Menggali Potensi Enceng Gondok, Dari Limbah Jadi Berkah

  • 04 Sep 2025 19:36 WIB
  •  Medan

KBRN, Medan: Enceng gondok merupakan tanaman yang sangat mudah kita jumpai di Kawasan Danau Toba. Tanaman ini bisa dikatakan sebagai limbah karena sifatnya yang bisa mengganggu ekosistem di sekitarnya. Sebagai Perusahaan yang memiliki inisiatif melestarikan Danau Toba, PT Inalum membuat sebuah program pemanfaatan limbah enceng gondong yang tidak hanya berguna bagi ekosistem di danau toba namun juga memiliki nilai jual yang tentunya menambah income bagi Masyarakat sekitar.

Corporate communication PT Inalum, Gilang Sukma mengatakan bahwa Perusahaan tidak hanya membantu masyakat menanggulangi limbah enceng gondok, namun juga memberikan pendampingan kepada Masyarakat agar produk mereka bisa laku terjual.

“ Inalum dan rumah BUMN berkolaborasi melakukan pendampingan terhadap pelaku usaha kreatif enceng gondok. Jadi produknya gak Cuma di pakai sendiri saja tapi juga bis dijual.pendampingan yang dilakukan Inalum meliputi sertifikasinya, kepelatihan, serta marketing”ucap Gilang saat diwawancara reporter rri.co.id Rabu, (27/08/2025).

Gilang juga mengatakan bahwa CSR Inalum merupakan program sustainability. Program tersebut berfokus pada penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi serta expansi usaha. Selain itu Inalum juga melakukan evaluasi. terhadap penerima bantuan. Dari hasil evaluasi akan mementukan apakah kerjasama akan dilanjutkan atau tidak.

Hal senada juga di sampaikan Iqbal Sidabutar, VP CSR PLTA, Program ini secara langsung telah memberdayakan kelompok ibu rumah tangga di Desa Sitanggang Bau, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Narapidana di Lapas Pangururan, Ibu Rumah Tangga di daerah Tomok, yang dimana pemanfaatan limbah eceng gondok ini sangat terbantu. Jadi sangat banyak masyarakat yang terbantu dengan adanya pemanfaatan limbah eceng gondok ini.

“Pemanfaatan eceng gondok membuka peluang kerja baru bagi masyarakat, terutama ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak bekerja. Melalui pelatihan dan pendampingan, mereka dapat mengembangkan keterampilan dalam pembuatan produk kerajinan, seperti sandal dan cover buku, yang kemudian dipasarkan secara lokal maupun online. Dengan demikian, program ini berkontribusi pada pengurangan pengangguran dan peningkatan ekonomi keluarga di daerah tersebut.” Ujar Iqbal.

Produk utama yang dihasilkan oleh UMKM ini meliputi sendal eceng gondok, cover book, topi anyaman, tempat pensil, tas, box anyaman dll. Produk-produk ini dipasarkan melalui berbagai saluran,yang pertama yaitu ke hotel – hotel dan homestay yang ada di sekitaran Danau Toba, melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok. Selain itu, UMKM ini juga aktif mengikuti pameran di sekitar Kabupaten Samosir untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat luas.

Salah seorang penerima manfaat pengolahan enceng gondok Adalah ibu Sumondang. Ia merasa program ini sangat berpotensi menggerakkan ekonomi karena enceng gondok merupakan gulma yang bisa dibuat menjadi ecraft seperti sendal yang banyak di didistribusikan ke hotel – hotel sekitar Danau Toba.

“awalnya masyarakat memanfaatkan enceng gondok ini sebagai pupuk.namun sejak saya memanfaatkan encek gondok menjadi sendal banyak juga yang memanfatakan menjadi barang -barang lainnya. Saya mempekerjakan secara Borongan. Ada yang mengambil enceng gondok, ada yang menganyam, ada yang memotong," katanya.

Ibu Sumondang mengatakan meski budaya mengnyam sudah menjadi kebiasaan Masyarakat Toba namun berbeda dengan anyaman ecraft yang harus melalui pelatihan terlebih dahulu. Banyak produk ecraft dari enceng gondok yang sudah dihasilkan oleh ibu Sumondang misalnya sendal hotel, dompet, keranjang, box anyaman, cover book, dan lain -lain.

Harga jual yang sangat murah membuat ibu Sumondang mencari berbagai ide untuk lebih meningkatkan nilai ekonomi yang di buat dari bahan enceng gondok. Ia mulai terpikir untuk membuat tenun ikat. Berawal dari sebuah pemberian seorang teman. Ibu Sumondang mengatakan bahwa membuat tenun ikat dari tenun ikat ini mengurangi tahapan produksi.

“ saya berharap semoga suatu saat nanti ada program dari inalum ataupun dari yang lainnya, tetapi harapan saya dari Inalum bisa memberikan kami pelitan untuk membuat tenun ikat dari enceng gondok karena punya nilai yang lebih tinggi disbanding sendal," ucap buk Sumondang.

Harapan buk Sumondang bukan tanpa alasan. Harga jual sendal encek gondok saat ini ia jual dengan harga enam ribu rupiah per pasang. Akan sangat lebih menguntungkanjia ia bisa membuat tenun ikat dari enceng gondok yang nilainya bis berkali lipat, atau sekitar dua ratus ribu rupiah per meternya.

Bukan tidak mungkin Upaya ibu Sumondang menggali potensi enceng gondong bisa mengubah ekonomi Masyarakat sekitar Danau Toba sekaligus menyelamatkan lingkungan terutama ekosistem Danau Toba.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....