Energi Kemandirian Difabel Aceh Tamiang, Wujudkan Mimpi Bersama
- 30 Okt 2025 09:29 WIB
- Medan
KBRN, Aceh Tamiang: Siang itu, di sebuah bengkel kecil di tepi Jalan Lintas Medan–Banda Aceh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, tangan Jumono tampak cekatan memutar baut motor tua. Sesekali ia menyeka keringat, lalu tersenyum kecil melihat hasil kerjanya. Berjalan menggunakan tongkat, tak membuatnya kehilangan semangat.
“Kalau dulu, jangankan pegang kunci, saya malah bingung cari kerja,” ujarnya pelan membuka cerita, Rabu (29/10/2025).
Empat tahun sudah bengkel yang dikelola para difabel itu menjadi semangat hidupnya. Sebelum mengenal bengkel difabel Rumah Kreatif Tamiang, warga Desa Rono, Kecamatan Tamiang Hulu ini bekerja serabutan.
Pria yang menjadi tuna daksa sejak usia 16 tahun ini, pernah menjadi buruh harian di perkebunan sawit, dan hidup dari upah seadanya. Kini, setelah bergabung dengan bengkel difabel, ekonominya jauh membaik.
“Dulu, mimpi saja rasanya nggak mungkin. Sekarang kami berani punya cita-cita. Anak-anak juga lihat, kalau ayahnya bisa kerja dan mandiri,” ucap pria berusia 44 tahun ini.
Bagi Jumono, bengkel difabel bukan sekadar tempat mencari nafkah, tapi juga wadah untuk menumbuhkan harapan. Tidak hanya mencukupi biaya hidup, ayah tiga anak ini bahkan bisa menyekolahkan anak-anaknya.
"Anak saya tiga, yang pertama kuliah di Langsa, yang lain masih SMA dan SMP. Alhamdulillah sekarang bisa saya biayai,” katanya tersenyum.
/6k0lovv0dan85ol.jpeg)
Nasib memperbaiki motor tua di bengkel difabel Rumah Kreatif Tamiang, Kabupaten Aceh Tamiang (Foto: RRI/Widya)
Harapan akan kehidupan yang lebih baik juga menjadi mimpi Nasib. Lulusan sekolah dasar ini sebelumnya bekerja sebagai buruh perkebunan, pemotong rumput, hingga pencangkul di ladang orang.
“Sebelum pelatihan, saya nggak tahu apa-apa soal mesin. Tapi karena niat dan kemauan, pelan-pelan saya bisa,” katanya mengenang awal perjalanan menjadi mekanik.
Perubahan hidup Nasib dan Jumono bermula saat mereka mengikuti pelatihan dari PT Pertamina EP Zona 1 Rantau Field. Dari pelatihan itulah, Pertamina membantu membangun bengkel difabel yang kini menjadi bagian dari Rumah Kreatif Tamiang.
Mulai dari alat hingga modal usaha, difasilitasi sepenuhnya oleh Pertamina. Dari sinilah cerita baru bagi para penyandang disabilitas di Kabupaten Aceh Tamiang dimulai.
“Kami nggak cuma kerja di sini, tapi juga belajar mengatur usaha. Hasil usaha dari bengkel ini kami bagi bersama. Saya bahkan sudah punya bengkel kecil di rumah,” ujarnya bangga.
Namun, perjalanan menuju kemandirian itu tidak selalu mudah. Stigma sosial terhadap difabel masih kerap membayangi.
“Dulu saya tidak percaya diri karena banyak stigma terhadap difabel. Tapi sekarang, saya merasa dihargai,” ucap pria kelahiran 30 Desember 1978 ini.
Ia berharap makin banyak perusahaan dan instansi membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas. Tanpa memandang kondisi fisik.
“Kami ingin aturan soal difabel benar-benar dijalankan. Kami berharap bengkel seperti ini makin banyak, supaya teman-teman difabel lain juga bisa kerja tanpa takut ditolak,” ujarnya penuh harap.

Jumono (kanan depan) bersama para mekanik bengkel difabel mengikuti pelatihan dari PT Pertamina EP Zona 1 Rantau Field (Foto: Dokumen Pertamina)
Program Rumah Kreatif Tamiang merupakan inisiatif PT Pertamina EP Zona 1 Rantau Field, yang tak hanya membangun bengkel difabel, tetapi juga membuka kafe inklusi.
Program ini lahir dari keprihatinan terhadap tingginya angka difabel di Aceh Tamiang, kabupaten dengan jumlah penyandang disabilitas tertinggi kedua di Provinsi Aceh.
“Awalnya kami berikan pelatihan untuk 60 difabel tentang mekanik. Lalu muncul gagasan mereka mau buat usaha, akhirnya kita bantu buatkan bengkel, dan ini yang pertama di Aceh Tamiang," kata Khairunnisa Diltha, Community Development Officer EP Rantau Field.
Melalui dukungan fasilitas publik dan peningkatan kapasitas, Pertamina membantu kaum difabel mendapatkan ruang aman, ramah, dan produktif.
"Harapannya, mereka bisa berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi,” ucap Khairunnisa.
Sejak dibangun pada 2021, bengkel difabel Rumah Kreatif Tamiang telah menjadi simbol semangat baru bagi kaum difabel. Dari ruang kecil di pinggir jalan, kini tumbuh rasa percaya diri dan solidaritas di antara para penyandang disabilitas. Mereka kini tak lagi hanya menunggu bantuan. Tapi justru menciptakan peluang, untuk mewujudkan mimpi bersama.
“Sekarang kami berani bermimpi. Bengkel ini bukan hanya tempat kerja, tapi tempat kami belajar arti kemandirian,” kata Jumono menutup percakapan siang itu dengan senyum hangat.