Sexist Jokes yang Sudah Saatnya Kita Hentikan
- 17 Apr 2026 13:48 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Siapa yang belum pernah mendengar kalimat seperti "Namanya juga cowok, pasti begitu" atau "Cowok gak boleh nangis"? Candaan semacam itu sudah terdengar begitu sering hingga banyak orang tak lagi merasa ada yang salah.
Seringkali seksisme terjadi dalam kehidupan sehari-hari, bahkan terkadang kita nggak menyadarinya. Salah satu bentuk seksisme yang jarang disadari oleh masyarakat adalah lelucon seksis atau yang sering disebut dengan Sexist Jokes.
Padahal, di balik nada bercanda itu, tersimpan pesan yang jauh dari sekadar lelucon.
Dikutip dari IDN News, candaan seksis yang terus-menerus dinormalisasi berpotensi membentuk cara pandang yang keliru terhadap gender la pikir yang bisa merusak relasi dan kesempatan hidup seseorang secara nyata.
Berikut enam candaan seksis yang sudah saatnya kita tinggalkan:
1. "Perempuan gak usah sekolah tinggi-tinggi"
Terdengar seperti guyonan, tapi kalimat ini punya dampak yang serius. Secara tidak langsung,
ia membatasi mimpi perempuan dan menyiratkan bahwa pendidikan tinggi bukan hak mereka. Padahal, tidak ada satu pun undang-undang termasuk akal sehat yang membenarkan hal itu. Jika anak-anak tumbuh mendengar kalimat ini dianggap lucu, mereka bisa internalisasi keyakinan bahwa perempuan memang tidak perlu terlalu ambisius. Dan itu bukan warisan yang ingin kita tinggalkan.
2. "Laki-laki itu wajar kalau genit"
Ini bukan pujian. Ini adalah normalisasi perilaku yang bisa menyakiti orang lain.Ketika perilaku tidak sopan dikaitkan dengan gender lalu dibungkus jadi candaan, yang terjadi adalah pembiaran. Laki-laki seolah diberi "kartu bebas" untuk bersikap sesuka hati, sementara korbannya diminta maklum. Padahal, tanggung jawab atas perilaku adalah urusan semua orang tanpa pandang gender.
3. "Jangan terlalu galak, nanti gak ada yang mau"
Kalimat ini biasanya ditujukan pada perempuan yang berani bicara, tegas menyampaikan pendapat, atau tidak mau sembarangan diatur. Dan ironisnya, sering kali diucapkan oleh orang-orang terdekat. Padahal justru ketegasan adalah karakter yang seharusnya diapresiasi, bukan diredam. Standar ganda ini tidak sehat dan sudah lama waktunya untuk dipertanyakan.
4. "Namanya juga cowok, pasti begitu"
Kalimat ini berbahaya bukan karena kasar, tapi karena terdengar wajar. Ia menghapus tanggung jawab individu atas perilakunya dan menggantinya dengan pembenaran berbasis gender.Ketika kesalahan dimaklumi hanya karena pelakunya laki-laki, tidak ada ruang untuk tumbuh. Semua orang terlepas dari gendernya berhak dan mampu belajar berperilaku lebih baik.
5. "Pantesan dilecehin, bajunya begitu"
Ini bukan candaan Ini victim blaming dan itu tidak bisa dimaafkan hanya karena diucapkan sambil tertawa. Kalimat seperti ini melukai dua kali: pertama saat peristiwa terjadi, kedua saat orang-orang di sekitar menyalahkan korban alih-alih bersimpati. Dampaknya nyata korban jadi takut bersuara, takut tidak dipercaya, dan akhirnya memilih diam. Lingkungan yang aman dimulai dari kita berhenti menormalisasi ucapan seperti ini.
6. "Cowok gak boleh nangis"
Dari kalimat inilah banyak laki-laki tumbuh dengan keyakinan bahwa menunjukkan emosi adalah kelemahan. Bertahun-tahun menekan perasaan, sampai pada titik di mana mereka tidak tahu lagi bagaimana cara meminta tolong. Ini bukan soal "lebay" atau tidak. Ini soal kesehatan mental yang nyata. Setiap orang laki-laki, perempuan, siapapun berhak menangis, berhak merasa, dan berhak bicara tentang apa yang sedang mereka rasakan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....