36 Tahun Bertaruh Nyawa, Kisah Pak Jemari & Buaya Asam Kumbang
- 02 Apr 2026 11:47 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Di balik riuhnya kendaraan yang membelah kemacetan Kota Medan, terdapat sebuah gerbang beton yang menyimpan sunyi sekaligus ketegangan. Taman Wisata Buaya Asam Kumbang berdiri sebagai saksi bisu ribuan predator yang merayap pelan di balik pagar besi.
Namun, di antara ribuan pasang mata buas yang mengintai dari balik permukaan air kolam yang keruh, ada satu sosok manusia yang berjalan dengan tenang. Namanya Pak Jemari, pria yang telah melampaui batas logika dalam menunjukkan dedikasi terhadap pekerjaannya.
Bagi sebagian besar orang, mendekati buaya adalah tindakan yang mengundang maut. Namun bagi Pak Jemari, reptil-reptil ini adalah keluarga besarnya yang telah ia rawat selama lebih dari tiga dekade.
Langkah kakinya menyusuri tepian kolam beton di Asam Kumbang sudah menjadi pemandangan harian sejak tahun 1990-an. Pria bersahaja ini telah mendedikasikan 36 tahun hidupnya untuk memastikan ribuan buaya di penangkaran terbesar di Indonesia ini tetap terurus.
Sejak fajar menyingsing hingga matahari terbenam, Pak Jemari menghabiskan sebagian besar napasnya di sini. Baginya, Asam Kumbang bukan sekadar tempat kerja, melainkan rumah kedua yang telah menyatu dengan jiwanya.
Loyalitas Pak Jemari seringkali melampaui kalender merah. Di saat warga Medan lainnya menikmati waktu berkumpul bersama keluarga pada hari raya atau libur nasional, Pak Jemari seringkali masih terlihat mengenakan seragam dinasnya.
Ia paham betul bahwa rasa lapar para predator tidak mengenal hari libur. Baginya, ada tanggung jawab moral yang besar untuk tetap hadir, memastikan asupan makanan dan kebersihan kandang terjaga tanpa henti, meski harus mengorbankan waktu pribadinya.
Namun, di balik ketenangannya saat ini, tersimpan sebuah memori kelam yang pernah hampir merenggut nyawanya. Sambil menatap air kolam yang tenang namun menghanyutkan, Pak Jemari mengenang sebuah peristiwa berdarah di masa mudanya.
Kala itu, ia baru memulai kariernya dengan semangat yang membara. Sebagai seorang pemuda yang baru mengenal dunia reptil, ia mungkin sempat kehilangan sedikit kewaspadaan di tengah rutinitasnya membersihkan area penangkaran.
Tanpa peringatan, seekor buaya dewasa menerkam dengan kecepatan luar biasa yang tak sempat dihindari. Dalam sekejap, rahang kuat sang predator mengunci bagian kakinya, menyeretnya ke dalam situasi antara hidup dan mati.
Pak Jemari menceritakan betapa mencekamnya saat gigi-gigi tajam itu merobek kulit dan dagingnya. Pergulatan itu bukan hanya tentang rasa sakit fisik yang luar biasa, tapi juga tentang ujian mental yang paling berat dalam hidupnya.
Akibat serangan brutal tersebut, ia harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Tak kurang dari 45 jahitan kini membekas di tubuhnya sebagai pengingat permanen akan ganasnya alam yang ia hadapi setiap hari.
Bagi banyak orang, luka sedalam itu mungkin akan memicu trauma dan keinginan untuk berhenti. Namun, bagi Pak Jemari, 45 jahitan tersebut justru menjadi semacam simbol "inisiasi" yang memperkuat ikatan batinnya dengan profesi ini.
Saat ditanya mengapa ia memilih untuk kembali ke kandang yang hampir membunuhnya, Pak Jemari hanya tersenyum tipis. Ia tidak menaruh dendam pada hewan yang telah melukainya.
Baginya, kecelakaan itu adalah pelajaran berharga tentang rasa hormat. Ia sadar bahwa mengurus buaya bukan sekadar memberi makan, melainkan memahami karakter dan insting makhluk yang seringkali disalahpahami oleh manusia.
Kini, di usianya yang tak lagi muda, Pak Jemari tetap setia berdiri di antara pagar-pagar besi Asam Kumbang. Rambutnya mungkin mulai memutih, namun keberaniannya tidak pernah luntur dimakan usia.
Pengabdiannya selama 36 tahun menjadi bukti nyata bahwa keberanian sejati bukanlah tentang ketiadaan rasa takut. Keberanian adalah kemampuan untuk terus melangkah dan mencintai pekerjaan, meski pernah terluka sedalam apa pun.
Sosok Pak Jemari kini telah menjadi legenda hidup di Sumatera Utara. Ia adalah penjaga yang teguh, seorang pria yang membuktikan bahwa dedikasi tulus mampu mengubah rasa takut menjadi persahabatan yang abadi dengan alam liar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....