Bukan Jual Ikan, Ini 7 Fakta Pajak Ikan Lama Medan

  • 29 Sep 2026 23:43 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Mendengar nama Pajak Ikan Lama, yang terbayang mungkin deretan pedagang ikan dan hasil laut. Namun, ketika menyusuri kawasan Kesawan, Medan, suasananya justru dipenuhi toko kain, tekstil, pakaian, hingga berbagai perlengkapan fesyen.

Di balik namanya yang unik, Pajak Ikan Lama menyimpan perjalanan panjang dalam sejarah perdagangan Kota Medan. Kawasan yang kini dikenal sebagai salah satu tujuan berburu kain tersebut dulunya memang merupakan pusat perdagangan ikan, sayuran, dan berbagai kebutuhan pangan.

Dikutip dari IDN Times, Pajak Ikan Lama telah menjadi bagian dari aktivitas perdagangan Medan sejak sekitar 1890, pada masa kolonial Belanda. Pasar ini disebut didirikan oleh tokoh Tionghoa Medan, Tjong A Fie, atas permintaan pemerintah kolonial.

1. Namanya Pasar Ikan, tapi Tak Lagi Menjual Ikan

Inilah salah satu hal yang membuat Pajak Ikan Lama menarik. Nama "pajak" dalam penggunaan masyarakat Medan berarti pasar, sedangkan "ikan" merujuk pada fungsi awal kawasan tersebut sebagai pusat perdagangan ikan.

Seiring perubahan zaman dan aktivitas perdagangan di Kota Medan, fungsi pasar ikut berubah. Pedagang ikan perlahan tergantikan oleh pedagang tekstil. Kini, pengunjung justru lebih banyak menemukan aneka kain, mulai dari batik, sutra, hingga berbagai bahan tekstil lainnya.

2. Dari Hasil Laut Beralih ke Bisnis Kain

Perubahan tersebut tidak terjadi begitu saja. Setelah masa perdagangan ikan, para pedagang baru datang dan membawa komoditas tekstil, termasuk dari kalangan pedagang pendatang dari Singapura, India, dan Timur Tengah.

Menurut keterangan yang dikutip IDN Times, kain memiliki keunggulan sebagai komoditas perdagangan karena tidak mudah rusak dan dapat disimpan dalam waktu lama. Kondisi tersebut membuat perdagangan tekstil semakin berkembang di kawasan ini.

3. Pembelinya Datang dari Berbagai Daerah

Popularitas Pajak Ikan Lama kemudian tidak hanya dikenal masyarakat Medan. Kawasan ini juga menjadi tujuan pedagang dan pembeli dari berbagai wilayah Sumatra, seperti Aceh, Padang, dan Riau.

Wisatawan dari Malaysia dan Singapura juga disebut kerap datang untuk mencari berbagai kebutuhan, terutama kain, telekung atau mukena, serta busana muslim.

4. Bukan Cuma Berburu Kain

Meski terkenal sebagai sentra tekstil, Pajak Ikan Lama menawarkan lebih banyak pilihan. Pengunjung juga dapat menemukan toko yang menjual perhiasan emas dan perak, karpet, cenderamata, hingga berbagai kebutuhan lainnya.

Karena itu, menyusuri kawasan ini bukan hanya soal mencari kain. Bagi sebagian pengunjung, pengalaman berbelanja justru menjadi kesempatan untuk menjelajahi salah satu sudut lama Kota Medan yang masih hidup hingga sekarang.

5. Makin Ramai Menjelang Hari Besar

Aktivitas perdagangan di Pajak Ikan Lama juga memiliki ritme tersendiri mengikuti perayaan masyarakat. Menjelang Lebaran, Natal, dan Idul Adha, kawasan ini biasanya menjadi salah satu tujuan masyarakat untuk mencari pakaian maupun berbagai perlengkapan perayaan.

Keramaian tersebut sekaligus memperlihatkan karakter Medan sebagai kota yang dihuni masyarakat dengan latar belakang budaya dan agama yang beragam.

6. Berada di Jantung Kawasan Kesawan

Daya tarik Pajak Ikan Lama semakin lengkap karena lokasinya berada di kawasan Kesawan yang memiliki nilai sejarah. Di sekitar kawasan ini, pengunjung dapat menemukan berbagai bangunan dan peninggalan arsitektur lama yang memperlihatkan perjalanan Kota Medan.

Sejumlah ikon seperti Tjong A Fie Mansion dan Gedung London Sumatra juga berada tidak jauh dari kawasan tersebut, sehingga aktivitas belanja dapat dipadukan dengan wisata sejarah di pusat Kota Medan.

7. Nama Lama, Cerita yang Terus Hidup

Pajak Ikan Lama pada akhirnya bukan hanya tentang kain atau aktivitas jual beli. Nama yang tetap dipertahankan hingga sekarang menjadi pengingat bahwa kawasan tersebut pernah menjadi salah satu pusat perdagangan ikan di Kota Medan.

Dari pasar ikan pada masa lalu hingga dikenal sebagai pusat tekstil, perjalanan Pajak Ikan Lama memperlihatkan bagaimana sebuah kawasan perdagangan dapat berubah mengikuti perkembangan kota tanpa kehilangan identitas sejarahnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....