyarakatnya sendiri untuk saling peduli dan saling membantu sesama warga kota," pungkas Amanda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....