Bukan Cuma Soal Angka, 7 Pola Kerja Ini Bisa Bikin Karyawan Tertekan

  • 28 Agt 2026 14:18 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Target dalam pekerjaan menjadi bagian penting untuk mengukur pencapaian karyawan dan perkembangan perusahaan. Namun, sistem kerja yang terlalu berorientasi pada target tanpa mempertimbangkan kondisi di lapangan dapat menjadi tekanan tersendiri bagi pekerja. Dikutip dari IDN Times, terdapat sejumlah pola kerja berbasis target yang berpotensi membuat karyawan mengalami tekanan berkepanjangan, terutama pada pekerjaan di bidang penjualan dan proyek.

1. Target yang Tidak Tercapai Terus Menumpuk

Salah satu sistem yang dapat menjadi beban adalah ketika kekurangan target pada bulan sebelumnya otomatis ditambahkan ke target bulan berikutnya. Misalnya, target penjualan ditetapkan 100 produk, tetapi hanya 67 produk yang berhasil terjual. Kekurangan tersebut kemudian dibebankan pada target berikutnya sehingga karyawan harus mengejar 167 produk. Jika kembali tidak tercapai, bebannya semakin besar. Kondisi seperti ini dapat membuat target terasa semakin sulit dicapai dan menurunkan motivasi kerja.

2. Target Terus Naik, tetapi Kebutuhan Pasar Tidak Bertambah

Kenaikan target secara berkala juga dapat menjadi persoalan ketika tidak sejalan dengan permintaan pasar. Produk seperti kendaraan atau properti, misalnya, tidak dibeli konsumen secara rutin seperti kebutuhan sehari-hari. Jika target terus dinaikkan sementara jumlah calon pembeli relatif terbatas, tenaga penjualan dapat menghadapi tekanan yang semakin besar untuk memenuhi angka yang ditetapkan.

3. Pendapatan Sangat Bergantung pada Pencapaian Target

Pada sejumlah pekerjaan, khususnya bidang penjualan, bonus atau komisi menjadi bagian penting dari pendapatan. Masalah dapat muncul ketika penghasilan pokok relatif kecil, sementara tambahan pendapatan sangat bergantung pada keberhasilan mencapai target. Ketika produk sulit terjual atau kondisi pasar sedang lesu, karyawan dapat kehilangan sumber pendapatan tambahan sekaligus menghadapi tekanan untuk tetap memenuhi target.

4. Target Tercapai, tetapi Bonus Terlambat Dibayarkan

Mencapai target bukan berarti persoalan selesai apabila bonus yang dijanjikan tidak segera diterima. Karyawan yang telah memenuhi target tentu mengharapkan apresiasi sesuai ketentuan perusahaan. Ketidakjelasan mengenai waktu pembayaran bonus dapat menimbulkan ketidakpastian dan membuat pekerja merasa hasil kerja kerasnya belum mendapatkan penghargaan yang semestinya. Transparansi mengenai mekanisme dan waktu pembayaran menjadi penting dalam kondisi seperti ini.

5. Target Pribadi Masih Harus Membantu Target Rekan

Dalam beberapa lingkungan kerja, karyawan tidak hanya dibebani target pribadi, tetapi juga diminta membantu pencapaian target rekan satu tim. Kerja sama memang dapat menjadi hal positif, tetapi tekanan muncul ketika pencapaian individu ikut terdampak jika target rekan tidak terpenuhi. Jika dilakukan terus-menerus tanpa pembagian beban yang jelas, karyawan dapat merasa harus bekerja lebih keras meski target pribadinya sendiri telah tercapai.

6. Target Sulit Dicapai karena Masukan dari Karyawan Diabaikan

Karyawan yang berhadapan langsung dengan konsumen atau kondisi lapangan sering memiliki informasi mengenai hambatan pencapaian target. Namun, masalah dapat muncul ketika masukan tersebut tidak dipertimbangkan oleh pengambil keputusan. Misalnya, tenaga penjualan menyampaikan perlunya perbaikan akses, fasilitas, atau penerangan pada sebuah proyek properti, tetapi saran tersebut tidak ditindaklanjuti. Ketika target akhirnya tidak tercapai, karyawan justru dapat menjadi pihak yang disalahkan.

7. Target Tidak Seimbang dengan Sumber Daya

Target yang tinggi membutuhkan sumber daya yang sepadan, baik dari sisi jumlah tenaga kerja, waktu, anggaran, maupun fasilitas pendukung. Pada pekerjaan berbasis proyek, misalnya, target penyelesaian yang sangat cepat akan sulit dicapai apabila jumlah anggota tim tidak mencukupi. Kondisi tersebut dapat membuat karyawan harus bekerja lembur secara terus-menerus tanpa jaminan target yang ditetapkan benar-benar realistis.

Sistem kerja berbasis target pada dasarnya dapat mendorong produktivitas dan memberikan tantangan bagi karyawan. Namun, target perlu disusun secara realistis dengan mempertimbangkan kondisi pasar, sumber daya, beban kerja, serta kemampuan pekerja. Jika tekanan berlangsung terus-menerus tanpa dukungan dan evaluasi yang memadai, pekerjaan yang seharusnya menjadi ruang untuk berkembang justru dapat menjadi sumber stres dan kelelahan bagi karyawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....