Takut Dibilang Malas, Banyak Gen Z dan Milenial Memaksa Diri sampai Burnout
- 18 Mei 2026 00:52 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Budaya untuk selalu produktif membuat banyak generasi muda memaksakan diri bekerja tanpa henti hingga mengalami burnout. Istirahat sering dianggap sebagai bentuk kemalasan, sementara media sosial terus dipenuhi konten tentang kesuksesan, pencapaian karier, dan gaya hidup hustle yang seolah harus diikuti semua orang.
Dikutip dari Fimela, hustle culture yang tidak dikelola dengan baik dapat memicu burnout, yaitu kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat stres berkepanjangan. Burnout bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan kondisi ketika seseorang mulai kehilangan energi, motivasi, dan semangat menjalani aktivitas sehari-hari.
Burnout biasanya muncul secara perlahan dan sering tidak disadari. Gejalanya dapat berupa sulit fokus saat bekerja, mudah lelah, gampang marah, sulit tidur, hingga kehilangan minat terhadap pekerjaan yang sebelumnya disukai. Bahkan, dalam beberapa kondisi seseorang tetap terlihat “baik-baik saja” di luar, padahal sebenarnya mengalami kelelahan mental yang cukup berat.
Fenomena ini semakin relevan karena generasi milenial dan gen Z hidup di era digital yang bergerak sangat cepat. Banyak orang merasa harus segera sukses sebelum usia tertentu karena terus melihat pencapaian orang lain di media sosial. Akibatnya, muncul tekanan untuk terus bekerja agar tidak dianggap tertinggal.
Padahal, setiap orang memiliki proses dan kapasitas yang berbeda. Karena itu, penting bagi generasi muda untuk mulai memahami batas kemampuan dirinya sendiri. Berhenti sejenak untuk beristirahat bukan berarti malas atau kalah bersaing, melainkan cara menjaga kesehatan fisik dan mental agar tidak jatuh lebih jauh.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Selain itu, meluangkan waktu untuk melakukan hobi, berolahraga, tidur cukup, dan menjaga kehidupan sosial juga dapat membantu mengurangi tekanan mental akibat pekerjaan. menjaga work-life balance menjadi salah satu cara penting untuk mencegah burnout, terutama di tengah budaya kerja cepat yang kini banyak dialami generasi muda. Pada akhirnya, produktif memang penting, tetapi kesehatan diri tetap harus menjadi prioritas. Sebab seseorang tidak harus kelelahan terlebih dahulu untuk dianggap berhasil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....