Kolaborasi Jurnalis dan Seniman Hadirkan Teater Kemanusiaan di Medan
- 08 Mar 2026 09:34 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Di balik angka statistik dan laporan berita yang perlahan tenggelam dalam arus informasi, masih ada ribuan nyawa yang terus bergelut di tengah puing-puing bencana. Sebuah pesan kemanusiaan yang sering kali terabaikan oleh media arus utama, kini "dihidupkan" kembali melalui panggung teater.
Pada Sabtu, 7 Maret 2026, Auditorium Bung Karno Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) di Jalan Sunggal, Kota Medan, menjadi saksi bisu sebuah fenomena baru dalam dunia jurnalistik dan seni. Pementasan teater bertajuk "Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan" digelar sebagai wujud kepedulian terhadap para penyintas bencana di Sumatra.
Berbeda dari liputan konvensional yang hanya mengandalkan data dan wawancara, pementasan ini mengusung konsep performance journalism atau jurnalisme pertunjukan. Kegiatan ini merupakan kolaborasi strategis antara Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Rumah Literasi Ranggi (RLR), dan komunitas teater Medan Teater Tronic (MTT).
Ketua Umum FJPI, Khariah Lubis, mengungkapkan ide ini muncul setelah para jurnalis turun langsung ke lapangan.
"Awalnya kami melihat data dari media, lalu turun langsung melihat kondisi para korban. Sekarang suara mereka sudah jarang terdengar di televisi, radio, atau media lainnya. Padahal dampak bencana itu masih belum selesai," ujar Khariah, yang akrab disapa Awi.
Menurut Awi, hingga awal Ramadan, sekitar 13.000 warga masih bertahan di pengungsian. Sebagian besar hidup di tenda, sementara yang lain menyewa rumah sementara atau bertahan di rumah rusak.
"Kondisinya belum banyak berubah, apalagi menjelang Lebaran," ucapnya.
Judul pementasan, Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan, bukan sekadar hiasan. Naskah yang ditulis oleh Ranggini Krisna ini meramu kegelisahan nyata terhadap kondisi para penyintas, dengan fokus khusus pada peran perempuan.
"Kita tahu naskah hanya rangkaian kata yang tidak punya nyawa. Tapi ketika dimainkan oleh para aktor, kata-kata itu bisa hidup dan menyampaikan pesan," kata Ranggini, pendiri Rumah Literasi Ranggi.
Ia menjelaskan cerita ini diangkat dari kisah nyata, terutama perempuan yang harus tetap kuat di tengah situasi sulit. Salah satu adegan yang paling menyentuh diperankan oleh Ema Martondang, yang memerankan sosok ibu kehilangan hampir segalanya akibat banjir, namun tetap berusaha menjadi kuat demi anak-anaknya.
Sutradara teater, Hafiz Taadi, menilai kolaborasi antara jurnalis dan seniman ini menghadirkan medium baru dalam menyampaikan pesan sosial. Ia menekankan tujuan pementasan ini bukan untuk menguras air mata penonton, melainkan untuk membangkitkan kesadaran.
"Pagelaran ini bukan untuk membuat orang menangis, tetapi untuk mengingatkan bahwa ada manusia di balik peristiwa bencana itu. Ketika berita sudah senyap, mereka masih ada dan masih berjuang," kata Hafiz.
Pementasan ini melibatkan sekitar 20 pemain, termasuk lima jurnalis perempuan yang telah berlatih intensif selama dua bulan. Sebagai pelengkap teater, kegiatan ini juga menghadirkan pameran foto bencana. Fotografer freelance, Mafa Yuli, memamerkan potret kondisi terkini para penyintas yang diambil langsung di lokasi bencana tiga minggu lalu.
"Pemulihan di sana belum banyak terjadi. Anak-anak penyintas bahkan banyak yang masih belum kembali bersekolah," kata Mafa.
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dan Pendiri YPSIM, Sofyan Tan, mengatakan bencana alam bukan sekadar takdir, melainkan juga konsekuensi dari perilaku manusia. Bencana alam yang terjadi di Sumatra Utara, Padang dan Aceh, menurutnya bukan karena kutukan Tuhan, tapi karena perbuatan manusia.
"Manusialah yang mencederai. Kegiatan ini bukan hanya mengumpulkan donasi, tetapi merupakan penyadaran bahwa pentingnya menjaga alam," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....