Dari Raja Basket hingga Hampir Bangkrut, Kisah Kebangkitan Converse
- 15 Feb 2026 18:10 WIB
- Medan
RRI.CO. ID, Medan - Tidak banyak merek olahraga yang pernah menguasai lapangan basket Amerika Serikat selama puluhan tahun. Salah satunya adalah Converse, yang pada pertengahan abad ke-20 hampir identik dengan olahraga basket di Amerika.
Dikutip dari jpsport.id, tonggak penting Converse terjadi pada 1917 ketika perusahaan tersebut meluncurkan Converse All Star sebagai sepatu khusus basket. Model berbahan kanvas dengan outsole berpola berlian itu menjadi standar sepatu basket pada masanya.
Popularitasnya semakin meningkat setelah bergabungnya Chuck Taylor pada 1921. Ia tidak hanya memberikan masukan desain untuk meningkatkan stabilitas dan fleksibilitas sepatu, tetapi juga aktif mempromosikan produk tersebut melalui klinik basket di berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Amerika Serikat. Pada 1932, namanya resmi disematkan pada ankle patch, menjadikan model ini dikenal sebagai Chuck Taylor All Star.
Selama beberapa dekade, Converse mendominasi pasar. Sepatu ini digunakan dalam Olimpiade periode 1936 hingga 1968 dan dikenakan sejumlah pemain legendaris seperti Larry Bird serta Julius Erving. Pada masa itu, Converse bukan sekadar merek, melainkan simbol basket profesional.
Namun, perubahan industri olahraga pada era 1980an menggeser dominasi tersebut. Kemunculan lini seperti Air Jordan menghadirkan teknologi baru serta strategi pemasaran berbasis atlet bintang yang agresif. Memasuki akhir 1990an, Converse kesulitan bersaing hingga akhirnya mengajukan kebangkrutan pada 2001.
Titik balik terjadi pada 2003 saat Nike mengakuisisi Converse. Alih-alih mengubah identitasnya secara drastis, strategi yang diambil justru mempertahankan desain klasiknya dan memposisikannya sebagai ikon lifestyle. Langkah ini membuat Converse kembali menemukan pasarnya, terutama di kalangan generasi yang menggemari gaya retro dan autentik.