Sungai Ular di Sergai, antara Luka Sejarah dan Mitos Awet Muda

  • 17 Feb 2026 15:45 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Deli Serdang - Sungai Ular di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, menyimpan dua wajah yang berbeda. Di satu sisi, sungai ini dikenal melalui kisah mistis yang dipercaya sebagian masyarakat. Di sisi lain, aliran airnya merekam salah satu periode paling kelam dalam sejarah Indonesia.

Secara geografis, Sungai Ular mengalir dari Gunung Simbolon di Kabupaten Simalungun dan membentang hingga wilayah Serdang Bedagai. Sejak lama, sungai ini menjadi sumber kehidupan masyarakat, dimanfaatkan untuk kebutuhan air, irigasi, hingga aktivitas sosial.

Namun catatan sejarah menunjukkan, pada 1965–1966 sungai ini menjadi lokasi pembantaian massal terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dituduh terlibat dalam peristiwa G30S. Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai, jasad para korban disebut dibuang ke aliran Sungai Ular. Peristiwa tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat sekitar, sekaligus menjadikan sungai ini sebagai saksi bisu tragedi kemanusiaan.

Jauh sebelum peristiwa tersebut, Sungai Ular memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Kesultanan Deli dan Serdang. Sungai ini dimanfaatkan sebagai jalur transportasi dan pengairan, serta menjadi bagian dari perkembangan pusat peradaban di Sumatera Timur. Kawasan di sekitar sungai turut berkembang pada masa Kesultanan Serdang Darul Arif sebagai wilayah strategis yang menopang kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat.

Di tengah jejak sejarah tersebut, berkembang pula kepercayaan yang hidup di masyarakat. Sebagian warga meyakini air di bagian hulu Sungai Ular memiliki khasiat tertentu, seperti menjaga kecantikan dan membuat awet muda. Kepercayaan ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari cerita lokal yang masih dikenal hingga kini.

Kini, Sungai Ular tidak hanya dipandang sebagai sumber kehidupan, tetapi juga ruang yang menyimpan memori kolektif. Di antara aliran airnya, tersimpan kisah tentang kejayaan masa lalu, tragedi kemanusiaan, dan kepercayaan yang terus hidup dalam ingatan masyarakat.

Rekomendasi Berita