Penyambung Nyawa Alas Kaki, 15 Tahun Pak Tertib Menjahit Harapan

  • 15 Mar 2026 10:24 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Di antara deru mesin kendaraan dan polusi udara Jalan Karya Wisata Medan, seorang pria paruh baya duduk bersimpuh dengan tangan yang lincah. Pak Tertib Milala, begitu ia dikenal, sedang melakukan ritual hariannya menusukkan jarum sol menembus kulit sepatu yang mulai menganga.

Bagi warga sekitar, Pak Tertib bukan sekadar tukang reparasi. Ia adalah sosok yang telah mendedikasikan 15 tahun hidupnya untuk memastikan alas kaki warga Medan tetap bisa melangkah. Pekerjaan ini, menurutnya, adalah jalan hidup yang dipilih dengan kesadaran penuh, bukan karena keterpaksaan.

“Saya tidak pernah menyesal meninggalkan pekerjaan lama. Di sini, saya menemukan kebebasan yang tidak saya dapatkan di kantor dulu,” ujar Pak Tertib sembari menarik benang nilon hitam dengan kuat.

Perjalanannya dimulai belasan tahun lalu saat ia memutuskan resign tanpa rencana cadangan. Di tengah kebimbangan, matanya kerap tertuju pada sang sepupu yang lihai menjahit sepatu. Rasa penasaran itu kemudian menuntunnya belajar secara otodidak, hingga jemarinya terbiasa dengan kerasnya kulit dan tajamnya jarum.

Namun, jalan yang ia pilih tak selamanya mulus. Stigma masyarakat seringkali menjadi kerikil tajam yang mencoba melukai semangatnya. “Banyak yang memandang sebelah mata, menganggap ini pekerjaan rendahan. Tapi saya tidak ambil pusing, yang penting halal dan hati tenang,” tuturnya kalem.

Baginya, setiap pasang sepatu yang kembali utuh memberikan kepuasan batin yang tak ternilai. Pak Tertib meyakini bahwa pengakuan sosial bukanlah tolok ukur utama kesuksesan, melainkan bagaimana ia bisa bermanfaat bagi orang lain melalui keahlian tangannya.

Operasional usaha "reparasi" pinggir jalannya sangat bergantung pada kemurahan alam. Setiap Senin hingga Sabtu, dari pukul 08.00 hingga 18.00 WIB, ia setia menanti pelanggan di bawah terik matahari Medan yang menyengat.

“Kalau cuaca cerah dan banyak pelanggan, saya bisa bawa pulang Rp200.000. Tapi kalau sudah hujan deras, ya saya harus rela pulang dengan tangan hampa. Itu sudah risiko,” ucapnya sambil sesekali menyeka keringat di dahi.

Meski penuh ketidakpastian ekonomi, Pak Tertib selalu menyisipkan aspek kemanusiaan dalam setiap transaksinya. Ia menganggap setiap orang yang datang bukan sekadar pembawa rupiah, melainkan sahabat baru yang membawa cerita unik dari perjalanan hidup mereka.

Interaksi hangat inilah yang membuatnya merasa dihargai di tengah hiruk-pukuk kota. “Kadang pelanggan curhat soal kerjaan atau keluarga sambil menunggu sepatunya selesai. Di situlah saya merasa pekerjaan ini punya nilai lebih dari sekadar uang,” tambahnya.

Filosofi hidup Pak Tertib memang tergolong mendalam untuk seorang pengrajin pinggir jalan. Ia percaya bahwa sepasang sepatu menyimpan sejarah dan kenangan bagi pemiliknya, sebuah jejak langkah yang tidak boleh terhenti begitu saja karena kerusakan kecil.

Karena prinsip itulah, ia bekerja dengan ketelitian tinggi, seolah sedang menjaga memori orang lain agar tetap utuh. Ia ingin setiap pelanggannya bisa melangkah lebih jauh dan menciptakan sejarah baru dengan sepatu yang telah ia "hidupkan" kembali.

Kisah Pak Tertib menjadi refleksi tajam bagi generasi muda tentang makna kesuksesan yang otentik. Ia membuktikan bahwa kebahagiaan tidak melulu soal jabatan mentereng, melainkan tentang rasa cinta terhadap profesi dan ketulusan dalam melayani sesama.

Melalui setiap tarikan benang solnya, Pak Tertib Milala terus mengajarkan tentang resiliensi dan rasa syukur. Di pinggir jalan raya yang keras, ia tetap berdiri tegak, menjaga martabatnya melalui sepasang alas kaki rusak yang ia sulap menjadi bermakna kembali.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....