Gelaran Melayu Serumpun dan Dampaknya Bagi UMKM di Sumut
- 29 Jun 2026 18:10 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Dialog Interaktif Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan FM 94,3 MHz. Senin ( 29/6/2026 ) pagi, mengangkat topik yang sangat menarik mengenai titik temu antara pelestarian budaya warisan sejarah dan pemberdayaan ekonomi lokal, yaitu dalam tajuk "Gelaran Melayu Serumpun & Dampaknya Bagi UMKM". Diskusi interaktif ini menghadirkan dua narasumber yang melihat fenomena ini dari sudut pandang praktisi lapangan dan teoretis, yaitu Hairani selaku pelaku UMKM yang terlibat langsung dalam pameran, serta Dede Ansyari Guci, S.E., M.Sc., Ph.D. yang merupakan seorang akademisi dari Universitas Prima Indonesia (UNPRI) sekaligus pengamat UMKM. Fokus utama dialog ini adalah membedah sejauh mana festival budaya berskala internasional seperti Gelaran Melayu Serumpun mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata, berkelanjutan, dan bukan sekadar menjadi perhelatan seremonial tahunan bagi para pelaku usaha kecil di Kota Medan dan sekitarnya.
Dari perspektif pelaku usaha kreatif di garis depan, Hairani membagikan pengalaman langsung mengenai lonjakan omzet dan eksposur merek yang didapatkan para perajin selama festival berlangsung. Kehadiran delegasi dari berbagai daerah serumpun—termasuk negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand—menjadi ceruk pasar yang sangat potensial bagi produk-produk lokal khas Melayu, mulai dari kain songket, busana adat, kerajinan tangan, hingga kuliner tradisional. Namun, ia juga memberikan catatan lapangan mengenai pentingnya kurasi produk yang ketat dan fasilitasi stan yang ramah bagi pelaku usaha kecil agar mereka dapat bersaing secara sehat serta menampilkan identitas lokal yang autentik di hadapan para wisatawan domestik maupun mancanegara.
Sementara itu, dari sudut pandang akademis dan analisis ekonomi, Dede Ansyari Guci memaparkan bahwa Gelaran Melayu Serumpun memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang sangat besar jika dikelola dengan pendekatan industri kreatif yang modern. Sebagai akademisi dan pengamat, ia menekankan bahwa festival budaya tidak boleh hanya dipandang sebagai panggung hiburan, melainkan sebagai wadah networking bisnis internasional bagi UMKM. Ia menyarankan agar pasca-acara, pemerintah daerah dan perguruan tinggi mendampingi para pelaku usaha ini dalam hal digitalisasi pemasaran, peningkatan mutu kemasan (packaging), dan perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI), sehingga momentum transaksi tunai selama pameran dapat berlanjut menjadi hubungan dagang jangka panjang yang menembus pasar ekspor.
Diakhir dialog narasumber menegaskan bahwa Gelaran Melayu Serumpun merupakan aset strategis Sumatera Utara yang berhasil menyinergikan diplomasi budaya dengan kebangkitan ekonomi kerakyatan. Keberhasilan acara ini bukan hanya diukur dari ramainya pengunjung yang datang, melainkan dari keberlanjutan daya saing produk UMKM yang dipamerkan. Dengan adanya sinergi yang solid antara kreativitas para pelaku usaha seperti Hairani, analisis taktis dari kalangan akademisi, serta dukungan fasilitas dari pemerintah, industri kreatif Medan optimistis mampu naik kelas dan menjadikan warisan budaya Melayu sebagai motor penggerak kesejahteraan masyarakat yang mandiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....