Pentingnya Program Makan Bergizi, Tantangan dan Solusi Pangan Lokal Sehat

  • 04 Mei 2026 09:21 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Program Makan Bergizi Gratis hadir sebagai intervensi langsung. Bukan sekadar “bagi makanan”, tapi investasi SDM. Anak yang kenyang dengan gizi seimbang terbukti: kehadiran sekolah naik, daya tangkap pelajaran meningkat, dan risiko putus sekolah turun.

Bukti lapangan nyata dari Dapur SPPG Kota Datar 1 Kec. Hamparan Perak ,Deli Serdang, kemudain Dapur - dapur SPPG di bawah Dampingan Yayasan Binar bersama hirasma sejak ber oprasional sudah memberlakukan wajib menu daging setiap minggu.

Menu ikan, ayam, telur, tahu tempe, dan susu. Berbeda dengan dapur SPPG kami yang ada di Kabupaten Labuhan Batu Selatan yang membeli Lembu untuk di jadikan menu MBG menjadi Tulang Iga dan dalaman lembu dijadikan sop untuk menu anak2 di sekolah, dan setiap jumat memberikan menu udang, sabtu susu .

Kendala di Lapangan: Ketika Niat Baik Terganjal Oknum di lapangan, program semulia ini kadang tersandung 3 masalah klasik:

  1. Perilaku Oknum Pemegang Kendali
    Ada temuan mark-up harga bahan, menu tidak sesuai standar gizi tapi dilaporkan “lengkap”, hingga pemotongan porsi. Praktik ini membuat dana besar tidak sampai ke piring anak. Dampaknya fatal: anak tetap kurang gizi, kepercayaan publik ke program rusak, dan petani/UMKM lokal yang seharusnya jadi pemasok jadi korban.
  2. Lonjakan Harga Bahan Baku
    Dagung,telur, ayam, ikan, bumbu, dan beras sering naik-turun tak terduga. Saat anggaran porsi sudah dikunci, dapur MBG dipaksa memilih: porsi dikurangi, kualitas diturunkan, atau mitra Dapur SPPG yang nombok. Yang paling sering jadi “korban” adalah sayur dan protein. Padahal dua komponen ini kunci cegah stunting.
  3. Rantai Pasok Rentan
    Ketergantungan pada pasar induk membuat dapur MBG kalah cepat kalau ada gagal panen atau distribusi terganggu. Akibatnya menu tidak konsisten.

Solusi: Mandiri Pangan dari Hulu, Sehatkan dari Kebun Sendiri

Agar program tahan guncangan harga dan bebas permainan oknum, kuncinya ada di bahan baku lokal, sehat, dan terkontrol:

  1. Sayuran Non-Pestisida: Hidroponik & Pekarangan Pangan
    Sayur hidroponik atau dari kebun pekarangan sekolah punya 3 keunggulan:
    • Harga stabil: Tidak ikut fluktuasi pasar karena dipanen sendiri/oleh mitra tani tetap.
    • Bebas residu pestisida: Aman untuk ginjal dan tumbuh kembang anak.
    • Panen cepat: Kangkung 21 hari, pakcoy 30 hari.bayam 25 hari, sawi manis 25 hari Cocok untuk kebutuhan dapur harian.
      Yayasan Binar Bersama Hirasma sudah membuktikan: dengan kontrak langsung ke petani hidroponik Medan, dan kualitas lebih terjaga.
  2. Jamur Tiram: Protein Murah, Gizi Mewah
    Saat harga ikan , daging, ayam/telur naik, jamur tiram jadi “penyelamat gizi”.
    • Protein: 10,5 gr/100 gr jamur kering, setara tempe.
    • Zat besi & Zinc: Penting untuk cegah anemia dan dukung imun anak.
    • Budidaya mudah: Panen 40 hari, bisa di pekarangan, tidak butuh lahan luas. Dan harga terjangkau .
      Menu: sate jamur, tumis jamur teriyaki, nugget jamur. Jamur krispi Anak suka karena teksturnya mirip daging, biaya produksi dapur MBG lebih hemat.
  3. Transparansi + Kemandirian = Benteng Anti-Oknum
    • Digitalisasi: Menu harian, foto porsi, dan harga bahan diupload ke dashboard yang bisa diakses publik/donatur.
    • Kemitraan langsung: Potong rantai tengkulak. Yayasan dan Dapur SPPG kontrak langsung dengan kelompok tani hidroponik, peternak susu dan pembudidaya jamur.
    • Dapur Edukasi: Libatkan wali murid dan siswa kelola kebun gizi. Ketika semua ikut mengawasi dan merasakan hasil, ruang untuk “bermain” oknum jadi sempit.

Penutup: Dari Piring Anak untuk Kedaulatan Pangan

Program Makan Bergizi Gratis tidak akan berkelanjutan kalau terus-menerus bergantung pada harga pasar dan niat baik perorangan. Solusinya adalah ekosistem: dapur MBG tersambung langsung dengan kebun sehat dan peternak susu di sekitarnya. Hidroponik dan jamur tiram bukan sekadar menu, tapi strategi kemandirian.

Generasi muda Indonesia berhak atas makanan yang bersih, bergizi, dan jujur. Tugas kita memastikan setiap rupiah program benar-benar jadi protein di tubuh mereka, bukan jadi bancakan di tengah jalan.

Penulis:

1. Amru Siregar, SH selaku Ketua Pembina Yayasan Binar Bersama Hirasma, Sekaligus Ketua JARNAS 98 Sumut.

2. Binsar Tua Ritonga, Selaku Pembina Yayasan Binar Bersama Hirasma dan Ketua Serikat Tani Nelayan Prov. Kalimantan Barat .

3. Indra Mada Ritonga, Pembina Yayasan Binar Bersama Hirasma , sekaligus Sekretaris Lembaga Pemberdayaan Masyarakat ( LPM ) Sumut.

4. Yudhi Ramadhan, ST selaku

Ketua Yayasan Binar Bersama Hirasma.

5. Melva Sibarani, selaku Bendahara Yayasan Binar Bersama Hirasma.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....