Pementasan “Elegi Selembar Dinding” Hadirkan Refleksi Humanis dan Kritik Sosial

  • 21 Mei 2026 11:06 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Pementasan teater “Elegi Selembar Dinding” yang digelar di Kota Medan menghadirkan refleksi tentang sisi humanis kehidupan sekaligus kritik sosial terhadap kasus kekerasan yang masih terjadi di tengah masyarakat. Pertunjukan ini mendapat antusias penonton dan apresiasi dari pegiat seni maupun sastra di Sumatera Utara.

Penulis sekaligus sutradara pementasan, Bdj Siregar menyampaikan bahwa karya tersebut ingin mengajak penonton melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih manusiawi. Menurutnya, dalam kehidupan seseorang bisa berada di posisi pelaku maupun korban.

“Kadang kita hidup itu entah sebagai pelaku atau korban. Bisa jadi kejahatan yang kita lakukan dianggap kebaikan bagi diri sendiri, atau kebaikan yang kita lakukan ternyata menjadi kejahatan bagi orang lain,” ujarnya usai pementasan.

Ia menjelaskan, proses produksi pertunjukan lebih banyak menghadapi tantangan teknis dan artistik panggung. Keterbatasan fasilitas gedung menjadi salah satu kendala selama persiapan berlangsung. Meski demikian, seluruh pemain yang berasal dari Kota Medan dinilai mampu menampilkan performa terbaik.

“Kalau hafalan anak-anak sudah bagus. Kendalanya lebih banyak di teknis dan artistik,” katanya.

Seluruh pemain dipilih langsung tanpa proses audisi karena karakter tokoh sudah dibayangkan sejak awal penulisan naskah. Ia juga mengapresiasi perkembangan talenta muda teater di Medan yang dinilai memiliki potensi besar.

Sementara itu, Eka Dalanta , salah seorang pegiat sastra yang hadir sebagai penonton turut memberikan apresiasi terhadap karya Bdj Siregar yang telah menerbitkan kumpulan naskah drama. Menurutnya, penerbitan buku naskah drama masih jarang ditemukan di Sumatera Utara sehingga kehadiran karya tersebut menjadi warna baru bagi perkembangan sastra Indonesia.

“Ini satu apresiasi karena penerbitan buku naskah drama di Sumatera Utara masih jarang,” ujarnya.

Ia menilai tema yang diangkat dalam “Elegi Selembar Dinding” sangat dekat dengan realitas sosial, khususnya terkait kekerasan terhadap perempuan. Cerita dalam pementasan disebut menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa banyak kasus kekerasan masih terjadi di sekitar lingkungan kehidupan sehari-hari.

Selain isi cerita, unsur artistik pertunjukan juga mendapat perhatian penonton. Tata panggung, penggunaan properti, serta komposisi adegan dinilai mampu memperkuat emosi dan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.

Pementasan ini sekaligus menjadi bukti bahwa teater di Kota Medan terus berkembang sebagai ruang ekspresi seni, kritik sosial, dan refleksi kemanusiaan. Kelompok teater tersebut juga berencana kembali menghadirkan pementasan berikutnya pada Juni mendatang dengan membawa naskah lain yang telah dibukukan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....