75 Tahun Tiongkok-Indonesia, Menghidupkan Kembali Semangat Bandung
- 15 Apr 2025 15:08 WIB
- Medan
KBRN, Medan: Tahun 2025 menjadi tonggak penting dalam sejarah hubungan diplomatik Tiongkok dan Indonesia. Tepat 75 tahun lalu, pada 13 April 1950, Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang secara resmi menjalin hubungan dengan Republik Rakyat Tiongkok. Lebih dari sekadar catatan diplomatik, hubungan kedua negara telah menjadi model kemitraan strategis antara negara-negara berkembang yang tumbuh dalam semangat solidaritas, saling menghormati, dan pembangunan bersama.
Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan, Zhang Min, dalam artikelnya berjudul “Menyemarakkan Semangat Bandung, Bersama Menciptakan Masa Depan Indah” yang diterima RRI pada Minggu (13/4/2025) menegaskan bahwa hubungan Tiongkok-Indonesia telah berkembang melampaui kerja sama bilateral konvensional. Ia menekankan pentingnya memperkuat hubungan antar masyarakat, nilai-nilai budaya Asia, serta kerja sama sebagai negara Global South yang memiliki kepentingan dan tantangan bersama.
“Tiongkok dan Indonesia akan memanfaatkan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik sebagai peluang untuk memperdalam pembelajaran antarperadaban dan memperkuat persahabatan antarmasyarakat,” ujar Zhang.
Salah satu pilar utama hubungan ini adalah warisan dari Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1955. Konferensi itu memperkenalkan Semangat Bandung yang berlandaskan prinsip-prinsip perdamaian, solidaritas, dan kerja sama tanpa campur tangan asing. Tiongkok, melalui Perdana Menteri Zhou Enlai, bersama Presiden Soekarno, menjadi pelopor dari “Sepuluh Prinsip Bandung”, yang mengakar dari Lima Prinsip Hidup Berdampingan Secara Damai.
“Prinsip-prinsip ini tetap relevan hingga hari ini, menjadi dasar norma hubungan internasional yang inklusif dan universal,” jelas Zhang Min.
Meskipun berbagai tantangan regional dan global telah mewarnai hubungan kedua negara, semangat tersebut tetap menjadi fondasi kokoh dalam menjalin diplomasi yang saling menguntungkan.
Momentum besar kembali terjadi pada November 2024 ketika Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok dan bertemu dengan Presiden Xi Jinping. Dalam kunjungan tersebut, kedua negara menandatangani Pernyataan Bersama tentang Peningkatan Kemitraan Strategis Komprehensif dan Pembentukan Komunitas Senasib Sepenanggungan.
Transformasi pola kerja sama dari skema ‘penggerak empat roda’ menjadi kemitraan ‘lima pilar’ menandai dimasukkannya bidang keamanan sebagai dimensi baru kerja sama bilateral.
“Kedua pihak mencapai konsensus penting tentang pengembangan bersama maritim, memperkuat rasa saling percaya di bidang keamanan, dan membawa hubungan ke tingkat yang lebih dalam dan lebih tinggi,” kata Zhang.

Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok, Zhang Min (kanan), bersama Gubernur Provinsi Sumatera Utara, Bobby Nasution (kiri) (Foto: Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok)
Dalam sektor ekonomi, Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama 12 tahun berturut-turut, dengan total volume perdagangan pada 2024 mencapai USD 135,1 miliar, naik 5,7% dari tahun sebelumnya. Selain itu, Tiongkok merupakan salah satu dari tiga sumber investasi terbesar di Indonesia selama sembilan tahun terakhir.
Proyek kerja sama seperti Kereta Cepat Jakarta-Bandung, PLTS Terapung Cirata, PLTS Karawang, dan PLTA Batang Toru menjadi contoh konkret kontribusi Tiongkok dalam transformasi energi hijau Indonesia.
“Proyek-proyek ini tidak hanya menghubungkan kota, tetapi juga mentransformasikan masa depan Indonesia menuju ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan,” ujar Zhang.
Di bidang teknologi dan ekonomi digital, kerja sama mulai menyentuh wilayah strategis baru, seperti infrastruktur telekomunikasi, e-commerce lintas negara, dan pengembangan startup inovatif.
Pertukaran humaniora berjalan aktif dan landasan opini publik semakin kokoh. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, jumlah wisatawan Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2024 mencapai sekitar 1,5 juta (termasuk Daerah Admnistrasi Khusus Hong Kong dan provinsi Taiwan).

Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok, Zhang Min (tiga dari kiri), bersama Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Prof.Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si (lima dari kanan), usai melaksanakan Kuliah Umum di USU (Foto: USU TV)
Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok juga mengungkapkan bahwa semakin banyak universitas di Tiongkok yang membuka jurusan bahasa Indonesia, dan pengajaran bahasa Mandarin di Indonesia juga sedang berkembang pesat. Berbagai festival budaya dan pameran seni yang diselenggarakan oleh universitas dan lembaga swadaya masyarakat kedua negara berkembang di mana-mana.
Kegiatan lintas budaya seperti pertunjukan Guqin dan Tarian Saman, pelatihan wushu, serta kolaborasi institusi pendidikan telah membentuk jembatan pemahaman antargenerasi.
“Kisah persahabatan antara kedua bangsa tidak lagi terbatas pada ruang diplomatik, tetapi hidup dalam interaksi masyarakat sehari-hari,” katanya.
Dalam panggung global, Tiongkok dan Indonesia menempatkan diri sebagai kekuatan yang memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang. Koordinasi dalam forum multilateral seperti PBB, APEC, G20, serta kolaborasi dalam kerangka BRICS menjadi wujud dari komitmen terhadap tatanan dunia yang lebih adil.

Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, menghadiri konferensi pers mengenai kebijakan luar negeri dan hubungan eksternal negaranya di sela-sela sesi ketiga Kongres Rakyat Nasional (NPC) di Beijing, Jumat (7/3/2025). Dalam kesempatan tersebut, Menlu Wang Yi menyampaikan ucapan Selamat kepada Indonesia atas bergabungnya Indonesia sebagai anggota BRICS (Foto: Xinhua/ Chen Yehua)
Zhang menyoroti bahwa bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS dan New Development Bank memberikan sinyal penting terhadap pergeseran geopolitik dunia yang semakin multipolar.
“Indonesia kini bukan hanya kekuatan regional, tetapi juga aktor penting dalam struktur keuangan dan politik global yang sedang berubah,” katanya.
Dunia menghadapi berbagai tantangan global saat ini, mulai dari unilateralisme, proteksionisme, konflik regional, hingga isu keamanan non-tradisional seperti perubahan iklim dan pandemi. Namun ia percaya bahwa dengan bersatu dalam solidaritas dan kerja sama, negara-negara Global South dapat memainkan peran penting dalam mendorong reformasi tata kelola dunia.
Tiongkok sendiri, melalui modernisasi “ala Tiongkok”, mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5% dan kontribusi 30% terhadap pertumbuhan ekonomi global pada 2024. Inovasi di bidang AI, komputasi kuantum, hingga biomedis menjadi motor dari pembangunan berkualitas tinggi.
“Berjalan bersama Tiongkok berarti berjalan bersama kesempatan berharga. Kami siap menyinergikan modernisasi Tiongkok dengan visi Indonesia Emas 2045,” ungkap Konjen Zhang Min.
Menutup refleksinya, Zhang mengajak Indonesia dan negara-negara Global South lainnya untuk tetap berpijak pada nilai-nilai Semangat Bandung dan Lima Prinsip Hidup Berdampingan Secara Damai dalam menyusun tatanan dunia baru yang lebih adil.
“Tren umum dunia semakin besar dan tak terhentikan. Mari kita tulis babak baru yang lebih gemilang dalam hubungan Tiongkok-Indonesia dan menciptakan masa depan yang lebih indah bagi umat manusia,” tulis Zhang Min.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....