Difki Khalif dan Prinsa Mandagie,Seandainya”
- 22 Feb 2026 22:58 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan:- Difki Khalif dan Prinsa Mandagie berkolaborasi dalam proyek spesial untuk menghidupkan kembali lagu populer era 2000-an, “Seandainya”. Kolaborasi ini menjadi ruang eksplorasi musikal bagi keduanya, sekaligus menghadirkan interpretasi baru atas lagu yang telah melekat di memori banyak pendengar.
Proyek ini terwujud melalui kolaborasi lintas label antara dan . Kerja sama tersebut membuka peluang bagi para musisi untuk menafsir ulang karya-karya populer dengan pendekatan aransemen yang lebih segar dan relevan dengan perkembangan industri musik saat ini.
Dari sejumlah pilihan lagu, menjatuhkan pilihannya pada “Seandainya”, karya band era 2000-an yang sebelumnya dikenal sebagai Vierra. Lagu ini dikenal luas sebagai salah satu anthem galau yang mewarnai masa remaja generasi 2000-an.
“Banyak orang tumbuh bersama lagu ini, termasuk aku,” ungkap Prinsa dalam siaran pers yang diterima RRI Minggu, (22/02/2026). Ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan lagu tersebut dan ingin menghadirkan versi baru yang tetap menghormati karya aslinya, sekaligus memberikan sentuhan personal yang lebih segar.
Kolaborasi dengan yang memiliki latar belakang sebagai anak band menjadi elemen penting dalam proses kreatif. Sebagai dua solois dengan karakter vokal berbeda, mereka menjalani workshop untuk membangun chemistry serta menentukan pembagian bagian vokal yang paling harmonis.
“Kami memang punya range suara berbeda, jadi workshop membantu kami menentukan siapa menyanyikan bagian mana supaya tetap harmonis,” jelas Difki. Ia menambahkan, proses tersebut menjadi pengalaman baru yang memperkaya dinamika bermusiknya, terutama dalam format duet.
Meski berasal dari latar musikal yang berbeda, keduanya justru menemukan energi baru dalam proyek ini. Aransemen “Seandainya” dibuat lebih emosional dan segar dengan tambahan sentuhan orkestra untuk memperkuat karakter pop-rock yang ingin mereka hadirkan. Proses harmonisasi vokal dirancang oleh agar dua warna suara berbeda tersebut dapat menyatu dengan mulus.
“Tantangannya bukan hanya membawakan ulang, tapi bagaimana membuatnya terasa segar, tetap akrab, namun punya warna kami sendiri. Ini bisa jadi versi yang berbeda, tapi tetap familiar,” kata Prinsa. Momen paling berkesan bagi keduanya terjadi saat sesi preview akhir, ketika aransemen lengkap dengan elemen orkestra terdengar utuh dan menegaskan identitas baru lagu tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....