Sudah Ada sejak 1887, Ini Cerita di Balik Stasiun Binjai
- 29 Sep 2026 23:43 WIB
- Medan
Stasiun Binjai, Jejak Rel Kolonial yang Masih Hidup hingga Kini
RRI.CO.ID, Medan - Sebelum Binjai tumbuh menjadi kota yang terhubung erat dengan Medan, suara roda kereta sudah lebih dulu melintasi kawasan ini. Stasiun Binjai menyimpan sejarah panjang sejak era kolonial Belanda dan kini tetap menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat sehari-hari.
Dikutip dari IDN Times, Stasiun Binjai awalnya bernama Stasiun Timbang Langkat. Nama tersebut berkaitan dengan konsesi pembangunan jalur kereta yang diberikan Pemerintah Belanda kepada Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) pada 23 Januari 1883. Jalur Medan-Timbang Langkat sepanjang 20,8 kilometer kemudian resmi dibuka pada 1887.
Dari Timbang Langkat Menjadi Stasiun Binjai
Pada era kolonial, jalur kereta tersebut tidak hanya digunakan untuk menghubungkan wilayah, tetapi juga mendukung aktivitas perkebunan, terutama pengangkutan komoditas tembakau dan lada.
Menariknya, hingga dekade 1930-an, stasiun yang berada di Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Binjai Timur, tersebut masih menggunakan nama Timbang Langkat. Setelah Indonesia merdeka dan proses nasionalisasi DSM berlangsung, nama stasiun kemudian berubah menjadi Stasiun Binjai.
Manager Humas KAI Divre I Sumatra Utara, Anwar Yuli Prastyo, menyebut tidak terdapat arsip resmi yang mencatat secara pasti kapan perubahan nama tersebut dilakukan. Namun, perubahan itu diperkirakan berkaitan dengan perkembangan kawasan Langkat Hulu yang kemudian tumbuh menjadi wilayah perkotaan.
Pernah Punya Dua Arah Jalur
Perjalanan Stasiun Binjai juga tidak berhenti pada jalur menuju Medan. Hingga akhir 1919, terdapat dua lintasan dari kawasan tersebut.
Satu jalur mengarah ke Selesai hingga Kuala, Kabupaten Langkat. Jalur ini bahkan masih digunakan sampai 2002 untuk mengangkut komoditas seperti CPO dan lateks. Sementara jalur lainnya mengarah ke Besitang yang menjadi titik transit pertemuan jaringan DSM dengan Atjeh Tram atau Atjeh Staatsspoorwegen di Aceh.
Kini Jadi Andalan Mobilitas Warga
Jika dahulu kereta api identik dengan angkutan hasil perkebunan, kini fungsi Stasiun Binjai jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kehadiran KA Srilelawangsa yang dikelola KAI Bandara membuat stasiun ini menjadi salah satu pilihan transportasi masyarakat dengan tarif Rp5.000.
Besarnya aktivitas penumpang juga terlihat dari penggunaan area parkir. Stasiun Binjai memiliki kapasitas parkir 400 sepeda motor dan 35 mobil. Namun, pada hari kerja, jumlah kendaraan yang terparkir bahkan tercatat mencapai 600 sepeda motor dan 89 mobil.
Cagar Budaya yang Tetap Berfungsi
Stasiun Binjai kini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Status tersebut membuat stasiun tidak hanya memiliki nilai sebagai fasilitas transportasi, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah perkembangan Kota Binjai dan jaringan perkeretaapian di Sumatra Utara.
Dari jalur yang dahulu membawa hasil perkebunan hingga kereta yang kini mengantar ribuan orang dalam aktivitas sehari-hari, Stasiun Binjai memperlihatkan bagaimana sebuah peninggalan sejarah bisa tetap hidup dengan fungsi yang mengikuti kebutuhan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....